Alumni dan Mahasiswa ITB Juarai Kompetisi Identifikasi Tumbuhan Tingkat Nasional

Cintya Nursyifa | Minggu, 10 September 2017, 06:38:08 | Lihat foto berita ini | Diperbaharui : Senin, 11 - September - 2017, 23:08:23

Bandung, itb.ac.id – Mahasiswa dan alumni berprestasi ITB kembali berkontribusi dalam dinamika ekselensinya. Dua gelar juara disabet dari Lomba Identifikasi Flora Tingkat Nasional yang diadakan oleh LIPI Cibinong. Lomba yang termasuk ke dalam rangkaian acara ultah LIPI ke-50 ini baru merupakan bagian dari diadakan untuk umum. Reza Raihan (Rekayasa Kehutanan 2012) dan Arief Hamidi (Biologi 2005) berhasil mendapatkan Juara Harapan III dan Juara II secara berturut-turut. Keduanya sempat merasakan atmosfer belajar di fakultas yang sama, yaitu Sekolah Ilmu dan Teknologi  Hayati (SITH). Sebagai peserta, Reza dan Arief bersaing dengan sekitar 80 orang, mulai dari siswa SMA/sederajat, guru SMK Kehutanan, mahasiswa S1 atau S2 dari berbagai universitas di Indonesia beserta lulusannya. Selain itu, peserta juga berasal dari berbagai kalangan institusi seperti Balai Taman Nasional, Badan Litbang Kehutanan, Balitek KSDA, SEAMEO Biotrop, kebun raya, fauna & flora internasional. Perjuangan alumni dan mahasiswa ITB ini berlangsung pada hari Selasa-Rabu (05-06/09/17).

Kegiatan yang merupakan bagian dari EKPOSE ini mewadahi orang-orang yang menggeluti dan hobi bidang tumbuhan, terutama taksonomi tumbuhan. Lomba identifikasi flora juga dijadikan suatu cara untuk mencari bibit-bibit baru calon taksonom muda yang akan berkiprah di dunia tumbuhan dalam waktu mendatang. Dari 80-an peserta, disaring 30 orang untuk bertarung di semifinal. Selanjutnya, 10 peserta yang lolos, dapat memasuki babak final. Pada babak penyisihan, peserta dibagi ke dalam 10 grup, 1 grup terdiri dari 7-8 orang dan diharuskan menjawab soal yang disediakan panitia. Adapun 10 soal tersebut berupa sampel herbarium yang perlu ditentukan family, genus, dan spesiesnya. Tiga besar yang lolos penyisihan kemudian dinyatakan sebagai semifinalis. Tigapuluh orang semifinalis dibagi ke dalam 5 grup untuk diseleksi dengan kesulitan yang meningkat. Sepuluh finalis diambil dari 2 besar tiap kelompok. 

Berprestasi melalui Aplikasi Hasil Studi

Selama kuliah, Reza mendapatkan pengetahuan yang berhubungan dengan taksonomi tumbuhan dan biosistematika. “Sebenarnya dulu menjak tingkat 3, saya mendalami ilmu taksonomi tumbuhan. Caranya dengan belajar, rajin membaca, bertenya, dan juga berdiskusi dengan dosen-dosen, senior-senior, teman-teman kuliah hingga teman-teman di sosial media dalam kelompok diskusi tumbuhan, dan baru bisa saling bertemu sama orang-orang tersebut ketika di lomba waktu lalu,” tutur mahasiswa yang akrab dipanggil Eja.

Selain itu, Eja sempat menjadi asisten praktikum dan kuliah lapangan di berbagai mata kuliah terkait, mulai dari taksonomi tumbuhan hingga agroekologi. Sedikit banyak, Eja berharap agar semakin banyak orang-orang yang memiliki ketertarikan di bidang tumbuhan terutama taksonomi tumbuhan, karena taksonom di Indonesia juga tidak banyak, teutama generasi penerus taksonom yang mulai minim, sehingga nantinya, yang berkecimpung pada bidang ini bisa menemukan spesies tumbuhan baru di Indonesia. Sekitar >50% yang sudah teridentifikasi, spesies yang belum teridentifikasi merupakan peluang menjadi penemu spesies baru).


Pada awalnya Reza sempat memiliki preferensi studi pada fauna, karena baginya hewan lebih menarik untuk diamati mulai dari bentuk, keindahan, perilaku, serta gerakannya yang unik. Di samping itu ternyata Reza belajar dalam lingkungan yang dapat memperkenalkan spesies tumbuhan beserta manfaatnya secara menarik. Ketertarikannnya pun berasal dari motivasi Arief (peserta lomba yang sama, alumni ITB) yang kian muncul menjelang tingkat 3. Eja memiliki pandangan bahwa tumbuhan juga memiliki manfaat yg sangat penting bagi manusia, seperti untuk bahan makanan, menghasilkan oksigen, menjaga tata air, memberi naungan, dan lain-lain. Hitung-hitung mensyukuri dan merenungi alam juga,” seru Eja. “Kesannya menyenangkan, selain pengalaman, yang utama adalah kumpul sesama para botanis nusantara. Hal ini yang jarang terjadi sehingga lebih berharga daripada lomba itu sendiri,” tutup Arief.

Referensi dokumentasi: Peserta dan panitia kompetisi Identifikasi Tumbuhan