Dr. Karlina Supelli: Kembali ke Khitah Perguruan Tinggi dan Masyarakat Akademik

By Adi Permana

Editor Vera Citra Utami


BANDUNG, itb.ac.id--Institut Teknologi Bandung kembali menyelenggarakan kuliah umum Studium Generale KU-4070 dengan menghadirkan Dr. Karlina Supelli, seorang filsuf dan astronomer perempuan pertama di Indonesia. Kuliah umum bertema “Kembali ke Khitah Perguruan Tinggi dan Masyarakat Akademik” ini dilaksanakan pada Rabu (25/11/2020) secara daring. Agenda dibuka oleh Sekretaris Institut ITB, Prof. Dr.-Ing. Ir. Widjaja Martokusumo dan Dra. Premana Wardayanti Premadi Ph.D., sebagai moderator.

Memulai paparannya, Dr. Karlina menjelaskan bahwa kembali ke khitah berarti kembali ke jati diri, jantung, tujuan, serta fungsi perguruan tinggi. Kembali ke khitah memiliki konsekuensi logis dari pencarian ilmu, yaitu ilmu bagi kemaslahatan bersama yang mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat yang kemudian tercapai dalam tridharma perguruan tinggi.

“Tridharma perguruan tinggi adalah suatu keterpaduan yang tidak bisa dipisahkan antara pengajaran pendidikan kemudian penelitian yang hasilnya disampaikan kepada masyarakat menjadi bagian dari penerapan dan juga pencerdasan kehidupan bersama,” ucapnya.

Dr. Karlina menekankan, jika perguruan tinggi betul-betul setia kepada khitahnya, maka masyarakat akademik akan mengemban misi luhur yaitu menjadi warga negara sejati di mana intinya adalah mendidik orang-orang untuk terlibat dalam mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. “Tugas utama pendidikan adalah menghasilkan warga negara sejati. Ini disampaikan oleh Bung Hatta, Ki Hajar Dewantoro, dan ada di dalam naskah-naskah perguruan tinggi di luar negeri,” imbuh alumni Astronomi ITB tersebut.

Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara ini, mendefinisikan perguruan tinggi sebagai lembaga yang menumbuhkan, merawat, dan menyebarkan keunggulan akademik. Ia mengibaratkan, jika kita melihat perguruan tinggi sebagai bangunan, jati diri perguruan tinggi adalah ilmu sebagai kemaslahatan bersama, maka pilar penyangga utamanya adalah mencari kebenaran ilmiah, dan landasan di sini adalah landasan niscaya yang terdiri dari watak, integritas, dan tradisi. “Kita mengartikan perguruan tinggi tidak hanya melatih perihal fakta, teori, metode, eksplanasi, dan prediksi tetapi perguruan tinggi juga melatih cara berpikir,” ucapnya.

Di sisi lain, tantangan bagi masyarakat akademik saat ini adalah terjadinya fragmentasi. Selain itu di masyarakat juga terjadi polarisasi, misinformasi, disinformasi, berita bohong, dan sikap antisains seperti penolakan terhadap vaksin. Hal ini salah satunya disebabkan oleh banyak sekali informasi yang beredar yang didengar oleh masyarakat tetapi bukan berasal dari pakar melainkan dari pendapat orang banyak. “Seringkali masyarakat akademik atau pakar itu ditolak pendapatnya, karena yang didengar adalah pendapat orang banyak dan ini adalah kesesatan logika sebab yang banyak belum tentu benar,” ungkap Dr. Karlina

Sebagai penutup, Dr. Karlina berpesan kepada generasi muda untuk mencari pengetahuan. “Kita tidak bisa lompat dan berharap menuju arif, kearifan adalah jalan panjang dari pengetahuan. Oleh karena itu, pada manusia muda carilah pengetahuan maka diperjalanan akan menuju kearifan dan mendatangkan kebaikan,” pungkasnya menutup presentasi.

Reporter: Deo Fernando (Kewirausahaan, 2019)