Berita / Utama

Akreditasi Internasional: Siapkan Universitas Teknik di Indonesia Hadapi AFTA 2015

Annisa Mienda - Senin, 13 Oktober 2014, 21:20:47
BANDUNG, itb.ac.id-Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB bekerja sama dengan The Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) menyelenggarakan seminar bertajuk Sharing Experience of Accreditation Result on Engineering Universities in Indonesia. Seminar yang digelar pada Jumat (10/10/14) ini menghadirkan lima pembicara, diantaranya Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi 1999-2007, Prof. Satrio Soemantri Brodjonegoro, Sekretaris Satuan Penjaminan Mutu ITB, Dr. Pepen Arifin, serta para asesor dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) yakni Dr. Kridanto Surendro, Rila Mandala, Ph.D., dan Prof. Adi Kurniawan. Sebanyak tiga puluh satu perwakilan dari berbagai universitas swasta di Indonesia hadir dalam acara yang digelar di Ruang Multimedia Laboratorium Teknologi VIII ITB ini.

Sesuai judulnya, Seminar on Sharing Experience of Accreditation Result on Engineering Universities in Indonesia mengupas sistem akreditasi universitas di Indonesia, baik akreditasi nasional maupun internasional. Dalam seminar ini, para peserta dibekali pengetahuan mengenai pentingnya mengubah paradigma akreditasi, dari akreditasi nasional yang bersifat standard base ke akreditasi internasional yang menerapkan outcome base. Ayu Purwarianti, S.T., M.T., Ph.D, Kepala Program Studi Sarjana Teknik Informatika ITB sekaligus penanggung jawab acara menuturkan bahwa pergeseran paradigma tersebut penting dilakukan untuk menghadapi ASEAN Free Trade Association (AFTA) 2015. "Saat AFTA sudah diberlakukan nanti, universitas-universitas dunia yang bertaraf internasional dapat dengan mudah membuka cabang di Indonesia. Apabila universitas-universitas di Indonesia dibiarkan hanya sampai pada taraf nasional apalagi hanya mendapat akreditasi yang rendah, tentunya mereka akan kalah saing", tutur Ayu. 

Ayu menuturkan bahwa saat ini BAN-PT masih menerapkan standard base untuk mengakreditasi universitas di Indonesia. Akreditasi nasional tersebut diukur berdasarkan standar-standar yang telah ditetapkan oleh BAN-PT. Universitas harus memenuhi standar dengan tepat karena apabila meleset sedikit saja dapat mengurangi poin penilaian akreditasi. Sebaliknya, akreditasi internasional dilakukan berdasarkan outcome base atau mutu lulusan. Program studi menentukan kualitas apa saja yang harus ada pada diri mahasiswa setelah lulus, kemudian dilakukan pengukuran apakah target tersebut berhasil dicapai atau tidak. Apabila tidak atau belum berhasil seratus persen, program studi melakukan continuous improvement agar semua lulusannya memiliki kualitas seperti yang diharapkan.

Selain membahas sistem akreditasi nasional dan internasional, dalam seminar ini disampaikan pula tips dan trik agar universitas mendapat akreditasi yang baik dari BAN-PT. Pembahasan ini disambut dengan antusias oleh para peserta seminar. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya pertanyaan yang mereka lontarkan kepada pembicara.
 
Menurut Ayu, proses akreditasi memang harus melalui perjalanan panjang dan memakan biaya yang tak sedikit. Meski demikian, ia menyarankan agar akreditasi tidak dianggap sebagai kewajiban, melainkan suatu kebutuhan. "Dengan demikian, universitas akan lebih termotivasi dan tidak menganggap akreditasi ini sebagai beban," tuturnya. Selain itu, Ayu juga mengajak agar universitas-universitas di Indonesia mulai melakukan standardisasi berdasarkan outcome base meski BAN-PT belum melakukannya. Dengan menerapkan outcome base sejak dini, unviersitas-universitas akan lebih siap apabila akhirnya standar internasional diterapkan. "Yuk kita lakukan continuous improvement berdasarkan outcome base. Semangat continuous improvement itulah yang harus tetap ada dan tumbuh di setiap universitas," imbuh Ayu.

Dokumentasi:

ieee.web.id

andrianioktadianti.blogspot.com