Indonesia Berkontribusi Besar terhadap Penelitian Islamic Social Finance (ISF)

By Adi Permana

Editor Adi Permana


BANDUNG, itb.ac.id--Islamic Social Finance (ISF) atau keuangan sosial Islam sangat penting bagi kemajuan dan kesejahteraan umat. Salah satu poin utama yang harus didorong dalam pemanfaatan dan pengembangan keuangan sosial Islam adalah dengan melakukan penelitian dan kajian yang mendalam terkait topik tersebut. Oleh karena itu, tim yang terdiri dari 4 universitas yaitu, ITB, Unair, IPB, dan UGM melakukan riset kolaborasi dengan tujuan menghasilkan riset dan publikasi yang berkualitas melalui kerja sama multidisiplin lintas kampus.

Hasil kajian disampaikan dalam webinar yang diadakan oleh Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI), pada Rabu (23/12/2020) yang dilaksanakan melalui Youtube dan Zoom. Dari ITB, Yuliani Dwi Lestari S.T., M.B.A., Ph.D., yang merupakan dosen SBM-ITB ikut serta dalam tim riset dan dalam menyampaikan materi tentang perkembangan riset Islamic Social Finance (ISF) dengan pendekatan Bibliometrik.

“Berdasarkan Islamic Relief Worldwide, Islamic Social Finance (ISF) terdiri dari lembaga pembiayaan syariah berdasarkan philanthropy (zakat, wakaf, dan shodaqoh), kerja sama, dan pengaturan keuangan mikro yang bertujuan untuk mengurangi kemiskinan melalui pinjaman tanpa bunga,” imbuh Yuliani.

Namun, dosen lulusan Taiwan University of Science and Technology tersebut mengungkapkan bahwa studi di sektor keuangan Islam secara tradisional masih mengecualikan segmen sosial Islam sehingga istilah keuangan Islam atau Islamic Social Finance akhirnya baru diperkenalkan secara masif tahun 2014 oleh Islamic Research and Training Institute (IRTI).

Penelitian yang dilakukan oleh Yuliani bersama dengan tim bertujuan untuk menganalisis kemajuan atau perkembangan literatur yang terkait dengan ISF sehingga bisa dijadikan landasan dalam merumuskan perkembangan ISF di masa depan.

“Metode yang kami gunakan secara khusus adalah menggunakan bibliometrik analisis dengan melakukan evaluasi statistik terhadap artikel ilmiah dan buku. Dari awal, tim sudah mengumpulkan lebih dari 1000 artikel yang terindeks Scopus,” ungkapnya.

Berdasarkan analisis, Yulianti mengungkapkan bahwa perkembangan riset terkait dengan ISF dari tahun 2010-2016 terjadi peningkatan stabil, yang berarti ada ketertarikan bagi periset dalam melakukan penelitian dalam bidang ISF ini. Tim riset kolaborasi ini juga menemukan bahwa Indonesia menjadi negara dengan kontribusi terbesar ke-2 setelah Malaysia terhadap penelitian bidang ISF. “Dalam riset bidang ISF, Malaysia ada di peringkat pertama dengan jumlah 324 artikel, kemudian Indonesia menempati rangking ke-2 dengan jumlah 122 artikel,” imbuhnya.

Yuliani melanjutkan bahwa berdasarkan analisis bibliometrik, arah perkembangan riset ke depan yang berkaitan dengan ISF membentuk 4 klaster utama yaitu wakaf, sedekah, zakat, dan wakaf tunai. “Empat topik ini yang sangat berpotensi untuk dikembangkan di hari ini dan masa yang akan datang,” ucapnya.

Dalam menutup presentasi, Yuliani sebagai perwakilan tim merekomendasikan 3 topik utama yang memiliki tingkat kepentingan dan urgensi yang tinggi untuk dikembangkan di Indonesia dan memerlukan kerja sama antara peneliti, pemerintah, dan lembaga lainnya.

Adapun rekomendasi tersebut adalah, (1) tinjauan peraturan secara menyeluruh terutama dalam sistem tata kelola wakaf seperti mendesain peraturan dan manajemen operasi, (2) faktor-faktor yang menyebabkan reformasi wakaf dan bisa diterima oleh masyarakat, dan (3) membuat kuantitatif pemodelan dan perhitungan jangkauan ruang lingkup tentang aktivitas keuangan sosial Islam serta evaluasi efektivitasnya and analisis nilai potensi pasarnya di masa depan.

“Poin ketiga adalah yang sedang kami lakukan saat ini yaitu membuat kuantitatif pemodelan dan juga perhitungan jangkauan lingkup aktivitas keuangan sosial Islam kemudian evaluasi efektif dan menilai potensi pasarnya,” tutupnya.

Setelah Yuliani Dwi Lestari dari ITB, pemaparan dilanjutkan oleh Irfan Syauqi Beik (IPB) yang membawakan materi tentang urgensi indeks sebagai alat ukur kinerja ISF, Raditya Sukmana (Unair) yang memaparkan tentang konsep dan implementasi awal indek wakaf nasional, dan Mahfud Sholihin (UGM) dengan materi urgensi penerapan PSAK wakaf untuk mendukung indeks wakaf nasional.

Reporter: Deo Fernando (Kewirausahaan, 2019)