Berita / Profil

Empat Sosok Dosen ITB yang Aktif Menulis di Blog

Adi Permana - Selasa, 6 November 2018, 16:23:40 - Diperbaharui : Rabu, 7 - November - 2018, 09:04:40

BANDUNG, itb.ac.id -- Seorang dosen biasanya identik dengan karya-karya dalam bentuk jurnal ilmiah ataupun artikel ilmiah. Isi pembahasannya yang cenderung ilmiah, seringkali sulit dipahami oleh masyarakat biasa. Namun, tak sedikit dosen di zaman sekarang mau berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang keilmuan yang dia miliki melalui blognya. Konten yang disajikan tentu saja berisi bahasa yang lebih populer, sederhana dan mudah dipahami oleh khalayak luas.

Berikut ini adalah dosen-dosen di Institut Teknologi Bandung yang sampai sekarang aktif "ngeblog". Tujuan mereka senang menulis di blog tentu beragam, ada yang karena hobi, berbagi ilmu dan lain sebagainya.

1. Budi Rahardjo: Menulis Itu Tentang Mendokumentasikan

Salah satu dosen di Institut Teknologi Bandung yang sampai sekarang aktif menulis di blog ialah Ir. Budi Rahardjo, P.hD. Banyak hal yang melatarbelakangi seseorang menulis. Bagi Budi Rahardjo, dosen dari Kelompok Keahlian Teknik Komputer, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ini, menulis adalah tentang membuat dokumentasi dan berbagi pengetahuan.

"Sekarang saya masih menulis karena bagi saya ngeblog itu membuat dokumentasi. Dulu cara saya menulis terlalu keras dan tajam, jadi kedua untuk cara mengajari diri menjadi kreatif. Salah satu kesulitan dalam ngeblog itu 'kan mencari topik, jadi bagaimana caranya topik itu harus selalu ada," ujarnya kepada Humas ITB di kediamannya di Jalan Bojong Koneng, Bandung, belum lama ini.


2. Dasapta Erwin: Menulis di Blog Merupakan Bentuk Pengabdian kepada Masyarakat

Bagi Dr. Dasapta Erwin Iriawan ST. MT., menulis di blog bukan hal yang main-main. Meski tidak dijadwal dalam agenda kesehariannya, pria kelahiran Surabaya ini selalu memanfaatkan setiap waktu luangnya untuk menulis blog. Baik ketika sedang menunggu di jadwal keberangkatan pesawat sampai menjemput buah hatinya pulang sekolah. Topik yang diangkat pun beragam. 

Menurutnya, aktivitas menulis blog bukanlah aktivitas yang terpisah dari kesehariannya. Semua hal bisa dijadikan topik dalam menulis blog. Baik ketika bimbingan dengan mahasiswanya, mata kuliah yang sedang beliau ajar, seminar yang dikuti, bahkan pembicaraan di media soal pun dapat menjadi topik dalam menulis blog. 


3. Hendra Gunawan: Menulis Blog untuk Berbagi Pendidikan

Selain jurnal ilmiah yang banyak dipublikasi di dunia internasional, guru besar Matematika dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB, Prof. Hendra Gunawan juga sangat aktif menulis di blognya yang mencapai 6 buah. 

Saat diwawancara oleh reporter Kantor Berita ITB pada Senin (30/11/2018) di Gedung CAS lantai 4, Prof. Hendra sangat antusias menceritakan perjalanannya menulis di blog dimulai ketika mendapatkan akses blog fakultas yaitu Fmipa.itb.ac.id di tahun 2007. Tidak puas hanya membahas topik seputar FMIPA, ia membuat blog pribadi dengan domain hgunawan82@wordpress.com. Dalam blog tersebut, Prof. Hendra menulis hal yang menjadi kegemarannya yaitu dunia pendidikan di Indonesia. 


4. Rinaldi Munir: Menulis Blog Untuk Mengabadikan Momen Hidup

Rinaldi Munir, merupakan Dosen Teknik Informatika ITB yang memiliki banyak karya di bidang literasi terutama ratusan tulisan pada blog pribadinya. Menulis baginya merupakan salah satu cara untuk mendokumentasikan semua hal yang ada dalam hidupnya agar dapat dikenang dikemudian hari, berbagi pengalaman, dan bermanfaat buat orang lain. “Menulis merupakan cara saya untuk mengabadikan semua momen dalam hidup, baik yang saya fikirkan, saya lihat, dan rasakan, sebab tulisan akan bersifat abadi selamanya,” ungkap dosen kelahiran Sumatera Barat ini.

Ia mulai aktif dalam dunia kepenulisan semenjak masa perkuliahan, yakni ketika masih mahasiswa Teknik Informatika ITB. Saat ini ia aktif menulis di Berkala ITB sebagai salah satu media cetak resmi ITB Belum ada internet. Melalui Berkala ITB, Rinaldi Munir banyak menulis berita serta opini seputar ITB, lalu menulis di media cetak yang akhirnya secara tidak langsung meningkatkan kemampuannya di dunia literasi dan membuatnya semakin menyenangi bidang ini.