Dies 53 ITB: Peduli Peradaban Bangsa, ITB Adakan Diskusi Panel

By Neli Syahida

Editor -

BANDUNG, itb.ac.id - Dalam rangka Dies Natalis ke-53, ITB mengadakan diskusi panel "Transformasi Budaya Membangun Manusia Indonesia Berkesadaran Ilmu Pengetahuan" pada Sabtu (31/03/11). Acara yang diselenggarakan di Aula Barat ITB ini merupakan hasil kerja sama ITB dengan Yayasan Suluh Nusantara Bakti.

Diskusi panel ini dibuat sebagai bentuk kepedulian ITB untuk ikut berperan dalam kemajuan budaya dan peradaban bangsa. Selama ini, ITB merasakan dalam berbagai kebijakan dan wacana sosial dan implementasi ke dalam kehidupan politik dan budaya, teknologi sering diasosiasikan dengan high cost economy, dipersepsikan sebagai perusak moralitas generasi, dan bertentangan dengan budaya. "Perguruan tinggi saat ini dituntuk untuk dapat mengembangkan peradaban bangsa. Melalui pemahaman IPTEK, kita dapat membangun peradaban manusia yang lebih baik," kata Rektor ITB, Prof. Ahmaloka, Ph.D dalam sambutannya.

Diskusi ini terdiri dari 3 sesi dengan topik bahasan berbeda. sesi pertama membicarakan tentang Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Masa Depan. Sesi kedua mengenai Manusia Indonesia dan Etika Ekosistem Abad ke-21, dan sesi terakhir diisi tentang Transformasi Budaya Bangsa.

Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Masa Depan

Diskusi sesi pertama menghadirkan dua orang pembicara, yaitu Dr. Bambang Wibawarta, Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia; dan Prof. Bambang Hidayat, Guru Besar ITB. Sebagai moderator, Prof. Djoko Suharto memandu diskusi ini.

Bambang Wibawarta menjelaskan mengenai pentingnya strategi kebudayaan karena kebudayaan merupakan kekuatan nonfisik (soft power) yang seringkali memiliki dampak yang lebih  besar dari kekuatan fisik (hard power). Indonesia masih lemah dalam hal ini, sehingga perlu dibangun soft power melalui dua hal, pendidikan dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

"Pemerintah belum terencana, sistematis, dan terpogram dalam melakukan kebijakan pembangunan berbasis budaya, yaitu pembangunan yang menempatkan manusia di tempat tertinggi dalam perubahan," tutur Bambang.

Tidak jauh berbeda dengan Bambang Wibawarta, Bambang Hidayat mempresentasikan materi dengan judul "Mari Mempertinggi Budaya dan Karakter Ilmu Pengetahuan". Sebelumnya, ia menekankan, "Budaya itu jangan diartikan secara sempit. Budaya bukan hanya tari-tarian saja, melainkan semua tradisi yang berlaku di masyarakat dan mengandung nilai-nilai luhur. Mencontek dan korupsi bukan merupakan budaya, hanya sebuah tradisi saja."

Lebih jauh lagi ia menjelaskan bahwa budaya yang berlaku di masyarakat harus tetap dijaga dengan tafsir yang modern dan kehidupan lingkungan yang baru. Kebudayaan modern tersebut merupakan kebudayaan yang mengandung unsur rasionalitas zaman berlandaskan sains dan teknologi. Namun, kebudayaan tersebut juga perlu dilengkapi dengan ungkapan kejiwaan lain, yaitu sastra, budaya, dan seni. "Beruntungnya, ITB memiliki Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) yang ikut menyeimbangkan sains dan teknologinya," tutur Bambang.

Pada akhir diskusi sesi pertama ini, Djoko Suharto menyimpulkan bahwa memang sains dan teknologi ikut berperan serta dalam membangun budaya di masa depan. Sebab, sains dan teknologi telah begitu banyak mempengaruhi aktivitas manusia sehari-hari. Untuk mengembangkan sains dan teknologi sendiri, dilakukan dengan memperkuat pendidikan Indonesia.


scan for download