HMM ITB dan HIMAREKTA “Agrapana” Hadirkan Inovasi Perontok Padi dan Pertanian Berkelanjutan di Cianjur Selatan

Oleh Dina Avanza Mardiana - Mikrobiologi, 2022

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.

Perwakilan HMM ITB mengajarkan cara penggunaan mesin perontok padi rakitan mereka kepada warga. (Dok. HMM ITB)

CIANJUR, itb.ac.id - Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) ITB berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Rekayasa Pertanian (HIMAREKTA) “Agrapana” ITB dalam program pengabdian masyarakat bertajuk “Wanakarya” di Desa Wanasari, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur Selatan, Jawa Barat. Kegiatan ini merupakan implementasi lanjutan dari program Desa Mitra HMM ITB yang telah berjalan sejak 2023.

Ketua Divisi Community Development HMM ITB sekaligus Ketua Pelaksana Wanakarya, Nabiel Falih Utama (Teknik Mesin 2022), menjelaskan bahwa selama dua tahun awal kemitraan, tim lebih banyak melakukan social mapping dan pendekatan sosial kepada warga. “Kami tidak langsung datang membawa solusi. Dua tahun pertama berfokus pada survei dan membangun kedekatan agar warga nyaman dulu dengan keberadaan mahasiswa,” ujarnya.

Dari hasil pemetaan tersebut, tim menemukan potensi besar di sektor pertanian padi, namun terdapat kendala dalam proses pascapanen. Metode perontokan padi masih dilakukan secara manual dengan cara ditepuk ke batu, yang dinilai memakan waktu dan menguras tenaga.

Menjawab permasalahan tersebut, HMM ITB merancang ulang mesin perontok padi berbasis pedal. Mesin ini menggunakan sistem sproket, rantai, poros, dan flywheel menyerupai mekanisme sepeda. Ketika pedal digerakkan, tabung kayu berlapis paku akan berputar dan merontokkan bulir padi saat ikatan padi disentuhkan ke permukaan tabung. Bulir padi kemudian jatuh ke bawah mesin dan ditampung menggunakan terpal, sesuai kebiasaan warga.

Nabiel menjelaskan bahwa prototipe sebelumnya telah diimplementasikan, namun mendapatkan umpan balik dari warga karena bobotnya terlalu berat dan kurang ergonomis. “Dari masukan itu, kami melakukan penyesuaian desain agar lebih ringan, lebih mudah dipindahkan, dan lebih nyaman digunakan,” ujarnya.

Proses perakitan dilakukan bersama warga desa, sehingga masyarakat memahami mekanisme kerja, perawatan, hingga potensi perbaikan alat. Sebanyak tiga unit mesin berhasil dirakit langsung di desa dengan partisipasi sekitar 10-15 warga.

Meskipun belum tersedia data kuantitatif terkait penghematan waktu dan biaya produksi karena implementasi dilakukan di luar musim panen, warga menyampaikan bahwa mesin tersebut dinilai jauh lebih efisien dibanding metode tradisional. Dari sisi investasi awal, memang terdapat biaya pengadaan komponen, namun secara tenaga dan waktu dinilai lebih hemat.

Selain inovasi mekanik, kolaborasi dengan HIMAREKTA “Agrapana” memperluas cakupan solusi ke aspek pertanian berkelanjutan. Berdasarkan temuan di lapangan, limbah gabah pascapanen umumnya dibakar, sementara serangan hama juga menjadi persoalan rutin. Melalui Badan Semi Otonom (BSO) Agrapana Mengabdi, HIMAREKTA “Agrapana” menginisiasi pelatihan pembuatan biochar dari limbah pertanian dan peracikan biopestisida ramah lingkungan.

Warga antusias mempraktikkan proses pembuatan biochar dan biopestisida yang dipandu oleh HIMAREKTA “Agrapana” ITB. (Dok. HMM ITB)

Biochar yang dihasilkan dirancang untuk dimanfaatkan kembali sebagai pembenah tanah guna meningkatkan kualitas dan retensi nutrisi lahan pertanian. Sementara itu, biopestisida diperkenalkan sebagai alternatif pengendalian hama yang lebih berkelanjutan dibanding pestisida kimia sintetis.

Sekitar 30-40 warga mengikuti sesi edukasi dan praktik langsung terkait kedua inovasi tersebut. Dengan pendekatan ini, limbah pertanian tidak lagi menjadi residu yang dibakar, melainkan diolah menjadi produk bernilai tambah.

Program Wanakarya juga mencakup kegiatan Science Fair yang ditujukan untuk meningkatkan minat belajar anak-anak di desa. Mengingat sebagian besar warga menyelesaikan pendidikan hingga jenjang SMP, kegiatan ini diharapkan dapat memantik ketertarikan generasi muda terhadap sains dan pendidikan tinggi.

Kegiatan Science Fair untuk meningkatkan minat belajar dan memperkenalkan sains kepada anak-anak di desa Wanasari, Cianjur Selatan. (Dok. HMM ITB)

Dalam menjamin keberlanjutan program, HMM ITB mengidentifikasi warga yang memiliki keterampilan bengkel untuk menjadi penanggung jawab teknis mesin. Warga tersebut diberikan pemahaman mendalam mengenai desain, cara kerja, serta perawatan alat agar mampu melakukan penyesuaian mandiri jika terjadi kerusakan. Tim juga berkomitmen melakukan monitoring dan evaluasi berkala pada periode kepengurusan berikutnya.

Pelaksanaan Wanakarya tidak lepas dari tantangan geografis. Akses menuju Desa Wanasari yang berjarak sekitar tiga hingga empat jam perjalanan dari Bandung menghadirkan kendala berupa jalan berbatu, tanjakan curam, serta kondisi hujan yang sempat menyebabkan kendaraan mogok dan ban pecah. Beberapa agenda pun harus disesuaikan, dan tim menyelesaikan perakitan mesin hingga larut malam bersama warga.

Menurut Nabiel, esensi pengembangan masyarakat terletak pada pendekatan partisipatif. “Kami tidak bisa datang dengan mentalitas merasa paling tahu. Kami harus berbaur, memahami budaya, dan membangun kepercayaan dulu. Kalau caranya salah, niat baik pun bisa ditolak,” ujarnya.

HMM ITB bersama HIMAREKTA “Agrapana” mengimplementasikan solusi teknologi dan pertanian berkelanjutan melalui program Wanakarya di Desa Wanasari, Cianjur Selatan pada 23-24 November 2025. (Dok. HMM ITB)

Melalui integrasi solusi mekanik, pemanfaatan biochar, pengembangan biopestisida, serta kegiatan Science Fair untuk anak-anak desa, program Wanakarya mencerminkan sinergi lintas keilmuan mahasiswa ITB dalam mendukung ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

#itb #hmm itb #himarekta agrapana #pengabdian masyarakat #desa mitra #pertanian berkelanjutan #ketahanan pangan #teknologi tepat guna #sdg2 #zero hunger #sdg4 #quality education #sdg9 #industry innovation and infrastructure #sdg12 #responsible consumption and production #sdg15 #life on land #sdg17 #partnerships for the goals