ITB Siap Membuka Program Profesi Insinyur Mulai Januari 2017

Muhammad Arief Ardiansyah - Selasa, 20 Desember 2016, 10:51:05 Lihat foto berita ini
BANDUNG, itb.ac.id - Institut Teknologi Bandung telah menyatakan kesiapannya untuk membuka Program Profesi Insinyur (PPI) pada Semester II 2016/2017. Lewat konferensi pers yang digelar di Gedung Annex pada hari Jumat (16/12/16) ini, Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi DEA selaku Rektor ITB dan Prof.Ir. Bermawi Priyatna Iskandar, M.Sc., Ph.D. selaku Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan menyatakan bahwa ITB siap untuk segera menyelenggarakan Program Profesi Insinyur dalam bentuk Program Rekognisi Pengalaman Lampau (RPL). Program ini akan memberikan gelar insinyur (Ir.) kepada sarjana teknik yang telah bekerja minimal 2 tahun setelah melewati masa perkuliahan khusus selama satu semester di kampus ITB.

Latar Belakang Program Profesi Insinyur

Program Profesi Insinyur sejatinya diadakan demi memenuhi kebutuhan jumlah insinyur di masa modern ini. Saat ini jumlah insinyur di Indonesia hanya sekitar 2671 insinyur per 1 juta penduduk. Nilai ini masih cukup kecil apabila dibandingkan dengan jumlah insinyur yang dimiliki oleh negara tetangga seperti Malaysia (3333), Thailand (4121) dan Vietnam (9037). Padahal pembangunan infrastruktur dan industri di Indonesia terus memperlihatkan kemajuan dari waktu ke waktu baik dalam hal kualitas maupun kuantitasnya.

Atas dasar itulah Pemerintah RI melalui Direktur Jenderal Kelembagaan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang berada dibawah Kemenristekdikti memberikan mandat kepada 40 perguruan tinggi baik nasional maupun swasta untuk menyelenggarakan Program Profesi Insinyur. Perguruan Tinggi dipilih karena sesuai perundangan yang berlaku (UU No. 20/2003, UU No. 12/2012, dan UU No. 11/2014) memang hanya Perguruan Tinggi-lah yang secara hukum memiliki kewenangan untuk memberikan gelar insinyur (Ir.). ITB kemudian menyambut amanat ini dengan membentuk Tim Persiapan PPI dan mempesiapkan SDM penunjang program tersebut sejak tahun 2015.

Sesuai ketentuan, pelaksanaan PPI hanya boleh dibimbing oleh dosen yang telah memiliki sertifikat IPM (Insinyur Profesional Madya) atau IPU (Insinyur Profesional Utama). ITB sudah memenuhi persyaratan ini karena telah memiliki 50 dosen yang bersertifikat IPM dan IPU. ITB juga telah membentuk unit organisasi yang akan mengelola PPI ini secara khusus. Unit ini juga sudah mulai membangun hubungan yang intens dengan PII (Persatuan Insinyur Indonesia) dan Kementerian-kementerian terkait. Kesemua hal ini menunjukkan keseriusan ITB sebagai Perguruan Tinggi Teknik tertua untuk meluluskan para insinyur baru di Indonesia.

Rincian Program Profesi Insinyur

Program Profesi Insinyur yang akan diselenggarakan oleh ITB nantinya terbagi kedalam 2 program besar, yakni Program Rekognisi Pengalaman Lampau (RPL) dan Program Pendidikan Reguler. Pada semester II 2016/2017 nanti baru program RPL yang akan dibuka sementara program regular paling cepat dibuka pada semester I 2017/2018. Program ini nantinya akan menjaring ±370 sarjana teknik yang telah memiliki pengalaman kerja untuk mengambil gelar insinyur yang akan dibuka di 6 fakultas/sekolah yang telah siap yakni FTI, FTSL, FTTM, FTMD, SITH, dan STEI. Pilihan program studi yang ditawarkan pun bervariasi mulai dari Teknik Sipil, Teknik Kimia, Teknik Pertambangan, Aeronatuika dan Astronotika, hingga Rekayasa Pertanian.

Adapun syarat untuk mengikuti program ini cukup mudah yakni sebagai berikut.

  • Memiliki latar belakang S1 dari Program Studi Teknik yang didapatkan dari Perguruan Tinggi terakreditasi A dan Prodi tersebut minimal terakreditasi B pada saat mendaftar PPI.
  • Memiliki pengalaman kerja di bidang keinsinyuran selama lebih dari 2 tahun.
  • Memiliki pengalaman kerja pada proyek di bidang keinsinyuran minimal sebanyak 4 proyek.
  • Mengisi daftar riwayat hidup singkat yang disediakan secara online.


Informasi selengkapnya mengenai penerimaan peserta akan dimuat di laman usm.itb.ac.id. Sementara itu pendaftaran program ini rencananya akan dibuka pada tanggal 19 s.d. 31 Januari 2017.