Berita / Utama

Xantis, Produk Hand Sanitizer Buatan Pusat Penelitian Biosains dan Bioteknologi ITB

Adi Permana - Jumat, 20 Maret 2020, 16:47:54 - Diperbaharui : Jumat, 20 - Maret - 2020, 16:50:30


BANDUNG, itb.ac.id - Pusat Penelitian Biosains dan Bioteknologi Institut Teknologi Bandung mengembangkan hand sanitizer dengan nama Xantis. Produk pembersih tangan tersebut dibuat dengan memanfaatkan senyawa xanthorrhizol dari temulawak.

Hand sanitizer yang dibuat di Laboratorium Pusat Penelitian Biosains dan Bioteknologi ini dikembangkan oleh Dr. Elfahmi, M.Si. Apt., selaku Kepala Pusat Penelitian Biosains dan Bioteknologi ITB, Dr. Husna Nugrahapraja, Ph.D selaku dosen Sekolah Ilmu Teknologi Hayati, Dr. Agus Chahyadi Postdoctoral di PP Biosains dan Bioteknologi selaku Asisten Riset, serta mahasiswa S2 Keilmuan Farmasi ITB.

Xantis merupakan hand sanitizer yang menggunakan formula standard dari World Health Organization (WHO) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia. Riset dan pengembangan produk hand sanitizer ini memanfaatkan senyawa aktif dari bahan alami. “Secara keseluruhan hand sanitizer ini memiliki kandungan alkohol 70%, hidrogen peroksida, gel aloe vera, serta pewangi natural dari citrus dan fraksi kaya xanthorrhizol,” ujar Dr. Elfahmi saat diwawancara reporter Humas ITB.

Produk hand sanitizer Xantis ini memiliki keunggulan karena terbuat dari senyawa xanthorrhizol yang diambil dari temulawak dengan cara fraksi yang diisolasi dan dipisahkan dari temulawak. Berdasarkan hasil penelitian, senyawa xanthorrhizol ini memiliki aktivitas antimikroba yang efektif. Riset ini menemukan cara mudah dan murah untuk mendapatkan senyawa  xanthorrhizol dari temulawak. “Xantis sudah digunakan untuk pemakaian internal masyarakat ITB saja dan masih dilakukan pengembangan produk ini dan sedang diupayakan dilakukan pendaftaran izin edar agar bisa digunakan lebih luas oleh masyarakat, terutama pada masa-masa kritis kasus corona saat ini,” tambah Elfahmi.

Ia melanjutkan, riset berkelanjutan untuk mengembangkan hand sanitizer ini terus dilakukan. Namun untuk sampai dijual ke pasar, perlu dilakukan komunikasi bersama dengan Kementerian Kesehatan untuk bekerja sama, serta dengan industri yang mempunyai sertifikat produksi antiseptik. Sebab hal tersebut yang menjadi syarat legal untuk produk hand sanitizer sehingga dapat diedarkan di kalangan umum.

Karena kondisi pandemi COVID-19 sekarang ini, ditambah semakin minimnya stok hand sanitizer di toko-toko, Elfahmi memberikan pesan agar masyarakat belajar membuatnya sendiri di rumah karena mudah. Selain itu, jangan lupa untuk selalu menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). ”Semoga pandemi virus corona ini dapat diatasi dengan cepat,” harapnya.

Reporter: Grace Natasya Christiadhi (SBM, 2018)