Perkaya Produk Indonesia, Tim ITB Ciptakan Batik Berbahan Zeolit

Hafshah Najma Ashrawi | Kamis, 13 Juni 2013, 23:36:14 | Lihat foto berita ini
BANDUNG, itb.ac.id - Kini pengembangan batik sebagai warisan kekayaan budaya dunia rupanya sudah memasuki lebih jauh ranah kolaborasi antara sains dan teknologi. Tim Peneliti ITB yang diketua oleh  Alvanov Zpalanzani, ST., MM dan beranggotakan Yan Yan Sunarya,S.Sn., M.Sn. , Rino R. Mukti Dr. rer.nat, Dr. Veinardi Suendo, Dian Widiawati S.Sn, M.Sn, Chandra Tresnadi, M.Ds, dan Fajar Ciptandi  berhasil menciptakan batik dengan terapan struktur molekuler Zeolit MFI dan FAU. Riset dari Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB bekerjasama dengan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan ini sekaligus merupakan bentuk eksperimen dari wacana yang dikembangkan antara peneliti batik dan peneliti zeolit untuk mengembangkan batik dengan basis sitem dan modul kristalisasi mineral zeolit dengan pendekatan multidisplin kimia dan kriya. Harapannya, penelitian ini mampu memperkaya produk ekonomi kreatif Indonesia.

Batik Zeolit ini merupakan kajian aplikasi teknologi pembuatan komposisi desain batik yang memanfaatkan diversifikasi ragam varian visualisasi molekuler. Dengan dinobatkannya batik sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia oleh UNESCO pada tahun 2009 lalu, hal ini sekaligus menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia untuk dapat melestarikan dan mengembangkan batik Indonesia.

Eksplorasi batik ini sebenarnya bukan merupakan hal yang asing. Pernah terdapat eksplorasi permainan elemen visual dari ikon budaya populer seperti Batik Cimahi dan Batik Betawi, juga perluasan jangkauan distribusi batik yang unik seperti batik Trusmi. Terakhir, adalah Batik Fractal yang memanfaatkan sains untuk mengembangkan sistem penduplikasian motif dengan teknologi digital dan perhitungan matematis yang rumit.

Kemiripan proses produksi zeolit dengan batik mendasari pemikiran kolaborasi pembatikan kontemporer yang tidak hanya berbasis perhitungan seperti halnya Batik Fractal, namun juga memiliki modul dasar yang sifatnya mirip dengan proses penggunaan batik cap dan bahkan dapat bersifat sederhana melalui proyeksi dua dimensi dari sebagian sumbu kristal zeolit tersebut.  Zeolit adalah senyawa kimiawi mineral berbentuk kristal yangtersebar di alam . Zeolit sebenarnya dapat terbentuk di awal maupun diperoleh dari hasil rekayasa di laboratorium, kristal zeolit memiliki struktur yang merupakan pengulangan unit sel. Menariknya, terdapat lebih dari 200 variasi kristal zeolit.

Kelebihan batik berbahan zeolit ini adalah dari aspek desain, yaitu batik zeolit dapat dijadikan penanda identitas banyak hal. Misalnya, Indonesia hanya memiliki beberapa jenis zeolit tertentu sehingga dengan zeolit yang terdapat di alam Indonesia dapat diciptakan batik dengan struktur yang menggambarkan keunikan zeolit Indonesia. Selain itu, Batik Zeolit menerapkan metode cap dan tulis, berbeda dengan baju industri. 

Mengenai hal menarik selama melakukan penelitian ini, Alvanov yang juga merupakan dosen di program studi Desain Komunikasi dan Visual ini mengaku bahwa ide mengenai batik zeolit ini tidak habis-habis datangnya. Dari satu struktur zeolit saja, satu proyeksinya dapat menghasilkan berbagai macam desain. Untuk proses pembuatan, satu potong baju jadi dapat dihasilkan dalam waktu satu sampai satu setengah bulan. Proses pembuatan batik zeolit ini terdiri dari tahap persiapan, pembatikan/ 'nyungging', pewarnaan, dan yang terakhir finishing atau 'babaran'.

Terakhir, Alvanov berharap agar lebih banyak bidang-bidang keilmuan lain yang dapat bekerjasama untuk menciptakan terobosan-terobosan terbaru lainnya. "Ini merupakan riset kolaborasi FMIPA dan FSRD, terdapat banyak motif dan kemungkinan output lain jika lebih banyak lagi bidang keilmuan yang turut berpatisipasi jika kita semangat untuk mengeksplorasi. Eksplorasi sendiri harus bermain dengan konteks budaya, sosial, geografi, teknologi, dan manusia" ujar Alvanov menutup wawancara.