Webinar Hakteknas 2020: Peran dan Aplikasi Teknologi dan Kesehatan Lingkungan

By Adi Permana

Editor Adi Permana


BANDUNG, itb.ac.id – Komisi Ilmu Rekayasa Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (KIR-AIPI) bersama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelenggarakan webinar ke-2 dengan tema “Teknologi Kesehatan Lingkungan”. Webinar ini diadakan pada 17 Oktober 2020 via platform online Zoom dan siaran langsung Youtube.

Webinar kali ini dibuka dengan sambutan oleh ketua panitia Prof. Masyhur Irsyam. Ia mengatakan, seri webinar ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hakteknas 2020 dengan Topik Kontribusi untuk Bangsa dan Kemaslahatan Umat Manusia dengan judul Teknologi Kesehatan Lingkungan. “Maksud dan tujuan webinar ini adalah mengangkat hasil karya dan kerja anak bangsa dalam bidang rekayasa dan teknologi informasi,” ujarnya.

Selain itu, Ketua Komisi Ilmu Rekayasa AIPI Prof. Aman Wirakartakusumah juga memberikan sambutannya. Menurut Prof. Aman, webinar ini merupakan komitmen dan dedikasi KIR sebagai anggota AIPI untuk memberikan saran dan pandangan mengenai perkembangan Ilmu Rekayasa dan Teknologi Informasi. Saat ini, AIPI sedang merencanakan keberadaan akademi dalam Ilmu Rekayasa dan akademi dalam Ilmu Pangan dan Gizi.

“Semoga hal ini dapat meningkatkan kesejahteraan bangsa kita. Karena Mahatma Gandhi pernah berkata, ‘Harta sejati adalah kesehatan, bukan emas dan perak.’ Apalagi saat pandemi COVID-19, jika didukung dengan lingkungan yang baik, maka hal tersebut akan menopang kesehatan kita semua. Maka dalam rangka mendukung hal tersebut, beberapa topik terkait akan dibahas dalam webinar hari ini,” ujarnya.

Topik pertama dari sesi webinar kali ini dibawakan oleh Prof. Ir. I Gede Wenten, M.Sc., Ph.D., M.H. dengan topik Teknologi Membran Nonmodular: Upaya Pengembangan Industri Membran Indonesia Yang Kompetitif. Prof. Wenten memiliki peranan penting mengenai fluidisasi molekular dan memiliki paten dengan nomor United States Patent US5560828. Selanjutnya, Prof. Wenten banyak memiliki paten untuk banyak pengembangan dan penciptaan peralatan. Salah satunya adalah ultrafilter, yang digunakan untuk air minum dan depot isi ulang atau kebutuhan rumah tangga; kemudian metode ultrafiltrasi untuk gula dan kelapa; ekstraksi minyak dengan minyak untuk palm oil (oil-oil extraction); dan yang paling penting adalah mengenai community-based sustainable water supply.

“Membran adalah selaput semipermeabel yang secara garis besar digunakan untuk menyaring dengan adanya driving force. Aplikasi membran ada banyak di bidang industri, medis, dan bioteknologi. Saat ini research begitu berkembang pesat, dan ada banyak perkembangan teknologi membran. Catatan saya adalah jika kita ingin dan punya keinginan kuat, kita dapat memberikan kontribusi yang luar biasa. Saat ini, kami telah mendalami riset juga dengan MIT dalam proses pengembangan teknologi membran,” ujar Wakil Rektor bidang Riset dan Inovasi ITB itu.

Menurut Prof. Wenten, kunci dari nonmodular membran adalah multy-bore capillary membrane. “Intinya, ini bukan membran keramik, tetapi membran polimer. Kalau satu fiber seperti itu, mudah putus dengan panjang sekian. Dengan multy-bore, membran ini menjadi sangat kuat. Selain untuk efisiensi polimer, ini akan membuat mechanical strength yang sangat baik,” tutupnya.

Topik kedua yang dibawakan adalah Tantangan dalam Membangun Ekosistem Ipteknas dari Perspektif Biomedika, oleh Prof. Dr. Ir. Tati Latifah Erawati Rajab Mengko. Prof. Tati menyampaikan, bahwa kualitas hidup manusia dan kualitas layanan kesehatan sangat penting. Banyak sekali bidang yang terkait dengan hal ini seperti dokter, apoteker, klinik, fasilitas riset, dan rumah sakit. “Semuanya akan saling sinergis. Setiap negara pasti ingin mengembangkan ekosistem nasional yang kondusif agar IPTEK berkembang. Zaman dulu, komunikasi jarak jauh dikenal orang dengan telegram-kode morse dan pengobatan dengan ramuan bahan alamiah. Namun saat ini, komunikasi telah menggunakan internet dan pengobatan dengan pembuatan obat di laboratorium,” ujar Prof. Tati.

Prof. Tati melanjutkan, penelitian memiliki tujuan jangka pendek seperti menyerap IPTEK global, membawa peneliti muda mengenal IPTEK global, dan mencari domain sebagai peluang untuk kompetisi. Namun, tujuan jangka panjang dari penelitian adalah mewujudkan keunggulan manusia. Dampak penelitian tersebut dapat dilihat dari kontribusi IPTEK, kontribusi ekonomi, pengembangan SDM, dan pengembangan kelembagaan.

“Dalam Biomedika, penelitian IPTEK didukung kepakaran multidisiplin yang sangat beragam seperti elektronika, informatika, farmasi, kimia, biologi, mesin, teknik fisika, dan lainnya. Intinya, kita membangun ekosistem kondusif untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan dan hidup manusia Indonesia. Indonesia sebagai tropical archipelago memiliki keunggulan komparatif dalam bidang biomedika: suatu laboratorium alam yang sangat besar dengan tropical bio-diversity,” tambah Prof. Tati.

ITB telah berhasil mengembangkan produk-produk biomedika. Yang pertama adalah perangkat Tele-EKG 12 kanal. EKG merupakan alat untuk mengukur sinyal jantung. Alat ini memiliki cara penggunaan yang sederhana dan telah sampai ke tahap aplikasi dua tahun yang lalu. Selain itu, ada juga NIVA (Non-Invasive Vascular Analyzer) untuk mendeteksi kelenturan pembuluh darah.

“Kenapa alat ini dibuat? Karena jantung adalah komponen utama tubuh manusia dan harus sehat. Produk lainnya yang telah dikembangkan adalah INA-Stent, Perangkat ELISA Reader, kit diagnostik deteki infeksi Hepatitis B, EKG-lysis, Diaretino & Vretino, e-stetoskop, pengolah limbah medis, albatros (alat bantu komunikasi untuk penderita cerebral palsy). Sebagai penutup, usaha keras bersama dibutuhkan untuk menyempurnakan ekosistem layanan kesehatan di Indonesia agar muncul berbagai produk alkes buatan dalam negeri,” tutupnya.

Sebagai penutup, Elis Hastuti, ST., M.Sc., dari Direktorat Bina Teknik Permukiman dan Perumahan, Dirjen Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat membawakan materi berjudul Teknologi Pengolahan Air Skala Komunitas untuk Higiene Sanitasi. Menurut Permenkes No. 32 Tahun 2017, air diperlukan untuk proses higiene sanitasi dalam pemeliharaan kebersihan perorangan, keperluan cuci bahan pangan, peralatan makan dan pakaian serta sebagai air baku air minum. Parameter-parameter tertentu dapat ditentukan sebagai kontrol kualitas air.

“Teknologi IPAS Air Permukaan-Air Sungai Tercemar menjadi perhatian utama. Poin yang diperhatikan adalah intake, pengolahan, dan distribusi. Teknologi IPAS-Air Tercemar telah dimanfaatkan di Waduk Pluit yang memiliki kandungan nitrit, nitrat, dan besi yang tinggi. Pengolahan dilakukan dengan unit intake (filtrasi kasar), unit biologis aerob, dilanjutkan unit hibrid flotasi-biofiltrasi dan unit filtrasi-siklon,” tambahnya.

Sistem biofilter alam dan media lokal seperti batok kelapa serta buah pinang dapat dimanfaatkan pada pemukiman yang memiliki air dengan kualitas gambut warna rendah. Contoh penerapan yang telah dilakukan adalah di Jambi. Pada prosesnya, unit biofilter yang digunakan merupakan biofilter-media lokal dan filtrasi tanah, kerikil, serta tanaman air lokal. Kemudian, proses dilanjutkan dengan unit filtrasi multimedia.

“Teknologi lainnya adalah destilator-hibrid untuk pengolahan air payau dengan pengujian menggunakan air tanah dan air laut. Selain itu, proses IPAL domestik dan daur ulang untuk air higiene sanitasi juga menjadi hal penting. Tahapan yang dilakukan adalah pra pengolahan, pengolahan primer, pengolahan sekunder, serta pengolahan tersier untuk menyingkirkan bakteri-bakteri patogen. Penerapan IPAL lain yang berbasis daur ulang juga telah terdapat di kawasan pesisir,” tutupnya.

Reporter: Christopher Wijaya (Sains dan Teknologi Farmasi, 2016)