Berita / Akademik

Salsabilla Melawan Keterbatasan Dengan Karya

Adi Permana - Selasa, 11 Desember 2018, 08:10:47 - Diperbaharui : Selasa, 11 - Desember - 2018, 08:33:11


BANDUNG, itb.ac.id -- Keterbatasan bukan menjadi penghalang bagi Salsabilla Rasika Sumekto untuk tetap berkarya. Ia merupakan mahasiswa berkebutuhan khusus penyandang tuna rungu yang berkuliah di ITB. Meski hanya mampu mendengar suara diatas 90 - 110 desibel semenjak lahir, namun hal itu bukan penghambat dirinya dalam menyalurkan hobi membuat komik. 


Manusia memang tak ada yang sempurna. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya. Karena kekurangan dalam berkomunikasi itulah, Salsabilla berusaha menjadikan komik sebagai media menyampaikan pesan, ide dan gagasannya. Perempuan asal Jakarta itu kini sedang menempuh Tahap Persiapan Bersama (TPB) di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB. 

Dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional 2018, reporter humas ITB melakukan wawancara dengan Salsabila menggunakan bahasa isyarat dan tulis di Pusat Informasi Kampus Ganesa pada hari Kamis (6/12/2018). 

Salsabilla yang diterima di ITB melalui jalur SBMPTN itu, bercerita bahwa dirinya mempunyai kelebihan dalam hal menggambar. Sejak kecil ia suka membaca komik dan menganalisis teknik penggambarannya. Gambar komik pertama yang pernah ia buat ialah ketika kelas 4 SD. Karena hobi menggambar itulah ia memilih FSRD-ITB sebagai tempat kuliah. 

Dia menceritakan, belajar membuat tokoh-tokoh komik secara autodidak. Bahkan, lewat tangan kreatifnya itulah ia sering menang lomba menggambar. Baginya menggambar adalah pekerjaan di masa depan.

Hingga sekarang hal itu tetap ia lakukan. Selain itu kemampuan membuat komik juga meningkat drastis setelah Salsabilla dikontrak menjadi asisten komikus Pinakes dengan komik Aldnoah Zero yang diadaptasi dari anime Jepang. Pinakes merupakan seorang komikus profesional. "Dari situ saya dapat banyak ilmu dari Pinakes. Hingga sekarang saya masih suka bikin komik," ujarnya.

Salah satu komik yang sudah ia buat berjudul "Wavelength" yang ditayangkan dalam web Ciayo Comics. Web comic ini menceritakan kehidupan seorang penyandang disabilitas tuna rungu (tuli) yang bersekolah di sekolah inklusi dan bertemu empat temannya. Meskipun tuna rungu, namun dia mencoba beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, juga diceritakan tentang masalah sehari-hari karena keterbatasan yang dia miliki.

*Screenshot komik Wavelenght karya Salsabilla

Karya komik Salsabilla ini bisa dilihat di https://www.ciayo.com/id/comic/wavelength . Kini, komik yang sudah ia tulis di laman tersebut sudah mencapai 25 episode. Cerita di komik tersebut masih berlanjut (belum tamat), masih ada beberapa episode lainnya yang akan terbit.

"Pesan dari komik yang saya buat ialah meningkatkan kesadaran kita terhadap orang yang memiliki kebutuhan khusus, membantu mereka saat kesulitan. Karena banyak sekali stereotype bahwa orang tuli itu bodoh, padahal kecerdasannya sama tapi cara komunikasinya yang perlu dikhususkan. Oleh karena itu gerakan bahasa isyarat sedang diperjuangkan oleh komunitas-komunitas tuli saat ini," katanya.

Kesulitan Komunikasi Tanpa Bahasa Isyarat
Salsabilla sempat menempuh sekolah berkebutuhan khusus, yaitu TKLB Santi Rama dan SDLB Santi Rama di Jakarta. Namun saat kelas 4 SD ia pindah ke sekolah umum. Lalu dia melanjutkan SMPN 226 Jakarta dan SMA Negeri 1 Depok sampai akhirnya diterima di FSRD-ITB.

Selama kuliah, ia mengaku tidak menemukan kendala yang berarti. Terkadang saat dosen menjelaskan teori dirinya sering tidak mengerti ketika penjelasannya dilakukan lebih banyak secara lisan. Dia merasa terbantu ketika dosen mengajar sambil menulis di papan tulis. Ketika tidak mengerti materi kuliah, ia selalu meminta tolong temannya menerjemahkan ulang secara tertulis. "Saya yang tuli sejak lahir mengandalkan 'vision'. Jadi kadang tidak mengerti atau tidak menangkap gerakan bibir," katanya.

Menurutnya banyak teman mahasiswa lain yang sebetulnya ingin berkenalan lebih dekat. Namun mereka bingung bagaimana cara berkomunikasi sebab tidak mengerti bahasa isyarat. "Kendala lainnya seperti miskomunikasi apa yang didengar teman-teman dan apa yang diperintahkan dosen berbeda," ucapnya. Oleh karena itu bahasa isyarat penting dipelajari ketika berhubungan dengan orang berkebutuhan khusus.

Selain Salsabilla, masih ada dua mahasiswa lain di ITB yang berkebutuhan khusus, diantaranya Anindya mahasiswa TPB STEI, dan M. Zulfikar J mahasiswa TPB FTMD. Pesan Salsabilla, keterbatasan bukanlah hambatan, tapi sebuah hal yang harus disyukuri, tonjolkan kelebihan masing-masing. Walaupun di saat kesusahan pasti ada kemudahan dan jalannya tersendiri.

Pada pertemuan terpisah, Direktur Pendidikan ITB Dr. Yuli Setyo Indartono mengatakan ITB memberikan perhatian dan dukungan bagi penyandang disabilitas yang menempuh pendidikan di ITB. 

"ITB mengharapkan semua mahasiswa, termasuk yang berkebutuhan khusus, sukses dalam studi di ITB", ujar Dr. Yuli. Unit-unit yang terkait di ITB, bekerjasama dalam memastikan para mahasiswa berkubutuhan khusus tsb tidak mengalami kendala selama belajar di ITB.