284 Mahasiswa Baru Program Studi Program Profesi Insinyur Ikuti Kuliah Perdana dan Kuliah Umum I Semester I TA 2020/2021

By Adi Permana

Editor Adi Permana


BANDUNG, itb.ac.id—Institut Teknologi Bandung mulai melaksanakan kuliah perdana Semester I tahun akademik 2020/2021 untuk Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) pada Senin (21/9/2020). Pada kuliah ini, tidak hanya pengenalan program studi, tetapi juga diisi dengan kuliah umum dari Prof. Djoko Santoso dan Menteri ESDM RI, Ir. Arifin Tasrif.

Hari pertama kuliah PSPPI tersebut dibuka terlebih dahulu dengan sambutan dari Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB Prof. Dr. Ir. Jaka Sembiring, M.Eng. Ia menyampaikan bahwa tahun ini, ITB menerima 284 orang mahasiswa baru PPI pada 18 sub program studi. Dari keseluruhan jumlah tersebut, 281 mahasiswa mengikuti jalur RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau) dan 3 mahasiswa mengikuti jalur reguler.

Prof. Jaka menyampaikan, meskipun hingga hari ini kita masih bergelut dengan COVID-19 dan berusaha mengatasi dampaknya, kita harus tetap optimis dalam melihat masa depan. Pandemi dan berbagai bentuk bencana, menurutnya, senantiasa hadir dalam kehidupan umat manusia. “Kehadiran bencana juga masalah hidup justru jadi faktor penting yang memicu dan memacu perkembangan iptek, seni, dan ilmu sosial-kemanusiaan lainnya,” ungkapnya mewakili Rektor ITB.

Sebagai upaya pencegahan penyebaran COVID-19, sejak Maret 2020 ITB telah memberlakukan penutupan kampus secara terbatas. Hal tersebut sejalan dengan PSBB yang dilakukan oleh pemerintah. Saat ini, pemerintah tengah melakukan pemulihan ekonomi seiring diberlakukannya Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Maka ITB pun tengah melakukan relaksasi secara bertahap dengan membuka kampus untuk kegiatan tertentu yang sesuai dengan protokol kesehatan yang berlaku.

Tidak lupa, Prof. Jaka berpesan kepada mahasiswa baru PSPPI untuk selalu menjaga kesehatan dan stamina, serta motivasi belajar yang tinggi. Jangan ragu berkonsultasi, baik dengan dosen pembimbing, koordinator Sub prodi, kaprodi, pihak fakultas/sekolah, untuk mengikuti perkuliahan sebaik-baiknya.
“Komunikasi adalah faktor kunci dengan komunikasi berbagai dampak dari COVID-19 ini akan bisa kita hadapi bersama. Saya ingin mengajak untuk melakukan komunikasi yang baik dan efektif, baik inperson maupun di media sosial, baik antara dosen-mahasiswa, antara mahasiswa dan kepada tenaga pendidikan,” pungkasnya.

Setelah dibuka, acara selanjutnya adalah kuliah umum dari Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso, M.Sc., yang membawakan topik “Kode Etik dan Etika Profesi Insinyur”. Menurut Prof. Djoko, insinyur sangat dibutuhkan untuk pembangunan di Indonesia. Oleh karena itu, insinyur mempunyai tanggung jawab harus bermanfaat bagi masyarakat. Dalam menjalankan tugas keprofesionalannya, seorang insinyur juga harus menerapakan etika.

Ia mengatakan, profesionalisme merupakan ciri dari insinyur yang profesional. Hal tersebut dapat dilihat dari perilaku insinyur dalam berpraktik dan bersikap sebagai bagaian dari masyarakat; perolehan penghargaan/pengakuan dari klien/pengguna jasa keinsinyuran; pengakuan masyarakat luas atas karya keinsinyuran yang dimanfaatkan masyarakat luas; pekerjaan yang diselesaikan dengan baik; pengembangan keberpihakan terhadap hak dan kewajiban keinsinyuran; dan pengembangan prinsip profesionalisme secara berkelanjutan.

Prof. Djoko juga menyampaikan bahwa ciri-ciri insinyur yang profesional adalah kompeten secara teknis; mengerti secara ekonomi; paham secara politik; sadar lingkungan; dan sensitif terhadap ekonomi.

"Insinyur harus profesional, sehingga beretika. Dan etika akan mengendalikan kegiatan keinsinyuran. Selain itu, etika juga akan menjamin hubungan antara insinyur dengan masyarakat dan menjamin kesejahteraan masyarakat," pungkasnya.

Sementara itu, Menteri ESDM Ir. Arifin Tasrif banyak bercerita tentang pengalaman hidup dan kariernya sebagai insinyur. Alumni ITB itu, sempat bekerja di beberapa BUMN dan kini menjabat sebagai Menteri. Pengalaman-pengalaman tersebut yang membawa Arifin Tasrif banyak belajar keteknologian di bidang kimia.

Ia berpesan, profesi insinyur selain memang melaksanakan tugas rutin namun ada baiknya harus selalu memikirkan aspek nilai tambah, yaitu menghasilkan sesuatu yang baru dan berdampak kepada masyarakat yang luas. “Harus bangga dengan profesi insinyur. Coba membangun budaya teamwork. Kita harus saling membantu, kalau sendiri-sendiri kemampuan tidak akan terakumulasi dan termanfaatkan dengan baik. Cobalah saling berkomunikasi dan sharing sehingga menghasilkan sesuatu yang baru yang bermanfaat," ujarnya.