Berita / Campus Life

Women STEMpowerment: Kesetaraan Gender Bermula dari Hal-Hal Kecil

Fivien Nur Savitri, ST, MT - Selasa, 6 Maret 2018, 21:39:58 - Diperbaharui : Kamis, 22 - Maret - 2018, 16:13:13


BANDUNG, itb.ac.id—American Corner Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali merayakan pemberdayaan perempuan dalam bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) dengan menyelenggarakan acara Women STEMpowerment pada Jumat (02/03/2017) di Ruang Serbaguna Perpustakaan Pusat ITB. Acara ini mengusung tema “Who Says Women Can’t Rock STEM?” sebagai bagian dari rangkaian seminar bertajuk Women Empowerment Series 2017/2018.

American Corner mengundang Sidrotun Naim, Ph.D. sebagai pembicara utama dalam acara ini. Sidrotun Naim tidak hanya mengutarakan pendapat dan pengalamannya dalam bidang yang relevan dengan STEM, tetapi juga bagaimana pergerakan perempuan itu sudah dan seharusnya dijalankan. Ia juga berusaha untuk memberikan literatur-literatur Indonesia dan Barat yang relevan dengan pergerakan perempuan. 

Hadir juga pada Women STEMpowerment, Prof.Dr. Ismunandar, Guru Besar di Program Studi Kimia FMIPA ITB, dan Lusia Marliana Nurani, Ph.D., Advisor American Corner ITB.


Latar Belakang Pergerakan Perempuan Indonesia

Naim berusaha memberikan konteks yang lebih luas untuk pemberdayaan wanita, tidak hanya membatasi penjelasannya di bidang STEM. Ia memberikan latar belakang historis pergerakan perempuan di Indonesia yang dimulai dari Kongres Perempuan Indonesia 1 di Yogyakarta pada tanggal 22-25 Desember 1928, kurang dari tiga bulan semenjak dilaksanakannya Kongres Pemuda 2 pada tanggal 27-28 Oktober 1928.

Mengutip buku Susan Blackburn dengan judul “Kongres Perempuan Pertama: Tinjauan Ulang”, Naim mengutarakan bahwa pada masanya, perempuan masih dicibir masyarakat ketika berusaha berkumpul. Masyarakat berkomentar bahwa perempuan tidak mempunyai alasan untuk melakukan kongres, biarkan saja urusan mengatur negara kepada pemuda dan bapak-bapak. Padahal, di Kongres Perempuan Indonesia 1, dibahas hak untuk pendidikan dan hak pernikahan.

Kongres inilah juga alasan mengapa setiap tanggal 22 Desember, dirayakan Hari Ibu Nasional, memeringati kejadian bersejarah pergerakan perempuan Indonesia, yaitu  Kongres Perempuan Indonesia 1.

Pergerakan Perempuan Barat dan Indonesia

Di Barat, kebangkitan perempuan ditandai pada awal abad 20 oleh dapat-tidaknya perempuan berpartisipasi dalam dunia politik, terutama dalam hak untuk memilih dan dipilih. Indonesia, sejak pemilu pertama pada tahun 1955, telah lebih awal memberikan hak politik yang lebih luas kepada perempuannya. Naim mencatat bahwa sebenarnya, pergerakan perempuan di Indonesia sudah lebih maju di awalnya. Indonesia telah mengalakkan hak-hak perempuan, terutama dalam bidang politik saat itu, dan memberikan ruang-ruang publik bagi perempuan untuk menyuarakan pendapatnya.

Wanita yang merupakan alumni Fulbright ini juga mengambil contoh dari Marguerite de Witt-Schlumberger, aktivis perempuan feminis dan seorang suffragette Perancis. Marguerite adalah presiden Union française pour le suffrage des femmes/UFSF, diterjemakan sebagai Uni Perancis untuk Hak Perempuan. Marguerite menikah ke keluarga Schlumberger dan membangun Schlumberger Foundation Faculty for the Future. Schlumberger Foundation inilah yang berfokus kepada edukasi STEM untuk perempuan dan membantu Naim menyelesaikan studinya.

Naim juga mengambil analog pergerakan wanita pada tahun 1917 dan 2017. Pada 1917, para suffragette berparade di jalanan Kota New York dengan memegang plakat berisi tanda tangan lebih dari satu juta wanita Amerika Serikat yang menuntuk hak politiknya. Seratus tahun kemudian, dilaksanakan Women’s March di Amerika Serikat dan tempat lain di seluruh dunia, sebagai reaksi terhadap inaugurasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan kekhawatiran akan kebijakan-kebijakan administrasi baru yang mungkin diskriminatif terhadap perempuan. Naim berkomentar bahwa pada akhirnya pemersatu perempuan seluruh dunia adalah tidak lain dan tidak bukan, Donald Trump.

Dalam pergerakan perempuan, menurut Naim, perempuan seharusnya mendukung perempuan lainnya. Naim mengomentari perdebatan pada Hari Kartini setiap tanggal 21 April. Banyak perdebatan terjadi di sekitar mengapa hanya nama Kartini yang dipakai, padahal pahlawan perempuan itu banyak. Naim menanggapi bahwa jumlah pahlawan perempuan itu tidak banyak dan seharusnya hal terebut harus dihargai bersama. Mereka, pahlawan-pahlawan perempuan tersebut, unik dalam konteks lokalnya sendiri. Kita tidak bisa membandingkan konteks sosial perempuan Aceh dengan perempuan Jawa seperti Kartini.

Selanjutnya, Naim menyarankan bahwa pergerakan perempuan tidak boleh menjadikan laki-laki sebagai lawan. Narasi feminis, menurutnya, terlihat agak menyerang ke laki-laki. Saat ia kuliah di John F. Kennedy School of Government, simulasi debat yang paling berat terjadi saat isu laki-laki dan perempuan. Naim mengamati bahwa perempuan seringkali langsung menyerang pandangan laki-laki, bahkan ketika laki-laki terebut mendukung apa yang disampaikan perempuan. Ini hal yang salah dalam pergerakan perempuan, Naim menambahkan.


Jati Diri Perempuan

Bergerak ke hal yang lebih fundamental, Naim menyebutkan bahwa secara filosofis dan ontologis, laki-laki dan perempuan itu berasal dari jiwa yang sama. Dalam tradisi Islam, artinya, laki-laki dan perempuan diciptakan dari nafs yang sama. Secara biologis juga, peran perempuan dan laki-laki dalam kromosom manusia adalah sama, 50%--50%. Walaupun ada anggapan bahwa laki-laki lebih banyak kontribusinya kromosomnya, sains biologi molekuler membuktikan bahwa tidak demikian. Pada akhirnya, Naim menekankan, yang menyebabkan perbedaan besar di masyarakat antara laki-laki dan perempuan adalah konstruksi sosial di sekitar laki-laki dan perempuan tersebut.

Konstruksi sosial ini berbeda di setiap tempat. Di Arab, misalnya, pengambilan garis keturunan dilakukan dengan memerhatikan keturunan laki-laki. Akan tetapi, di daerah Solo, pengambilan garis keturunan dilakukan dengan memerhatikan keturunan laki-laki dan perempuan. Ini adalah hal yang sangat menarik, menurut Naim, dan menyoroti keberagaman peran dan konstruksi sosial perempuan di setiap daerah.

Lebih lanjut, alumnus Harvard University ini mengangkat ikon wanita Indonesia, yaitu Pratiwi Sudarmono, astronot perempuan pertama Indonesia. Saat itu, Indonesia adalah negara satu-satunya selain Amerika Serikat yang memiliki satelit yang mencakup seluruh daerahnya sendiri, sesuai visi Menteri Riset dan Teknologi saat itu, B. J. Habibie. Pratiwi Sudarmono, seorang ilmuwan mikrobiologi lulusan Universitas Osaka, dipilih untuk menjadi Spesialis Muatan dalam misi Wahana Antariksa NASA STS-61-H. 

Pratiwi awalnya sungkan untuk ikut karena biaya yang dipakai untuk memberangkatkan astronot mencapai milyaran dan ia merasa lebih baik dana itu diberikan kepada rakyat. Terlebih, suami Pratiwi tidak setuju untuk Pratiwi ikut dalam misi tersebut. Akhirnya, Pratiwi meminta bantuan Doddy Achdiat Tisna Amidjaja, rektor ke-21 Institut Teknologi Bandung, untuk membujuk suaminya agar menyetujui keberangkatan Pratiwi. Walaupun misinya dibatalkan akibat Bencana Challenger, kisah Pratiwi ini merupakan suatu kebanggaan terhadap peran perempuan pada bidang STEM dan suatu bukti bahwa perempuan itu setara dengan laki-laki.


Membangun Kesetaraan Gender

Bukti bahwa konstruksi sosial lah yang memberikan andil lebih besar terhadap gap antara laki-laki dan perempuan datang dari industri musik klasik. Pada tahun 1970, lima orkestra terbaik di Amerika Serikat hanya memiliki 5% perempuan dari total pemain musiknya. 

Pada tahun 1980, angka terebut naik menjadi 10%. Pada tahun 1997, partisipasi perempuan meniingkat sampai ke 25-30% musikus total. Apa yang terjadi? Perubahan tidak mungkin terjadi di jumlah pemain orkestra itu sendiri karena jumlah pemain orkestra cenderung stabil, yaitu sekitar 100 orang. 

Mengutip buku What Works: Gender Equality by Design, Naim menjelaskan bahwa solusinya adalah sesederhana blind test. Juri audisi hanya diminta untuk mendengarkan suara alat musik yang dimainkan dan tidak boleh melihat siapa yang memainkan alat musik tersebut. Di antara juri audisi dan pemain musik, diletakkan gorden agar juri menilai objektif apa yang ia dengar, bukan apa yang ia lihat. Gorden ini yang menyebabkan naiknya partisipasi perempuan dalam orkestra.

Saat studinya di Harvard University, Naim menambahkan, suatu pembagian kelas besar—kelas kecil diwajibkan. Mengapa? Ternyata, kelompok-kelompok yang termarjinalkan—seperti perempuan, orang berkulit hitam, dan disabilitas—lebih vokal saat ia berada di kelas kecil. Perempuan, terutama, cenderung tidak suka kompetisi jika dibandingkan dengan laki-laki. Artinya, pembagian kelas besar—kelas kecil ini secara efektif memberikan suara kepada orang-orang yang suaranya kurang terdengar di kelas besar. Menurut Naim, skema ini bisa diterapkan ke universitas-universitas di Indonesia. Prof. Ismunandar, saat ditanya oleh Naim mengenai partisipasi perempuan di kelasnya, mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara kinerja mahasiswa laki-laki dan perempuan di kelasnya, sama saja.

Pemerintah Amerika Serikat di bawah Obama juga telah memberikan inisiatif untuk perempuan muda agar lebih terlibat di bidang STEM. Di video yang berjudul Girls in STEM: A New Generation of Women in Science, Presiden Obama bertemu langsung dengan inovator-inovator perempuan muda yang memberikan onovasi mereka. Perempuan-perempuan tersebut memberikan presentasi di depan Presiden Obama mengenai apa yang mereka buat. Naim menambahkan bahwa anak kecil yang bertemu langsung dengan Obama tersebut untuk melihat ciptaannya tentu akan selalu istiqomah di jalannya.

Di Indonesia, pemerintah telah mewajibkan suatu kuota calon legislatif perempuan ke partai-partai politik yang ingin ikut dalam pemilihan anggota lembaga legislatif. Naim juga menyampaikan bahwa Indonesia telah memiliki presiden perempuan, mendahului Amerika Serikat. Kita seharusnya mengoptimalkan sumber daya manusia yang kita punya jika partisipasi perempuan kurang.

Naim juga mengatakan bahwa tempat kerja kita belum ramah perempuan. Naim memberikan contoh, teman perempuannya yang bekerja merasa tidak nyaman untuk tinggal dalam satu barak bersama laki-laki lainnya. Seharusnya, ada akomodasi yang diberikan agar perempuan ini bisa merasa nyaman bekerja.

Beragam langkah dan kebijakan telah dilaksanakan untuk memberikan partisipasi perempuan yang representatif di tempat kerja. Kebijakan tersebut dimulai dari hal yang sederhana, seperti blind test untuk penerimaan pekerja, hingga hal-hal yang lebih kompleks, seperti penegakan regulasi-regulasi yang memastikan partisipasi perempuan yang representatif. Sebenarnya, seluruh perubahan tersebut ada di tangan kita. Kesetaraan gender bukanlah mimpi apabila kita sebagai masyarakat benar-benar bergerak bersama menuju tujuan itu.


Penulis :

Muhammad Fawwaz Abiyyu Anvilen - FTI

IJA - ITB Journalist Apprentice 2018


Dokumentasi: UPT Perpustakaan ITB