Berita / Utama

Kuliah Umum KM: Membangun Paradigma Baru Pendidikan Tinggi untuk Meningkatkan Daya Saing Bangsa

kristiono - Rabu, 19 Desember 2007, 17:00:50
Bandung, itb.ac.id - Keluarga Mahasiswa ITB (KM ITB) pada hari Rabu (19/12) menggelar stadium general bertema : Membangun Paradigma Baru Pendidikan Tinggi untuk Mencapai Kemandirian dan Daya Saing Bangsa. Bertempat di Gedung Aula Barat ITB, berbicara dalam forum ini Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso.,MSc. dan Menteri Kordinator Bidang Internal Kabinet KM ITB Seterhen Akbar Suriadinata (EL’03). Adapun Mantan Rektor UGM Sofian Effendi berhalangan hadir. Djoko Santoso menyatakan bahwa Pendidikan Tinggi pada dasarnya memiliki dua area kompetensi yakni kompetensi keilmuan dan kompetensi kegunaan. Menurut Djoko, kompetensi keilmuan perguruan tinggi perlu bagi pengembangan solusi di masa depan, sedangkan kompetensi kegunaan penting untuk memecahkan persoalan jangka pendek. Djoko berpendapat, kemandirian penting untuk menjaga universitas agar dapat tumbuh dan memberikan dampak kepada lingkungan secara nyata. “Agar dapat mengambil keputusan-keputusan hukum, perguruan tinggi harus menjadi entitas legal”, ujarnya. Menurut Djoko Santoso entitas legal perguruan tinggi terwujud dalam Undang-Undang Kemandirian Perguruan Tinggi. Sementara itu, Menko Bidang Internal KM ITB Seterhen Akbar yang akrab disapa Saska, tampil dengan membahas segitiga teknologi yang terdiri dari pemerintah, pendidikan tinggi dan industri dengan peran dan fungsinya masing-masing. Saska berpendapat, kemandirian perguruan tinggi penting untuk menunjang industri yang pada gilirannya berpotensi meningkatkan kesejahteraan bangsa. Sinergi link and match antara perguruan tinggi dan dunia industri dapat diraih dengan adanya hubungan yang harmonis antara keduanya dengan dukungan kegiatan riset dan pemerintah. Ironisnya, industri di negara berkembang umumnya merupakan pabrik-pabrik yang dimiliki oleh negara maju. Dikhawatirkan, strategi link and match justru akan melahirkan sarjana-sarjana yang tidak lain adalah buruh intelektual. Dalam jangka panjang Saska menghawatirkan terjadinya fenomena pengangguran terdidik karena tidak terserap oleh industri itu sendiri. Mengakhiri pemaparannya, Saska mengkritik paradigma baru perguruan tinggi. Menurutnya, paradigma baru perguruan tinggi mengakibatkan timbulnya kesenjangan dalam pendidikan dan munculnya fenomena kampus komersial menjadi tidak dapat dihindari. “Pendidikan hak milik semua anak bangsa, benarkah?”, ujar Saksa. Acara stadium general tersebut selain dihadiri oleh civitas ITB juga tampak beberapa mahasiswa dari perguruan tinggi lain seperti Unikom, Akademi Manajemen Informatika dan STIKES Budi Luhur.