Berita / Penelitian

Smart Power Socket, Inovasi Mencegah Akumulasi Inrush Current Pada Perangkat Listrik Rumah Tangga

Adi Permana - Senin, 19 Agustus 2019, 14:12:53
*Foto: Dok. Pribadi tim SPOS

BANDUNG, itb.ac.id – Tiga mahasiswa Teknik Elektro ITB angkatan 2015 membuat alat bernama Smart Power Socket (SPOS) yang merupakan stop kontak pintar yang dibuat untuk mencegah trip MCB atau miniature circuit breaker akibat akumulasi Inrush Current pada perangkat listrik ketika tidak ada penghuni di rumah. MCB merupakan sebuah perangkat yang menghubungkan antara saluran transmisi listrik dengan perangkat elektronik rumah tangga dan umumnya bercabang, dibagi per ruangan seperti ruang utama, dapur, dan kamar tidur.

Dengan sistem jaringan bercabang tersebut, pada beberapa kasus sering terjadi akumulasi inrush current pada MCB yang dapat menyebabkan fenomena arus mati mendadak akibat banyaknya perangkat yang menyala secara bersamaan seperti yang biasa ditemukan setelah pemadaman listrik oleh PLN. Oleh karena itu, diperlukan sebuah alat yang dapat menunda waktu menyala suatu perangkat elektronik saat alat mulai dialiri arus, sehingga lahirlah ide membuat SPOS yang diharapkan dapat menjadi solusi bagi permasalahan tersebut.

Alat tersebut merupakan tugas akhir dari Sayyid Irsyadul Ibad, Frits Elwildo, dan Dany Hadyan Rusman yang turut dipamerkan dalam acara Electrical Engineering Days (EE Days) 2019 di Aula Timur ITB, 5-7 Agustus 2019. Pada acara tersebut, sebanyak 28 karya tugas akhir mahasiswa dipamerkan.

Menurut Sayyid, inovasi SPOS sebagai perangkat yang menggunakan metode delay dalam menyalakan perangkat elektronik merupakan yang pertama di Indonesia. Untuk dapat berfungsi, SPOS dipasang pada stop kontak perangkat elektronik dengan beberapa variasi waktu tunda dengan interval 2 detik, mulai dari 0 hingga 12 detik. Fitur utama dari SPOS yaitu untuk mendeteksi kondisi listrik padam di rumah dan dapat mengatur waktu nyala beberapa perangkat elektronik di rumah.

“Di samping fungsi utama tersebut, SPOS juga dilengkapi dengan sejumlah fitur lainnnya, yaitu lampu indikator yang menunjukkan perangkat yang dipilih, lampu indikator yang menunjukkan proses yang sedang terjadi, waktu tunda yang dapat dinonaktifkan maupun diaktifkan serta memiliki dua mode operasi yang dapat dipilih,” ujar Sayyid.

Dalam penelitian ini, prototype SPOS dibuat dalam tiga macam dimensi, dengan dimensi terbesar yaitu 8x6x13 cm dan massa (berat) maksimum 300 gram. Dari segi kelistrikan, SPOS memiliki kapasitas daya maksimum beban sebesar 6 A, 1320 V. 

Cara menggunakan SPOS cukup mudah, yaitu pertama dengan menghubungkan SPOS dengan stop kontak yang biasa ditemukan di dinding rumah, lalu set alat ke mode pengaturan. Dalam hal ini, pengaturan meliputi pengaturan waktu tunda, yang dapat dilakukan dalam tiga versi, yaitu manual, wifi, dan versi internet of things (IoT).

Pada versi manual, pengaturan dilakukan langsung pada alat SPOS. Untuk versi wifi dan IoT, pengguna memerlukan perangkat gawai yang terhubung dengan koneksi wifi dan pengaturan dilakukan melalui aplikasi SPOS pada perangkat berbasis android, baik versi lite (wifi) maupun digital (IoT). Setelah itu, pilih perangkat elektronik yang akan disambungkan dengan SPOS, set  alat ke mode standby. Terakhir, hubungkan perangkat elektronik dengan SPOS dan operasikan perangkat seperti biasa.

Dijelaskan Sayyid, aplikasi SPOS dikembangkan sendiri oleh tim. Sebelum dapat menggunakan aplikasi, pengguna perlu melakukan registrasi. Khusus untuk versi IoT, terdapat fitur tambahan berupa timer dan pengaturan on/off dari jarak jauh. 

*Aplikasi alat SPOS pada rice cooker (Foto: Dok. Pribadi)

Aplikasi SPOS dapat menyimpan database berupa profil pengguna, status SPOS yang menunjukkan waktu delay, waktu timer, status power, status registrasi, dan perangkat terhubung, serta jenis perangkat elektronik yang dapat dipilih oleh pengguna seperti kulkas, mesin cuci, rice cooker, hingga pompa air.

Terkait rencana kedepan, Sayyid mengatakan bahwa timnya ingin mengembangkan SPOS ke dalam versi terminal yang lebih praktis dan fleksibel. Selain itu, perlu dilakukan penyempurnaan terhadap aplikasi mobile yang digunakan untuk mengoperasikan SPOS versi IoT. “Harapannya kalau sudah dikembangkan, SPOS nanti dapat bermanfaat dan diterima dengan baik oleh masyarakat,” ujar Sayyid.

Reporter: Nabila Nurul Maghfirah (Planologi 2015)