Berita / Penelitian

Prof. Dr. Herri Susanto: Gasifikasi Biomassa untuk Alternatif Sumber Energi yang Ramah Lingkungan

kikywikantari - Sabtu, 4 Desember 2010, 07:02:17

BANDUNG, itb.ac.id-- Sebagai negara agraris, Indonesia memiliki potensi biomassa yang sangat berlimpah. Biomassa seperti bonggol jagung dan sekam padi yang selama ini hanya dibuang atau habis dibakar, memiliki potensi yang besar untuk dijadikan alternatif bahan bakar. Hal itulah yang mendorong Guru Besar program studi Teknik Kimia, Prof. Dr. Herri Susanto, untuk melakukan penelitian dalam bidang Gasifikasi Biomassa. Penelitian ini berhasil memenangkan bantuan dana riset Tanoto Professorship Award dari Tanoto Foundation selama 3 tahun, terhitung sejak 6 Agustus 2007. Hari Jumat (12/11/10) kemarin Prof. Herri menyampaikan kepada publik hasil-hasil apa saja yang telah didapatkannya selama memperoleh bantuan dana riset sebesar 1,2 miliar Rupiah tersebut.

Krisis energi yang semakin mengancam dunia telah menotivasi banyak orang untuk mencari sumber energi alternatif yang dapat dimanfaatkan, selain minyak bumi dan gas alam. Prof. Herri termasuk ke dalam orang-orang yang menyadari hal tersebut, dan turut serta dalam usaha-usaha pencarian sumber energi alternatif di Indonesia. Tentunya, alternatif sumber energi tersebut harus memiliki bahan baku yang potensial dan jumlahnya melimpah agar dapat menjadi sumber energi yang sustainable.

Prof. Herri melihat bahwa sebagai negara agraris, Indonesia memiliki banyak limbah organik padat (biomassa) yang diharapkan dapat diolah menjadi sumber energi alternatif. Selain itu, biomassa seperti bonggol jagung dan sekam padi banyak ditemukan di pelosok-pelosok negeri, sehingga apabila pemanfaatan biomassa menjadi sumber energi ini berhasil, dapat menjadi harapan baru bagi masyarakat daerah-daerah tersebut untuk mendapatkan sumber energi dari bahan baku lokal. Bahkan mungkin bisa diolah dahulu menjadi listrik dari pembangkit lokal sehingga dapat menerangi lokasi-lokasi yang belum terjamah kabel PLN (Perusahaan Listrik Negara-red).

Dari ide brilian inilah Prof. Herri memulai penelitian mengenai gasifikasi biomassa. Gasifikasi merupakan proses pengolahan bahan organik padat menjadi gas-gas mempan bakar seperti metana, karbon monoksida, dan hidrogen. Tahapannya dapat dilihat dalam bagan di bawah ini:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Bahan baku biomassa yang semula dipakai adalah bonggol jagung dan sekam padi. Namun seiring dengan berjalannya penelitian, ditemukan kualitas sekam padi yang kurang baik. Sedangkan, bonggol jagung memberikan performa yang memuaskan, apalagi dengan digalakkannya produksi biji jagung oleh pemerintah, maka bonggol jagung menjadi cukup menjanjikan untuk dijadikan bahan bakar. Selain bonggol jagung, biomassa lain yang cukup potensial adalah pelepah daun sawit dan kayu sagu. Penelitian ini dapat terlaksana baik dengan bantuan dari Tanoto Professorship Award.

Untuk pengembangan riset selanjutnya, Prof. Herri merencanakan untuk membuat synthesis gas, yaitu karbon monoksida dan hidrogen yang dapat direaksikan membentuk bahan baku cair metanol via proses Fischer-Tropsch. Pengembangan dan penelitian ini telah dimulai pada tahun 2010 dengan dana RISET KK dari ITB. "Kriteria yang saya inginkan adalah penggunaan udara, bukan lagi oksigen murni, sebagai medium gasifikasi dan hasil synthesis gas yang lebih ramah lingkungan," ujar Prof. Herri.

Teknologi yang dikembangkan Prof. Herri pun telah diimplementasikan dalam beberapa kasus nyata. Dengan dana dari RISTEK Tahun 2008, serta dana dan fasilitas dari PTPN-13, sebuah unit gasifikasi janggel jagung dapat diimplementasikan di sebuah perkampungan buruh/karyawan kebon sawit di Kabupaten Tanah Laut (Kalimantan Selatan). Prof. Herri menerangkan, ''Saat ini, kami sedang membuat dua buah unit gasifikasi untuk dipasang di perkampungan transmigran, satu di daerah Kabupaten Indra Giri Hulu dan satu di Kabupaten Pelalawan, Riau dengan dana dari Kementrian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral-red).''

ITB Menuju Research-based University

Prof. Herri adalah orang yang sangat tekun dalam mengembangkan penelitiannya. Menurutnya, dosen-dosen dan mahasiswa-mahasiswa lain pun memiliki hasrat yang sangat besar dalam melakukan penelitian. Untuk semangat penelitian dari kalangan mahasiswa, Prof. Herri bahkan menyebutkan, ''Keseriusan dan ketekunan mahasiswa dalam melakukan penelitian tercermin dari substansi yang baik dari seminar proposal penelitian mereka. Tidak jarang pula mahasiswa melakukan penelitian di laboratorium secara penuh-waktu, bahkan lembur.''


Berkaitan dengan usaha ITB untuk mencapai predikat Research-based University, Prof. Herri turut berusaha untuk selalu memasukkan substansi penelitian di Teknik Kimia sebagai materi penguat kuliah yang membuka wawasan dan meningkatkan keingintahuan mahasiswa. Selain itu Prof. Herri menilai bahwa banyak karya brilian dosen-dosen lain yang solutif bagi permasalahan nyata di masyarakat, seperti biodiesel dan teknik pembakaran industri. Tentunya ITB akan mampu mencapai predikat Research-based University, apabila didukung oleh semangat penelitian oleh mahasiswa dan dosennya.

(ditulis oleh: Ria Ayu Pramudita)