Berita / Akademik

Bienvenu Randriantsalama, Mahasiswa Asing Asal Madagaskar yang lulus pada Oktober 2018

Adi Permana - Sabtu, 20 Oktober 2018, 09:03:43 - Diperbaharui : Sabtu, 20 - Oktober - 2018, 09:09:00

BANDUNG, itb.ac.id – ITB meluluskan 2.633 orang Sarjana, Magister dan Doktor pada Sidang Terbuka Wisuda Pertama Tahun Akademik 2018/2019 dalam 3 sesi tanggal 19 dan 20 Oktober 2018.



Diantara sejumlah wisudawan tersebut terdapat 10 wisudawan asing yaitu, Win Pyae Htet dari Myanmar, Bienvenu Randriantsalama dan Ramandasoavina Blanchard dari Madagascar, Park Myunggong dan Kim Kyumin dari Korea Selatan, Roeuy Leapheng dari Kamboja, Lili Dong dari China, Michelle Yit dan Banupriya Subramaniam dari Malaysia, serta Kana Yamamoto dari Jepang. 

Bievenu Randriantsalama adalah salah seorang wisudawan asing yang ditemui humas ITB dari Program Magister Teknik dan Manajemen Industri Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITB. Ia akan resmi menyandang gelar sebagai Magister Teknik pada Sidang Terbuka Wisuda sesi 3 hari Sabtu (20/10/2018). 

Manu, sapaan akrabnya, mengaku awalnya ia di hadapkan pada tiga pilihan melanjutkan kuliah, antara di Rusia, China atau Indonesia. Institut Teknologi Bandung menjadi pilihannya setelah ia mencoba mencari tau melalui internet. “ITB adalah salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia, jadi aku pilih ITB dan diterima,” ujarnya

Berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia menjadi tantangan bagi Pria berusia 31 tahun itu. “Aku kadang tidak mengerti sehingga harus menggunakan bahasa Inggris, dan google translate,” kenang Manu sambil tertawa.
 
Saat ditanya mengapa ia memilih melanjutkan teknik manajemen industri, ia mengatakan ilmu manajemen melengkapi kemampuan tekniknya. "Salah satu dosen (S1) ku mengatakan padaku untuk belajar manajemen karena kemampuan teknik tidaklah cukup untuk hidup dalam masyarakat, khususnya perusahaan,” ujarnya.

Jauh dari tempat dimana ia berasal, menjadikan dirinya dapatkan banyak pengalaman dan menemukan hal-hal baru di Indonesia.
Tak hanya soal bahasa, Manu juga harus belajar adat istiadat dan budaya masyarakat Bandung termasuk dalam menggunakan moda transportasi umum.

Saat tiba pertama kali di Bandung, kesan terhadap makanan di kota ini baginya terlalu 'panas'. ”Kami tidak biasa makan pedas jadi pertama kali sampai sini agak susah, aku harus masak sendiri. Tapi kini sudah terbiasa,” kata penggemar capcay ini.

Meski ia harus berusaha beradaptasi dan berkomunikasi dalam tiga bahasa, yaitu Perancis, Inggris dan Indonesia, ia merasa sangat bersyukur bisa berkuliah di ITB.

“Dosen-dosen di ITB sangat membantu. Mereka ingin kamu berhasil, mereka memotivasi kamu. Kalau kamu punya masalah, kamu bisa meminta bantuan mereka,” ujarnya. 

Karena materi kuliah di ITB juga dalam Bahasa Inggris, maka Manu bisa belajar dengan cepat. “Tapi karena kami terbiasa berbicara Bahasa Perancis di negaraku, aku harus belajar mempraktikkan Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Aku pakai 3 bahasa selama belajar,” ucapnya sembari tertawa bahagia.

Manu berpesan pada mahasiswa lain untuk berani menimba ilmu hingga ke luar negeri. “Setiap mahasiswa, ketika kamu belajar, pikirkan masa depanmu, pergilah ke luar untuk meningkatkan diri,” ujarnya. Menurutnya, mahasiswa harus menikmati setiap waktu yang dimiliki. “Jangan terlalu banyak mengeluh karena masalah yang kamu temui itu sesungguhnya akan membuatmu berkembang. Jadi, nikmati waktumu karena waktu amatlah singkat,” pungkasnya.

Reporter: Ahmad Fadil