Perkembangan Riset Artificial Intelligence di ITB Selama Masa Pandemi COVID-19

By Adi Permana

Editor -

BANDUNG, itb.ac.id – Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah membantu banyak hal, terutama saat pandemi COVID-19 yang terjadi di Indonesia sejak Maret 2020 lalu. Penelitian AI untuk masa pandemi merespons kejadian yang terjadi dengan cepat dan berusaha secara cepat pula untuk mengumpulkan dan mengolah data.

Pada acara ITB Talks, dosen Program Studi Teknik Informatika, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, Dr. Eng. Ayu Purwarianti, S.T., M.T. menuturkan bahwa kolaborasi penelitian terutama saat pandemi sangat penting karena permasalahan yang terjadi telah berdampak pada segala aspek kehidupan.

Ia menuturkan, AI berguna untuk mengolah data terstruktur dan data tidak terstruktur yang melibatkan beberapa pihak, yaitu Domain Expert dan AI Algorithm Expert. Data yang diperoleh dari pengolahan data adalah actionable insight yang akan menjadi masukan para pemegang kebijakan untuk memilih langkah terbaik untuk menyelamatkan masyarakat. “AI tidak akan menggantikan manusia, namun akan membantu para professional untuk mengambil keputusan dan pertimbangan dalam suatu pekerjaan,” ujarnya, Rabu (18/8).

Tak hanya memengaruhi kesehatan, pandemi juga memengaruhi perekonomian negara. Hal tersebut berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat selama beberapa bulan terakhir. Merespons hal tersebut, Pusat AI ITB telah merancang simulasi AI untuk meneliti tingkat konsumsi masyarakat atau disebut juga dengan Nowcasting Daya Beli Masyarakat. Bekerja sama dengan Kementerian PPN/Bappenas, Nowcasting Daya Beli Masyarakat bertujuan untuk membuat model nowcasting daya beli masyarakat suatu wilayah berdasarkan data terstruktur (data pangan dan nonpangan). Penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh pemegang kebijakan untuk melakukan beberapa tindakan meningkatkan kondisi perekonomian negara.

Tak hanya dalam bidang ekonomi, AI juga dapat memetakan human behaviour terutama untuk mendeteksi kerumunan dan jarak aman pada lokasi-lokasi tertentu. “Selain itu, AI juga dapat mendeteksi pemakaian masker dan people tracking untuk mencegah penyebaran COVID-19. Beberapa CCTV di ITB telah dilengkapi oleh deteksi kerumunan,” ungkap Ayu.

Biometrik ucapan (touchless) dapat menggantikan sidik jari atau PIN yang memerlukan sentuhan, dapat digabungkan dengan teknologi face recognition pada pendeteksi kerumunan.
Selain itu, AI berguna untuk menangkap opini masyarakat di media sosial (social media monitoring), terutama hal-hal yang berkaitan dengan pandemi. Salah satu contohnya adalah ketika pemerintah pusat mengeluarkan kebijakan tertentu selama pandemi, maka AI akan menghimpun opini masyarakat dan dapat menilai kebijakan tersebut diterima secara positif atau tidak. “Kita dapat mengambil informasi dan menganalisis dengan AI. Selain kaitannya terhadap kebijakan pemerintah, AI juga dapat mendeteksi hoax,” tutur Ayu. Penelitian Hoax Classification dapat menilai kebenaran suatu informasi yang tengah tersebar di Indonesia.

Pusat Artificial Intelligence ITB juga telah mengembangkan chatbot triase untuk Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit di Indonesia. Chatbot ini berguna sebagai pengecekan kesehatan awal pasien di rumah sakit sehingga dapat meminimalisir paparan COVID-19 dari pasien ke petugas rumah sakit atau sebaliknya. Chatbot akan menggolongkan kegawatdaruratan pasien menjadi kelompok ringan, sedang, dan berat sehingga dapat ditangani secara langsung sesuai dengan golongannya.

Reporter: Billy Akbar Prabowo (Teknik Metalurgi, 2016)