Kaum Cendekia dan Moderasi Beragama di Era Media Sosial

By Adi Permana

Editor -


BANDUNG, itb.ac.id—Institut Teknologi Bandung menghadirkan Nadirsyah Hosen sebagai pembicara dalam Studium Generale KU-4078, Rabu (18/11/2020) secara daring. Nadirsyah Hosen adalah seorang cendekiawan muslim yang juga merupakan staf akademik di Fakultas Hukum Monash University. Pada Studium Generale yang dibuka oleh Rektor ITB Prof. Reini Wirahadikusumah, Ph.D., dan dipandu oleh Prof. Taufiq Hidayat, itu mengangkat tema “Kaum Cendekia dan Moderasi Beragama di Era Media Sosial”.

*Rektor ITB Prof. Reini Wirahadikusumah, Ph.D., membuka Studium Generale.

Nadirsyah Hosen atau akrab disapa dengan nama Gus Nadir memberikan pertanyaan di awal paparannya, “Apakah sebenarnya peranan kaum cendekia dalam menjaga moderasi beragama di tengah gelombang info di media sosial?” Ia lalu bercerita tentang hasil pertemuan dua tokoh agama besar dunia yaitu Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar pada 2019. Pertemuan tersebut menghasilkan dokumen persaudaraan dengan pesan utamanya adalah menegaskan bahwa musuh bersama kita saat ini adalah ekstrimisme akut, hasrat saling memusnahkan, perang, intoleransi, serta rasa saling benci antara sesama.

Gus Nadir menganalisis bahwa sebenarnya masalah-masalah tersebut disebabkan oleh tiga hal mendasar: kebodohan, ketimpangan sosial, dan eksploitasi alam yang berlebihan. Namun, ia sangat prihatin karena alih-alih membahas masalah tersebut kita justru membenturkan dua tema penting yaitu agama dan kebangsaan. Ia menyebut, media sosial telah menjadi platform untuk menyebarkan politisasi agama dan menjual emosi umat.

Gus Nadir berpesan bahwa sudah waktunya bagi kaum cendekia untuk kembali ke jati dirinya sebagai kaum intelektual. Beliau sangat menyayangkan, banyak sekali saat ini kaum cendekia yang berlepas tangan karena takut dirundung di media sosial atau takut akun media sosialnya diretas ketika memberikan analisis terhadap situasi yang terjadi. Tetapi, Gus Nadir menegaskan jika bukan kaum cendekia lantas siapa lagi yang menjaga dan merawat kewarasan bangsa dan memadamkan bara api perpecahan.

Oleh karena itu, ia merasa perlu adanya usaha kolektif untuk meredam emosi kita saat ini dengan terus meningkatkan budaya literasi, di samping memberikan teladan akhlak mulia dan menyalurkan emosi umat ke hal-hal positif berupa pemberdayaan ekonomi dan sosial.

Tak lupa, Gus Nadir juga memberikan pesan agar selalu jeli dalam menerima informasi yang beredar, verifikasi, dan lihat data serta argumennya. Terakhir ia juga berpesan bahwa ilmu itu ada jenjangnya, dan pemahaman serta kedalamannya berbeda-beda. “Belajar ilmu agama jangan terburu-buru apalagi dengan hati panas dan penuh kebencian, mari kita nikmati prosesnya,” tutupnya.

Reporter: Deo Fernando (Kewirausahaan, 2019)