Liputan IASTF 2005 : "Komikasia, Yang Terlewatkan, Namun Tidak Terlupakan"

By

Editor -

Sebuah pameran yang unik, namun sangat memikat. Kolaborasi antara seni, sastra, budaya, dan sarat makna tampil dalam Pameran Komikasia 7 - 10 Juli 2005, di Aula Timur ITB. Tema yang diangkat adalah "Made in Indonesia, Sekarang Saatnya Komik Kita". Komikasia adalah kegiatan yang bertujuan untuk mensosialisasikan perkembangan komik Indonesia sebagai bagian dari perkembangan budaya komik di Asia. Tahun 2003 lalu kegiatan ini dicetuskan sebagai hasil penelitian studi akademik Desain Komunikasi Visual (DKV-ITB) yang mencermati gaya visual komik di Asia Tenggara dan Budaya yang mempengaruhinya. hasil dari penelitian ini telah menghadirkan suatu pemikiran tentang jati diri visual komik Indonesia dan strategi pengembangan industri komik Indonesia di tengah-tengah masuknya gaya visual komik Jepang. Kegiatan Komikasia adalah rangkaian dari event ISATF 2005, berupa eksibisi karya komik (7 - 10 Juli), Seminar Strategi Visual Dalam Komik dan Elaborasi dan Formulasi kolaborasi Gaya Visual Luar dan Lokal, Komik "Made in Indonesia" (9/7), dan Workshop (10/7). Dalam event ini juga diselenggarakan "Ngadu Komik", sebuah kompetisi yang sangat ditunggu-tunggu oleh pecinta komik tanah air. Di penghujung acara ini juga digelar malam penganugerahan "Komikasia Awards" bagi insan komik nasional yang telah berkarya demi kemajuan per-komik-an Indonesia. Dari sudut pandang lebih jauh, sebenarnya dimasukkan Komikasia 2005 sebagai rangkaian dari ISATF 2005 adalah bukti keberagaman dari Institusi ITB yang selama ini dikenal sebagai gudang tekhnokrat. Selain itu, kandungan pesan kebangsaan yang disampaikan sebagai jawaban terhadap kondisi keseharian masyarakat kita yang pesimistis jiwa nasionalisme dan berkiblat ke barat terhadap hampir berbagai aspek kehidupan. Tentunya membangun karakter kebangsaan akan sangat sulit jika barrier dan pemecahnya tidak lagi sejalan, dimana saat ini membludaknya sastra, seni dan budaya asing telah menyerang bangsa ini. Komik disini hadir sebagai jembatan untuk kembali kepada penyadaran kebangsaan tersebut. Kenapa komik? Sangat sederhana alasannya. Karena Komik telah menjadi bacaan yang akrab bagi anak-anak, remaja hingga dewasa warga negara Indonesia. Makanan empuk, namun menjual tradisi dan budaya asing. Sebgain besar komik di pasaran adalah produk budaya Jepang. Dapat dilhat impact-nya, bagaimana anak-anak kita begitu tergila-gila dengan "Pahlawan-Maya" dari negeri Jepang. Bahkan pahlawan nyata yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini kalah bersaing di memori anak bangsa sendiri. Dalam hal ini, dosen DKV FSRD ITB, Iman Sujudi bersama beberapa rekannya merasa perlu untuk terbang ke Jepang dan mempelajari komik dari negeri matahari terbit ini. "Ternyata dalam mengungkap cerita, orang jepang lebih pandai. namun sebenarnya, dari segi kreatifitas dan ide, kita sama saja dengan Jepang. Tetapi mengapa kita kalah? Mereka menang stamina dan mental bekerjanya lebih tinggi. Sudah habit mereka hingga mendarah daging terhadap semua aspek kehidupan mereka", demikian penjelasan Iman. Walaupun beratnya tantangan di pasaran, sebenarnya peluang pasar besar bagi komik Indonesia untuk menyadarkan anak bangsa akan pentingnya karakter. Karena komik saat ini telah menjadi genre tersendiri dalam pengembangan seni visual, bahkan merambah menjadi sebuah budaya dan mengekplorasi terus menerus secara luas. Sebagai karya yang sangat padu, komik menjadi ruang apresiasi yang ramah dan sangat dekat dengan masyarakat. Tidak heran jika Jepang mampu menanamkan pengaruh tokoh-tokoh pahlawan imaji-nya terhadap anak-anak dan remaja hampir diseluruh dunia. Membangun karakter komik sendiri adalah jawabannya. Dukungan dari berbagai pihak untuk menumbuhkan karakter kebangsaan ini adalah kewajiban. Keuntungan ganda jika "komik sendiri" ini mampu bersaing di pasaran, yaitu munculnya industri media baru dan hidupnya kembali karakter-karakter muda yang Indonesia.