Berita / Utama

Seminar EUREKA ITB 2018 : Belajar Bereksperimen dengan Hal Sederhana

Sitti Mauludy Khairina - Selasa, 23 Januari 2018, 22:11:59 - Diperbaharui : Kamis, 1 - Februari - 2018, 13:55:00

BANDUNG, itb.ac.id – Himpunan Mahasiswa Fisika (HIMAFI ) ITB mempersembahkan Grand Final Eureka : Innovation for A Better Nation  sebagai acara puncak dari lomba-lomba yang telah dilaksanakan sebelumnya. Salah satu rangkaian acaranya ialah seminar yang dibawakan oleh Drs. Alexander Agustinus P. Iskandar, Ph.D., Anggota Kelompok Keahlian Fisika Magnetik dan Fotonik ITB. Seminar yang diselenggarakan di Aula Timur ITB pada Sabtu (20/01/18) ini bertajuk “Melakukan Eksperimen yang Baik dan Benar”. 

Acara yang diawali dengan sambutan dari Ketua Program Studi Sarjana Fisika, Dr. Widayani, dan Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB, Prof. Edy Tri Baskoro, M.Sc., Ph.D., ini dimulai pukul 09.00 WIB. “Kita harus siapkan untuk mempunyai kemampuan inovatif, adaptif, dan kemampuan belajar dengan cepat.” ungkap dekan FMIPA.

Kemudian, dilanjutkan dengan pemaparan komprehensif oleh Drs. Alexander. Dosen yang masih aktif mengajar ini menjelaskan bahwa fisika merupakan ilmu yang berbasis eksperimen. Seperti yang dilakukan ilmuwan abad ke 15-16, Galileo Galilei, yang membuktikan melalui eksperimennya bahwa benda yang dijatuhkan dari ketinggian tertentu akan memiliki percepatan yang sama terlepas berapapun nilai massanya. Hal tersebut berhasil meruntuhkan pemikiran filsuf legendaris, Aristoteles, yang menyatakan bahwa benda yang lebih berat akan jatuh lebih cepat dibandingkan dengan benda yang lebih ringan. “Dari eksperimen, kita belajar sesuatu.” ungkap pria yang mengidolakan ilmuwan Michael Faraday ini.


Berangkat dari keberhasilan-keberhasilan eksperimen para ilmuwan terdahulu, Drs. Alexander meyakini bahwa untuk menyelesaikan masalah melalui eksperimen itu kuncinya ialah melakukan eksperimen tersebut dengan baik dan benar. Drs. Alexander memaparkan bahwa eksperimen dilakukan tak hanya untuk membuktikan suatu konsep, tetapi dapat juga untuk menentukan besaran fisik dan konstanta alam atau menentukan parameter dominan dari suatu fenomena. Ketika sudah jelas tujuan yang ingin dicapai, langkah berikutnya ialah mempersiapkan peralatan dan kondisi yang diperlukan. Kemudian, dalam bereksperimen, perlu ditentukan parameter yang memengaruhi nilai atau besaran yang sedang kita ukur dan berikutnya satu demi satu parameter divariasikan hingga akhirnya diperoleh hubungan satu parameter dengan parameter lainnya.



Ketika sudah diperoleh data yang bervariasi, tahap berikutnya ialah menganalisis dan menyimpulkan dengan tepat. Drs. Alexander mencontohkan langkah menganalisis dengan menggunakan tabel juga grafik untuk memudahkan dalam menyimpulkan eksperimen. Setelah selesai, hasil yang diperoleh pun dapat segera dilaporkan.“Eksperimen fisika tidak perlu canggih, asalkan baik dan benar,” pungkas pria yang menyelesaikan S3-nya di Inggris ini. Peserta semakin yakin bahwa eksperimen fisik itu dapat dilakukan dengan modal seadanya dan sesederhana mungkin setelah Drs. Alexander mensimulasikan eksperimen fisika sederhana di hadapan peserta menggunakan botol plastik minuman yang berisi air. Peserta dari kalangan siswa-siswi SMA turut berpartisipasi dalam melakukan eksperimen mengenai penyimpangan Hukum Toricelli ini. Data yang diperoleh kemudian diolah melalui perangkat lunak Microsoft Excel hingga akhirnya dapat terbukti penyimpangan Hukum Toricelli. Di penghujung sesi, Drs. Alexander berpesan kepada para peserta untuk selalu menjadi siswa yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan mulai melakukan eksperimen, gunakan apa yang ada dan mulai dari hal yang sederhana. “Kalau kita punya kesulitan, kita tidak mengerti, ya kita ciptakan sendiri!” tutupnya.