Berita / Utama

Prof. Ben L. Feringa: Science is an Adventure into the Unknown

Adi Permana - Selasa, 24 Maret 2020, 17:49:28 - Diperbaharui : Senin, 11 - Mei - 2020, 12:26:22

BANDUNG, itb.ac.id — Peraih Nobel Prize dalam bidang Kimia, Prof. Ben L. Feringa berbagi cerita dan pengalaman menjadi seorang scientist dalam kuliah umum saat acara Dies Natalis ke-61 Institut Teknologi Bandung di Sabuga, Senin 2 Maret 2020 lalu. Ben L. Feringa berhasil menciptakan man-made molecular motor yang pertama di dunia pada tahun 1999 dengan durasi penelitian selama 25 tahun. Hal itulah yang mengantarkannya meraih penghargaan Nobel Prize yang ternyata sebelumnya telah diprediksi oleh serial The Simpson pada tahun 2011.



Molecular motor adalah mesin penggerak yang berasal dari molekul yang mampu melakukan rotasi terarah kontinu di bawah input energi. Molecular motor pertama di dunia berukuran 1 nm dan mendapatkan energi yang berasal dari cahaya. Menurut Prof. Ben, itu pertama kalinya manusia mampu menciptakan suatu molekul yang mampu bergerak sendiri dengan gerakan yang terarah dan kontinu. “Gerakan tersebut awalnya terinspirasi dari bagaimana bulan berotasi terhadap bumi,” ujar Prof. Ben.

Profesor di Universitas Groningen, Belanda ini juga menyebutkan aspek terpenting dalam molecular motor selanjutnya adalah bagaimana molekul tersebut berada dalam keseimbangan. Saat ini molecular motor belum memiliki aplikasikan tertentu, namun nantinya diharapkan bisa dijadikan sebagai alat untuk bacterial resistance, cancer treatment atau pengobatan lainnya. “Mungkin 50 tahun dari sekarang akan ada nano robot yang diciptakan untuk tubuh manusia yang mampu menyuntikkan senyawa yang mampu menyembuhkan penyakit,” prediksinya.

Dengan adanya suatu senyawa photocontrolled antibiotic, atau antibiotik yang pergerakannya dipengaruhi cahaya ini diharapkan antibiotik tersebut bisa bekerja di dalam tubuh. Namun, saat ini masih terkendala dalam menemukan bagaimana caranya molekul di dalam tubuh mendapatkan pencahayaan. “Terpaparnya cahaya visible (tampak) ke dalam tubuh bisa berbahaya apabila dilakukan secara terus menerus oleh karena itu kita membutuh sinar infra merah yang memiliki energi lebih rendah dari sinar cahaya tampak dan tidak berbahaya bagi tubuh,” lanjutnya.

Profesor yang mengaku berasal dari keluarga petani juga pernah melakukan percobaan bersama mahasiswa bimbingannya terkait molecular motor. “Kami mengambil nano material yang terdapat di ponsel, kemudian memasukannya ke dalam molecular motor dan dilapisi kaca. Hasilnya, material tersebut dapat bergerak secara automatis dan arah tertentu,” ujarnya.

Penelitian ini bisa menjadi awal untuk membuat responsive materials (material yang mampu bergerak dengan adanya induksi seperti perubahan cahaya, pH atau temperatur), smart drugs, molecular machines dan soft robotics. Dijelaskannya, contoh aplikasi responsive materials ini akan mampu melakukan self-cleaning. “We (scientists) are molecular acrhitect and molecular engineer,” jelas Prof. Ben L. Feringa.

Pada akhir kuliah umumnya yang berjudul The Joy of Discovery tersebut, Prof. Ben kembali menegaskan betapa banyaknya keindahan dalam dunia sains yang saat ini belum ditemukan. Ia menyampaikan bahwa seorang scientist tidak boleh takut dengan kegagalan. “Kita harus berani membayangkan yang tak terbayangkan, dan menghadapi fakta bahwa kita harus berhadapan dengan tiga hal yaitu excitements, failures, and uncertainty,” tuturnya. ”Science is an adventure into the unknown, entering an uncharted territory of astonishing beauty, surprises and amazing perspectives,” pesannya.

Reporter: Salsabila Tantri Ayu (Kimia, 2016)