Inovasi Berbasis Sains dan Seni sebagai Upaya Pengurangan Risiko Bencana Gempa dan Tsunami di Pesisir Lebak, Banten

Oleh Adi Permana

Editor Adi Permana


BANDUNG, itb.ac.id—Wilayah pesisir Indonesia merupakan zona yang rawan terjadi bencana gempa dan tsunami. Pesisir pantai selatan Kabupaten Lebak, Banten adalah salah satunya. Menurut kajian ilmiah ITB, BRIN, BMKG, dan BNPB yang dipublikasikan di Scientific Reports 2020, potensi gempa megathrust dapat mencapai magnitudo 8,9 dan dapat memicu tsunami setinggi 20 meter.

Untuk mengurangi keresahan masyarakat terhadap bahaya tersebut, Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS) memerlukan dukungan banyak pihak untuk meningkatkan kapasitas pengurangan risiko bencana. “Masyarakat di pesisir selatan Lebak belum memiliki resiliensi untuk bertindak, bahkan sebelum bencana benar-benar datang,” sebut Abah Lala, ketua komunitas GMLS.

Oleh karena itu, pada Minggu (7/2/2021), pembicaraan antara GMLS dengan KK Geofisika Global ITB, BRIN (saat itu masih LIPI), dan U-INSPIRE mulai dijalin untuk mewujudkan upaya penguatan kapasitas masyarakat. Tim ITB kemudian melaksanakan program pengabdian dengan pembuatan peta area pemukiman di Cimampang dan Sukarena/Cikumpay, pemodelan inundasi tsunami, pemetaan eksposure dengan UAV, pembuatan desain papan informasi publik, survei kondisi sumber daya desa, dan digitalisasi peta rute evakuasi.

Pengabdian tersebut berlanjut hingga tahun 2022. Melalui kerja sama dengan berbagai pihak, ITB membangun kesiapan masyarakat pesisir selatan Lebak melalui kegiatan-kegiatan yang mengacu pada indikator Desa Tangguh Bencana, UNESCO-IOC Tsunami Ready, dan Satuan Pendidikan Aman Bancana (SPAB). Kegiatan yang dipilih sebagai fokus utama adalah pembangunan kapasitas GMLS dan sekolah dengan pilot project di SMA Negeri 1 Panggarangan. Sekolah tersebut dipilih karena hanya berjarak 300 meter dari tepi laut, menjadikannya berada di zona merah rendaman tsunami. Kondisi tersebut diperparah dengan tidak adanya penghalang atau barisan vegetasi yang bisa meredam laju ombak menuju sekolah.

Sejak 28 Juni 2022 hingga 6 Juli 2022, tim yang tersusun atas dosen dan mahasiswa program studi Teknik Geofisika, program studi Desain dan Komunikasi Visual ITB, peneliti PRKG BRIN, dan U-INSPIRE Indonesia menyusun serangkaian kegiatan penguatan kapasitas masyarakat untuk mengurangi risiko bencana. Pengabdian masyarakat juga berkolaborasi dengan PMI dan Puskesmas Desa Panggarangan untuk melatih keterampilan pertolongan pertama.

Kegiatan dimulai dengan pembangunan pemahaman dan pengekspresian materi edukasi berbasis sains, seni, dan kearifan lokal. Edukasi dasar ini diberikan kepada warga sekolah terkait proses alam terjadinya gempa dan tsunami. Selain itu, ada pula materi yang diisi oleh perwakilan masyarakat, melalui GMLS, tentang tradisi lisan yang memuat istilah “Caah Laut”. Secara harafiah, kata tersebut berarti banjir laut dan ditafsirkan lebih luas menjadi suatu fenomena datangnya air laut ke daratan pada masa lalu. Kini, masyarakat Lebak meyakini bahwa “Caah Laut” dan tsunami memiliki konteks yang sama.

Upaya Kolaborasi untuk Membangun Ketangguhan Jangka Panjang

Program pengabdian ITB kepada masyarakat di pesisir pantai Selatan Lebak berhasil dibentuk atas kerja sama banyak mitra sejak tahun 2021 secara luring dan daring. Salah satu yang dilakukan adalah sosialisasi mitigasi gempa dan tsunami, serta asesmen kesiapan SMA Negeri 1 Panggarangan melalui metode STEP-A pada aplikasi resmi milik BNPB. Aplikasi STEP-A dikembangkan oleh UNDP Indonesia bekerja sama dengan UNESCO, BRIN (saat itu masih LIPI dan BPPT), ITB dan lainnya. Harapannya, sekolah memiliki kesiapsiagaan untuk menghadapi bahaya bencana sebagai salah satu fokus pemerintah melalui Seknas SPAB.


Berdasarkan hasil asesmen aplikasi tersebut, dapat diketahui bahwa kepala sekolah, guru, dan 35 siswa SMA Negeri 1 Panggarangan masih memiliki pengetahuan yang rendah per tanggal 15 Juni 2021. Oleh karena itu, diperlukan urgensi peningkatan dalam aspek edukasi agar mampu melakukan kesiapsiagaan bencana. Parameter rencana tanggap darurat dan sistem peringatan dini sekolah juga dinilai masih rendah sehingga diperlukan pemberian pemahaman yang lebih baik.

Sebagai tindak lanjut, pada Maret 2022, pihak sekolah berinisiatif untuk membangun gugus mitigasi bencana tingkat sekolah dan meminta dukungan ITB, BRIN, dan GMLS. Mereka turut membantu penyusunan SOP yang diuji melalui kegiatan Table Top Simulation (TTS). TTS mencakup peran tim evakuasi, keamanan, kesehatan, logistik, diseminasi informasi, dan kesiapsiagaan, ditambah peran-peran lain seperti guru, siswa, ketua OSIS, dan sebagainya.

Pelaksanaan Gladi Simulasi dan Posko Tanggap Darurat

Sistem koordinasi antara GMLS dan ketua gugus sekolah tentu diperlukan saat bencana terjadi. Saat simulasi dilakukan, pengkondisian unsur-unsur yang perlu disiapkan menjadi poin utama agar evakuasi dapat berlangsung secara lebih terarah dan terstruktur. Sementara itu, hal penting lainnya yang diperhatikan adalah lokasi sekolah yang berada di Desa Sukajadi. Pasalnya, untuk menuju Tempat Evakuasi Akhir (TEA) di command centre GMLS di Desa Kiarapayung, warga sekolah harus melalui Desa Hegarmanah. Secara birokratis, SOP sekolah harus memuat TEA tersebut agar ada kejelasan administratif yang selaras dengan tanggung jawab pemerintah desa.

Pihak BMKG turut mengikuti simulasi evakuasi melalui Urip Setiyono, Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Geofisika BMKG Tangerang. Sebagai pengamat dan pemilik otoritas pemberi peringatan dini, ia melihat kurangnya respons saat informasi gempa susulan diberikan.

“Peserta evakuasi berjalan melalui jalan berpasir, sehingga gempa akan dapat teramplifikasi dan guncangan terasa lebih kuat,” jelasnya. Menanggapi pernyataan tersebut, peneliti PRKG BRIN Rahma Hanifa membenarkan informasi tersebut. Rahma membagikan pengalamannya merasakan gempa bermagnitudo 9 di Jepang pada tahun 2011 kepada peserta simulasi evakuasi. Kesulitan untuk berdiri dirasakannya saat gempa-gempa susulan terjadi dengan durasi hampir setiap 5 menit. Pihak RAPI dan Detasemen Perhubungan Korem 064/Maulana Yusuf juga hadir untuk memenuhi kebutuhan komunikasi.

Setelah rombongan peserta simulasi mencapai TEA, mereka berbagi tugas untuk membuat tenda, mengatur akomodasi, dan mengelola dapur umum dengan dibantu Detasemen Perbekalan Angkutan Korem 064/Maulana Yusuf. U-INSPIRE Indonesia dan PMI juga membantu dalam melakukan pendataan dan triase kesehatan.

Peran Seni dalam Edukasi Kebencanaan

Persepsi dan pemahaman warga sekolah melalui kegiatan simulasi kemudian berusaha diperkuat melalui saluran ekspresi seni. Dengan panduan dosen dan mahasiswa FSRD ITB, mereka menyusun materi untuk mendukung upaya keberlanjutan pengurangan risiko bencana berbasis sekolah. Tiga bentuk akhir dari materi edukasi berhasil diwujudkan dengan diperkaya unsur seni. Pertama, buku “Edukasi Siaga Caah Laut” yang berisi cerita kearifan lokal yang berkaitan dengan tsunami dan pengalaman para siswa setelah mengikuti simulasi evakuasi tsunami dan pengungsian.

Karya kedua adalah sebuah pentas tari dengan iringan kidung Sunda yang ditulis, dinyanyikan, serta dipertunjukkan oleh para siswa. Terakhir, karya instalasi berjudul “Mitigarium” yang terbuat dari benda-benda yang dapat ditemukan di sekolah. Ekspresi kejadian tsunami, evakuasi, dan suasana pengungsian digambarkan melalui penyusunan barang.

*Artikel ini telah dipublikasi di Media Indonesia rubrik Rekacipta ITB, tulisan selengkapnya dapat dibaca di laman https://pengabdian.lppm.itb.ac.id.

Reporter: Sekar Dianwidi Bisowarno (Rekayasa Hayati, 2019)


scan for download