Berita / Akademik

Muhammad Al-Kahfi, Wisudawan Terbaik ITB Yang Lulus Dengan Nilai Nyaris Sempurna

Fivien Nur Savitri, ST, MT - Sabtu, 7 April 2018, 21:19:25 - Diperbaharui : Sabtu, 14 - April - 2018, 10:28:58

BANDUNG, itb.ac.id – Muhammad Al-Kahfi, wisudawan sarjana Institut Teknologi Bandung (ITB) patut berbangga. Pasalnya, pada Upacara Wisuda Kedua ITB Tahun Akademik 2017/2018, sabtu (7/4/2018), ia adalah wisudawan dengan IPK tertinggi di ITB. Tidak tanggung-tanggung, IPK yang diraihnya mendekati angka sempurna, 3.96 dari 4.00. 

Prestasi yang membanggakan ini ternyata bukanlah yang pertama baginya. Segudang prestasi pernah ia raih selama masih menjadi mahasiswa ITB. Menggemari bidang Matematika, Kahfi tercatat pernah masuk sebagai finalis Olimpiade Sains Nasional (OSN) Pertamina di bidang Matematika saat duduk di Tahap Persiapan Bersama (TPB) ITB.


Olimpiade matematika sendiri sebenarnya sudah pernah diikuti Kahfi sejak duduk di kelas empat Sekolah Dasar. Sampai saat  menjadi siswa SMA Negeri 1 Padang Panjang, ia berhasil meraih medali emas pertamanya di OSN 2012 di Jakarta. Kegemaran Kahfi kepada ilmu matematika diakuinya sejak masih Taman Kanak-Kanak (TK). Kedua orang tuanya mengaku melihat potensi Kahfi yang luar biasa di bidang matematika sejak masih TK. Kahfi terlihat memahami matematika lebih cepat dibandingkan anak-anak seusianya. Tak heran bila Kahfi kecil yang masih duduk di TK, sudah mengenal ilmu matematika untuk anak Sekolah Dasar.


Pria kelahiran tahun 1996, Padang Panjang Sumatera Barat, ini juga pernah mengikuti ON MIPA PT (Olimpiade Nasional Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Perguruan Tinggi) yang diselenggarakan Kemenristekdikti dan berhasil meraih medali emas dengan gelar Absolute Winner. Gelar ini yang kemudian mengantarkan dirinya menjadi kandidat Indonesia untuk mengikuti kejuaraan International Math Challenge for University di Bulgaria dan memperoleh medali emas pada tahun 2015.


Tahun 2016, Kahfi bersama rekan-rekannya mengikuti Calculus World Cup di Taiwan dan lagi-lagi ia berhasil membanggakan dengan meraih juara 3. Atas prestasinya yang berturut-turut itu, Kahfi dinobatkan ITB menjadi Mahasiswa Berprestasi Tahun 2017. Kahfi kemudian mewakili ITB untuk mengikuti pemilihan Mahasiswa Berprestasi Tingkat Nasional. Di tingkat nasional, ia kembali membanggakan dengan meraih juara tiga.


Kahfi mulai menyusun TA (Tugas Akhir) untuk program Sarjana matematikanya di tingkat tiga, satu tahun lebih cepat dari yang seharusnya. Meskipun sempat berganti topik TA  yang awalnya Matematika Murni dan berganti menjadi Matematika Terapan bidang Keuangan,  Kahfi akhirnya berhasil menyelesaikan penulisan TA-nya  dengan judul “Harga Opsi Barier Satu dan Dua Aset dengan Menggunakan Prinsip Refleksi”. Di bawah bimbingan Prof. Marcus Wono Setya Budi, tugas akhirnya dinilai dapat memberikan solusi matematis untuk meminimalisasi resiko rugi di bursa saham dengan menerapkan prinsip refleksi. Tugas Akhir ini disidangkan pada bulan Januari 2018, sampai akhirnya dirinya dinyatakan lulus sebagai sarjana matematika ITB.


Selama menjadi mahasiswa, tentunya banyak suka duka yang alami Muhammad Al-Kahfi. Mulai dari tahap penyesuaian sebagai perantau di Kota Bandung yang menuntut dirinya harus hidup secara mandiri. Berprestasi di berbagai kejuaraan matematika dan meraih nilai akademis yang hampir seluruhnya sempurna merupakan tantangan tersendiri bagi Kahfi. Semua itu diakuinya berhasil dilewatinya dengan kerja keras, doa kedua orang tua, serta dukungan orang-orang di sekitarnya. 


“Hari ini bukanlah akhir dari perjuangan kita. Wisuda ini merupakan awal dari perjuangan kita yang sebenarnya. Apapun pekerjaan kita sekarang, apapun impian dan cita-cita ke depan, semoga kita senantiasa bermanfaat bagi sesama dan dapat menjaga nama baik serta menjadi kebanggaan almamater kita tercinta,” ujarnya saat menyampaikan kata perpisahannya mewakili seluruh wisudawan sarjana. Ia berharap bahwa menjadi alumni ITB tidak cukup hanya menunjukkan kualitas intelektual, tetapi juga menunjukkan integritas moral yang baik, sehingga dapat menjadi suri tauladan di manapun berada.


Penulis: Irfan Ibrahim (Teknik Geodesi dan Geomatika 2016)