Revitalisasi Gedung FSRD ITB: Menyingkap Fakta Dibalik Atap Sirap

Ria Ayu Pramudita | Jumat, 28 Desember 2012, 23:21:36 | Lihat foto berita ini
BANDUNG, itb.ac.id - Wajah sudut tenggara Institut Teknologi Bandung hari-hari ini cukup berbeda dengan hari-hari biasa, terdapat beberapa akses jalan yang ditutup dan mobil pengangkut bahan bangunan yang berlalu lalang membuat suasana gedung di sebelah Gedung Arsitektur tersebut lebih ramai dari biasanya. Hal ini disebabkan ITB tengah mengadakan proses revitalisasi Gedung Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) yang dimulai sejak Agustus 2012 kemarin dan direncanakan untuk selesai Desember 2012 ini. Proyek yang meliputi penggantian atap dan talang serta perbaikan drainase dan kelistrikan ini merupakan bagian dari Proyek Pengembangan Institut Teknologi Bandung  III yang didukung oleh Japan International Cooperation Agency (JICA).

Kepala Unit Implementasi Proyek Pengembangan ITB III, Muslinang Mustofo, menyebutkan bahwa proyek perbaikan gedung Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ini terbagi menjadi dua tahap, terdiri dari tahap I yaitu tahap renovasi dan tahap II  yang memfokuskan pada perbaikan interior, pipa plambing dan kelistrikan. Perbaikan tahap dua ini rencananya akan dilaksanakan mulai Juni 2014 sampai dengan Desember 2014. Selain perbaikan atap dan drainase, perbaikan Gedung FSRD bagian tenggara tersebut direncanakan untuk menjadi gedung Center for Art, Design, and Languages untuk kegiatan pottery, seni rupa, dan seni kriya.

Konservasi dan Realitas Atap Sirap

Penggantian atap Gedung Fakultas Seni Rupa dan Desain dari semula atap sirap menjadi atap berbahan Glassfibre Reinforced Cement (GRC) rupanya tidak hanya didasarkan pada kondisi eksisting gedung tersebut yang mengalami kebocoran pada bagian atap dan gangguan pada sistem drainase, namun juga pertimbangan biaya perawatan dari atap Gedung FSRD tersebut. Dengan mempertahankan penggunaan atap sirap, biaya perawatan untuk atap tersebut akan lebih mahal jika dibandingkan dengan atap GRC. Di sisi lain atap sirap merupakan salah satu ciri khas dari gedung berusia 18 tahun tersebut dan seringkali menjadi ikon bangunaan-bangunan di ITB seperti Aula Barat dan Aula Timur ITB. Hal ini sedikit banyak membentuk polemik di kalangan akademisi ITB terutama dosen dan praktisi arsitektur.

Dr. Agus Ekomadyo selaku Koordinator Desain dan Konstruksi Renovasi Proyek Pengembangan ITB III menyebutkan bahwa isu yang diangkat dalam renovasi ini adalah maintenance atau perawatan akan fasilitas-fasilitas yang sudah ada. Namun, turut ditekankan bahwa proses perbaikan gedung yang sekarang sedang berlangsung tidak hanya harus mampu membetulkan fasilitas yang ada, tetapi juga harus mampu menjawab masalah ekonomi pada proses selanjutnya. preservasi tidak hanya bersifat menyentuh sisi historis tetapi juga menyentuh hal-hal praktis seperti perawatan.

Agus juga menyebutkan bahwa konservasi atap sirap memakan biaya yang hampir sama dengan penggantian bahan atap menjadi GRC, namun pada perawatannya atap sirap membutuhkan konservasi paling tidak dua tahun sekali sedangkan di lain pihak atap berbahan GRC membutuhkan konservasi setiap sepuluh tahun sekali dengan biaya yang relatif sama untuk setiap konservasi dan mencapai angka sekitar dua ratus lima puluh juta rupiah untuk satu kali konservasi.

Beliau juga menyatakan bahwa ITB mempunyai perhatian yang tinggi untuk pembaharuan bangunan-bangunan bersejarah yang ada di ITB dan perlu dipublikasikan dan didokumentasikan dengan baik. Seperti yang saat ini dilakukan pada Laboratorium Teknologi Hidraulika dan Laboratorim Teknologi Mekanika Fluida. Terakhir, beliau menekankan bahwa gagasan dalam suatu bangunan itu bersifat immortal. "Meskipun bentuk fisik suatu bangunan berubah atau bahkan runtuh sekalipun, tetapi gagasan dan pengetahuan yang pernah ada dalam bangunan tersebut akan abadi," tandasnya mengakhiri wawancara.

 

Oleh: Hafshah Najma Ashrawi dan Nabila Febitsukarizky Bunyamin (IJA 2012)

Sumber gambar: ITB.ac.id dan Direktorat Pengembangan ITB