Berita / Utama

LPPM-ITB Membangun Perbatasan Mulai dari Nunukan

Adi Permana - Rabu, 9 Januari 2019, 08:46:27 - Diperbaharui : Selasa, 15 - Januari - 2019, 16:54:15

*Dok. LPPM-ITB

BANDUNG, itb.ac.id -- Membangun Indonesia dari pinggiran telah dicanangkan pemerintah melalui program Nawa Cita dengan cara memperkuat desa-desa dan daerah perbatasan atau terluar. Wujud kontribusi Institut Teknologi Bandung terhadap daerah perbatasan, dibuktikan dengan pengabdian yang telah dilakukan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) di Kecamatan Sei Menggaris, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Dengan sistem pengabdian yang berkelanjutan, sejak 2015, LPPM-ITB selalu mengirimkan tim untuk merealisasikan program pengabdian guna kemajuan daerah Sei Menggaris dan sekitarnya. Dalam praktiknya, banyak fakultas dan sekolah yang juga ikut terlibat dalam program tersebut seperti dari SITH, FTSL, FSRD, FITB, FTTM dan SAPPK.

"Program yang diselenggarakan menyesuaikan dengan permintaan daerah atau kebutuhan daerah lokasi pengabdian. Mereka minta ini dan itu, ya itu yang akan kita jalankan programnya," kata Prof. Budi Sulistianto menceritakan pengabdian yang dilakukan dirinya bersama tim kepada Humas ITB.

Menurut Prof. Budi, kunci sukses dari program pengabdian yang dilakukan adalah dukungan dan semangat dari masyarakat sekitar. Tahun pertama pengabdian, ITB diminta bantuan untuk membuat pupuk cair dan makanan ternak dari limbah sawit. Sebab di lokasi tersebut merupakan kebut sawit yang terhampar luas. Saat itu, Prof. Budi dan tim bertemu dengan seorang penggerak pendidikan yang mendirikan SMKN 1 Sei Menggaris. 

Lalu di tahun kedua, ITB diminta bantuan untuk memberikan pelatihan pembuatan nata de coco, kecap dan ragi. Para murid di SMK tersebut bahkan sempat magang di SITH untuk belajar pembuatannya.

Diceritakan Prof. Budi, SMK terpencil di dekat perbatasan Indonesia-Malaysia itu, memberikan peluang dalam peningkatan SDM dan perekonomian masyarakat sekitar. Ditambah lagi, perempuan pendiri sekolah tersebut yang aktif melakukan pembangunan dan terobosan baru. Sehingga sekolah semakin maju. "Awalnya SMK tersebut hanya bertempat di kolong rumah, kini setelah menempati lahan tak subur bekas kelapa sawit, sudah memiliki tiga gedung baru, lapangan basket, lab komputer, masjid, rumah kaca," katanya.

*Seminar pembuatan kerajinan tangan di SMKN 1 Sei Menggaris (Dok. LPPM-ITB)

"Saat kesana, ada rembug desa, kita menjadi fasilitator. Semuanya komitmen ingin memajukan SMK itu sebagai sentra teknologi. Jadi masyarakat sekitar mau nanya tentang bibit ke sana, mau nanya membiakan jamur, mengolah tanah sampai bisa ditanami ya di sana," jelas Prof. Budi.

Pada tahun ketiga, LPPM-ITB mulai melihat problematika di daerah tersebut yakni ketersediaan air bersih. Bersama FTSL, akhirnya ITB mencari potensi air untuk dibangun dan dilanjutkan oleh Kementrerian PUPR. Kini, masyarakat sekitar juga sudah merasakan listrik dari PLN, setelah sebelumnya hanya mengandalkan solar cell. "Seperti itulah partisipasi kami selama 4 tahun ini di daerah perbatasan," ucap Prof. Budi.

Atas upaya tersebut, Prof. Budi beraharap apa yang telah dilakukan LPPM-ITB membawa dampak yang baik bagi perkembangan sumber daya manusia, terutama di perbatasan untuk membantu program nasional yang dicanangkan pemerintah membangun dari perbatasan. "Kami mencanangkan berbagai hal, harapannya lokasi yang dijadikan pengabdian ini juga membuat semangat untuk terus maju," katanya.

*Penanaman bibit bambu (Dok. LPPM-ITB)

Sementara itu, Sekretaris bidang Pengabdian kepada Masyarakat LPPM-ITB Dr. Irwan Meilano mengatakan, ITB mungkin berbeda dengan tempat lain, yang lebih memilih banyak kegiatan di banyak tempat. "Kami lebih memilih beberapa kegiatan fokus dan panjang. Kita tidak mengejar kuantitas tapi kualitas suatu aktivitas yang mudah-mudahan menginspirasi tempat yang lain juga," ujarnya.

Menurut Irwan, tidak terbayangkan sebelumnya bahwa di pelosok ada sekolah yang maju. Ini menjadi salah satu contoh kontribusi dari ITB bekerjasama dengan banyak stekholder bagaimana membina sekolah di perbatasan. "Dan ini bisa menjadi satu model, dan SMK ini menjadi sumber inspirasi bagi sekolah lain, dan secara praktis pun telah membangun ekonomi masyarakat," pungkasnya.

*Dok. LPPM-ITB

Pengabdian tersebut merupakan bagian dari program Forum Perguruan Tinggi untuk Desa (Pertides). ITB sendiri ditunjuk sebagai koordinatornya. Selain Nunukan, ada 4 daerah lain yang menjadi lokasi desa binaan ITB yaitu Danau Maninjau di Sumatera Barat, Todanan Blora Jawa Tengah, Omah Susu Jepara Jawa Tengah, dan Majalengka di Jawa Barat.