ITB-Purdue Bridge Building Event, Bentuk Awal Kolaborasi ITB dengan Purdue University

By Adi Permana

Editor Adi Permana


BANDUNG, itb.ac.id – ITB bersama Purdue University melalui Purdue Asian American and Asian Resource and Cultural Center (AAARCC) dan Purdue Old Masters menjalin kolaborasi dalam acara ITB/Purdue Bridge Building Event. Acara yang diselenggarakan pada 6 November 2020 ini bertujuan untuk menjalin kerja sama antara ITB dan Purdue University.

Prof. Reini Wirahadikusumah terpilih menjadi salah satu Purdue Old Masters pada tahun 2020 karena prestasi dan kontribusi yang cemerlang di bidang keteknikan, sebagai pengajar, maupun rektor perempuan pertama di Institut Teknologi Bandung. Purdue Old Masters merupakan salah satu acara silaturahmi dan berbagi pengalaman oleh beberapa alumni yang berprestasi di bidang masing-masing dengan mahasiswa Purdue University.

Prof. Reini merupakan salah satu alumni yang meraih gelar MSCE dan Ph.D dari Purdue University pada 1996 dan 1999. ITB/Purdue Bridge Building Event diharapkan sebagai acara yang memulai jalinan kerja sama dan kolaborasi antara kedua universitas di bidang pendidikan dan penelitian di masa depan.

Acara ini dihadiri oleh Prof. Reini Wirahadikusumah, 3 mahasiswa Purdue University (Assata Gilmore, Derek Lee, dan Marisabel Segovia), dan 4 mahasiswa ITB yaitu Karin Adriana Widyanti (MRI’16), Arif Rahmadian Arifianto (ET’17), Selvia Diwanty (AR’16), dan Billy Akbar Prabowo (MG’16). Acara ini dipandu oleh Direktur Purdue Old Masters Kristen Michael dan Teddy Sergesketter.

Isi dari acara ini adalah diskusi mengenai pengalaman Prof. Reini sebagai mahasiswa Purdue University serta pengalaman-pengalaman mahasiswa dari kedua universitas untuk menemukan kesamaan dan minat yang sama antarkedua pihak.

Prof. Reini menjelaskan bahwa peringatan 100 tahun ITB menjadi salah satu bentuk sumbangsih ITB dalam mengkaji ilmu di bidang sains, seni, teknologi, dan humaniora. “Saya akan berusaha untuk melestarikan budaya di kampus seperti keterbukaan terhadap ide-ide baru, kebebasan akademis, serta menjaga perilaku mahasiswa dan dosen yang baik,” ujarnya.

Panelis lalu menanyakan Prof. Reini mengenai tantangan yang dihadapi sebagai Rektor ITB, khususnya sebagai rektor perempuan pertama dalam sejarah ITB. Prof. Reini menjelaskan bahwa tantangan tersebut adalah change management. “Sebagai kepala institusi, kami memiliki rencana transformasi untuk meraih beberapa capaian di masa depan. Keberlanjutan rencana tersebut merupakan kunci untuk meraih kesuksesan ITB di 100 tahun yang akan datang,’’ jelasnya.

Prof. Reini juga menyampaikan bahwa hubungan dengan mahasiswa, sebagai stakeholder terpenting dalam institusi, menjadi suatu tantangan tersendiri di era pandemi. Namun kehadiran Direktorat Kemahasiswaan membantu rektorat untuk melayani mahasiswa terutama saat kuliah daring.
Sesi selanjutnya adalah diskusi antara mahasiswa ITB dan Purdue University. Pertanyaan pertama dari panelis adalah bagaimana cara mendeskripsikan kampus kepada orang-orang yang belum pernah mengunjungi tempat tersebut.

Assata Gilmore menjelaskan bahwa Purdue University memiliki 13 fakultas dan fakutas pascasarjana. “Saya sebelum diterima sebagai mahasiswa belum pernah ke sana (Purdue University), namun pandangan pertama saya adalah suasana Purdue University mirip dengan film-film Amerika yang bertemakan dengan kampus seperti Pitch Perfect dan lainnya. Suasana kampus menggambarkan beragamnya mahasiswa dan kegiatannya,” jelasnya.

Di sisi lain, Karina Andriana menjelaskan ITB memiliki tiga kampus yaitu Kampus Ganesa, Jatinangor, dan Cirebon. “Kampus utama kami (Ganesa) memiliki keunikan yaitu di bagian depan kampus merupakan bangunan klasik yang asli sejak ITB berdiri sedangkan bagian belakang kampus dipenuhi dengan bangunan modern,” jelasnya.


Selvia juga menambahkan bahwa ITB memiliki pemandangan pegunungan di sisi utara, kampus Ganesa ramah terhadap pejalan kaki dan di bagian kampus terdapat bunga yang hanya mekar saat awal semester dimulai. Terdapat juga Plaza Widya Nusantara yang berada di tengah kampus. Terdapat air mancur dengan dasar peta Indonesia sehingga merupakan air mancur yang unik.

Diskusi antara mahasiswa ITB dan Purdue University berlanjut hingga tentang tradisi unik di kedua kampus, kehidupan sehari-hari sebagai mahasiswa, motivasi untuk terus berkarya sebagai mahasiswa, dan lainnya.

Di akhir diskusi, panelis menanyakan tentang pandangan Prof. Reini sebagai rektor terhadap kesan-pesan mahasiswa dan institusi di masa depan. Prof. Reini menjelaskan bahwa ia bangga terhadap ITB dan mahasiswa ITB karena dapat menginspirasi dan memberi pelajaran dua arah antara pengajar dan mahasiswa. “Kesamaan antara ITB dan Purdue University juga harus dijaga untuk kolaborasi di masa depan. Saya optimis bahwa generasi muda bisa lebih maju dengan tidak melupakan tradisi lama dan dapat berperan aktif sebagai masyarakat dunia,” pungkasnya.

Reporter: Billy Akbar Prabowo (Teknik Metalurgi, 2016)