Tim Arsitektur ITB Juara 1 Multi Comfort Student Contest 2020

By Adi Permana

Editor Adi Permana


BANDUNG, itb.ac.id – Tim Arsitektur ITB yang terdiri dari Vadya Dzauqiah (AR’16), Selvia Diwanty (AR’16), dan Hilman Prakoso (AR’16) menjuarai Multi Comfort Student Contest tahun 2020. Perlombaan tersebut diselenggarakan oleh Saint-Gobain, perusahaan multinasional asal Prancis yang bergerak di bidang manufaktur produk material untuk kegunaan konstruksi, mobilitas, dan aplikasi lainnya. Lomba ini merupakan lomba tahunan yang diselenggarakan sejak 2004 dengan partisipan ribuan tim dari 35 negara.

“Saint-Gobain merupakan perusahaan yang memiliki spesialisasi pada multi-comfort yang terdiri dari beberapa komponen yaitu feel, breath, see, dan ear. Kompetisi ini bertujuan untuk mendesain sesuatu dengan komponen tersebut,” ungkap Vadya.

Vadya, Hilman, dan Selvia mendaftarkan tim mereka sejak Agustus 2020 dan terpilih menjadi pemenang pada Desember 2020 melalui presentasi dengan dewan juri. Sebagai pemenang di tingkat regional, Tim Arsitektur ITB akan menjadi perwakilan Indonesia untuk bertending kembali dengan para juara tingkat regional lainnya di Prancis pada tahun 2021.

Dengan bimbingan oleh Dr. Eng. M. Donny Koerniawan, S.T., M.T., Tim Arsitektur ITB berhasil menyelesaikan desain mereka yang diberi nama RE(BOND)IR: Reminiscing the Past, Rebounding for the Future. Hilman mengatakan bahwa lomba ini mendesain suatu daerah di Prancis bernama Saint-Denis yang merupakan kawasan industri.

“Dengan memanfaatkan local heritage yang dimiliki oleh Saint-Denis, kami mendesain area seluas 5 hektar yang memiliki aspek fungsi residential, educational, dan recreational yang tentunya dibangun dengan desain futuristik. Dari acuan SDGs 2030, kami memfasilitasi beberapa desain pada area tersebut yaitu pasar, apartemen, sekolah, urban farming area, commercial area, dan museum,” ujarnya. Tak hanya itu, Selvia juga mengungkapkan bahwa RE(BOND)IR turut mendukung efisiensi energi dengan upaya mengurangi emisi karbon sehingga konsep sustainable lifestyle dapat terwujud di kawasan tersebut.

Selama mengerjakan desain, Tim Arsitektur ITB menemui banyak kendala. “Pengerjaan dilakukan secara daring sehingga cukup kurang nyaman untuk berdiskusi. Kami bersyukur pembimbing kami banyak memberi masukan. Tak hanya itu, kendala lain yang kami hadapi adalah ukuran berkas desain terlalu besar sehingga sulit untuk mengirimkan ke panitia. Saat presentasi final pun kami perlu pintar-pintar mengatur mengenai transisi presentasi supaya sinkron, mengingat kondisi internet masing-masing yang berbeda. Namun semua itu terbayarkan ketika tim kami berhasil meraih juara dan akan mewakili Indonesia yang akan bertanding di kancah internasional pada tahun 202,’’ kenang Selvia.

*Foto-foto: Dok. SAPPK ITB

Reporter: Billy Akbar Prabowo (Teknik Metalurgi, 2016)