Tekad Beasiswa G86 untuk Menciptakan Manusia Berkarakter demi Indonesia yang Lebih Baik

By Adi Permana

Editor Adi Permana


BANDUNG, itb.ac.id – Data dari Semua Murid Semua Guru (SMSG) menunjukkan bahwa terdapat tiga belas juta anak Indonesia yang tidak memiliki akses terhadap pendidikan. Angka ini merupakan angka yang besar serta berkorelasi erat dengan tingkat kemiskinan. Salah satu faktor yang menyebabkan anak Indonesia tidak memiliki akses terhadap pendidikan adalah faktor ekonomi. Hasil survei dari berbagai lembaga membuktikan bahwa tidak sedikit anak-anak yang putus sekolah karena keterbatasan biaya yang mereka miliki. Akibat tingkat pendidikan yang rendah, tak jarang banyak warga negara yang sulit mendapatkan pekerjaan. Dari sekian banyak pekerja, tidak sedikit pula pekerja yang merasa upahnya masih rendah karena rendahnya tingkat pendidikan mereka. Upah yang rendah juga seringkali dikeluhkan karena tidak cukup digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi merupakan lingkaran setan yang menjadi masalah sejak dahulu dan harus dapat dientaskan.

Melihat kondisi pendidikan yang memprihatinkan, alumni ITB angkatan 1986 tergerak untuk membantu mahasiswa ITB serta anak-anak dari alumni ITB angkatan 1986 yang kesulitan dalam hal finansial. Para alumni ini juga menyadari bahwa masih banyak mahasiswa ITB yang kesulitan dalam hal finansial. Alumni ITB kemudian membentuk Beasiswa G86; huruf G merupakan kependekan dari Ganesha. Terbentuknya beasiswa ini berawal dari kegiatan reuni ke-30 tahun alumni ITB Angkatan 1986. Para alumni ini menyadari bahwa seharusnya mereka dapat menciptakan kegiatan reuni yang tidak hanya tentang bersenang-senang karena dapat bersilaturahmi dengan teman-teman satu angkatan, melainkan juga berbagi dengan sesama yang sedang kesulitan.

Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, Beasiswa G86 menyelenggarakan zoom gathering dengan tema “Campus, the Centre of Excellent and Great Talent” melalui aplikasi Zoom. Acara tersebut dilaksanakan pada hari Minggu (26/07/20). Pembicara pada acara tersebut adalah Ida Rachmawati selaku Koordinator Beasiswa G86, Rektor ITB Reini Wirahadikusumah, Budi Gunawan Sadikin yang merupakan Wakil Menteri BUMN, dan salah satu dosen Sekolah Bisnis Manajemen (SBM) ITB, Priyantono Rudito. Acara yang dimulai dengan pemutaran video lagu “Bagimu Negeri” ini juga dihadiri oleh para penerima Beasiswa G86.

Pendidikan Merupakan Kunci untuk Membangun Indonesia

Ida Rachmawati menyatakan bahwa pada tahun 2016 Beasiswa G86 hanya memberikan beasiswa kepada sembilan orang mahasiswa. Berkat kebaikan para donatur serta kegigihan pengelola beasiswa, saat ini total mahasiswa yang menjadi penerima Beasiswa G86 ini adalah 166 mahasiswa. Jumlah dana yang dikeluarkan sejak tahun 2016 hingga sekarang adalah Rp711.900 juta. Ida menegaskan bahwa target dana minimal yang dikeluarkan adalah Rp400 juta. Selama ini sumber dana Beasiswa G86 adalah donatur pribadi yakni para alumni ITB angkatan 1986, kas alumni ITB angkatan 1986, dan kas dari Master Golf ITB. Master Golf ITB merupakan kegiatan yang dilakukan oleh para alumni ITB angkatan 1986 pegiat golf. Beasiswa G86 juga membuka kesempatan bagi siapapun yang ingin menjadi donatur beasiswa tersebut.

Ida meyakini bahwa pendidikan merupakan aspek yang penting untuk membangun perekonomian suatu negara. Di masa pandemi COVID-19, perekonomian negara tidak dapat dikatakan baik-baik saja. “Sepatutnya kita ikut serta mengentaskan keadaan ekonomi yang memburuk di Indonesia”, tutur Ida. Banyak warga negara Indonesia yang mengeluhkan keadaan ekonomi yang memburuk dan menuntut pemerintah untuk segera memperbaiki kondisi tersebut. Menurut Ida, pemerintah tentu sudah melakukan yang terbaik untuk memperbaiki perekonomian negeri ini. Ia juga menambahkan bahwa memperbaiki kondisi negara yang sedang terpuruk bukan hanya tanggung jawab pemerintah melainkan seluruh warga negara.

Alumni yang Peduli Merupakan Aset ITB yang Berharga

Rektor ITB Reini Wirahadikusumah berpendapat bahwa salah satu aset ITB adalah para alumninya yang begitu peduli pada sesama. Untuk memperkuat hubungan dengan alumni, telah dipilih Kepala Kantor Alumni ITB yakni Dede Koswara yang dinilai kompeten di bidangnya. Reini menyinggung banyaknya beasiswa yang tersedia di ITB namun kurang tersosialisasikan dan tidak terpusat. Inilah yang sedang menjadi salah satu fokus utama ITB saat ini. Ke depannya, ITB akan membuat sebuah sistem secara terpusat yang dapat mengelola seluruh informasi tentang beasiswa sehingga lebih banyak mahasiswa yang dapat memperoleh beasiswa. Reini menegaskan bahwa ITB perlu meningkatkan kemampuan dalam hal strategic communication.

Selain itu, ITB sedang mempersiapkan strategi supaya beasiswa yang diberikan tidak hanya berupa uang. Reini berharap bahwa beasiswa yang diberikan bisa dalam bentuk soft skill, misalnya dapat membentuk karakter yang tangguh dalam diri para penerima beasiswa terutama ketangguhan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan. Mahasiswa juga diharapkan aktif dalam bidang akademik serta mengembangkan soft skill.

Karakter yang Dicari dalam Dunia Kerja

Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa saat ini total BUMN di Indonesia sekitar 102-103. Total aset BUMN lebih dari delapan ratus triliun. Angka ini bahkan lebih besar daripada aset negara. Dengan total aset yang besar serta peran BUMN yang begitu besar terhadap perekonomian negara, maka Indonesia membutuhkan optimasi dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan BUMN. “Kita harus memilih mahasiswa-mahasiswa yang paling baik. Kita harus memilih putra-putri yang paling baik untuk menempati posisi di pimpinan-pimpinan BUMN”, ujar Budi. Pemimpin-pemimpin yang berkualitas akan mampu mengoptimalkan peran BUMN.

“Orang yang kita (BUMN) cari adalah yang memenuhi budaya AKHLAK,” lanjut Budi. AKHLAK sendiri terdiri atas kata amanah, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, dan kolaboratif. Budi menekankan bahwa akhlak erat kaitannya dengan integritas, karena integritas sangat memengaruhi kualitas pimpinan. Karena akhlak yang merupakan bagian dari pendidikan hati jarang diberikan dalam pendidikan formal, Budi pun menyarankan supaya mahasiswa mengeksplorasi diri dengan aktif dalam kegiatan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), asosiasi mahasiswa, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dan kegiatan sejenis. Melalui kegiatan di luar bidang akademis biasanya akhlak para mahasiswa dibentuk.
Budi menambahkan bahwa BUMN juga berupaya mencari anak-anak Indonesia yang kompeten di bidangnya sehingga berbagai sumber daya dalam negeri mampu dikelola oleh anak negeri. Budi mencontohkan salah satu situs tambang terbesar dan terkompleks di dunia, tambang Freeport. Budi sangat berharap bahwa pertambangan di Tembagapura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua ini dapat dioperasikan oleh insinyur-insinyur dalam negeri. Sebelum mengakhiri paparannya, Budi berpesan, “Jangan lupa teman-teman (mahasiswa), pilihlah pekerjaan yang dengannya anda akan mendapatkan atasan yang baik. Jangan hanya kejar gaji.” Hal ini dikarenakan sistem dan tatanan organisasi atau perusahaan tempat kita bekerja akan turut membentuk karakter individu.

Invest in People sebagai National Strategic

Priyantono Rudito atau akrab disapa Pri menggarisbawahi salah satu tugas penerima beasiswa adalah menjadi pemimpin yang lebih baik. Dosen SBM ITB ini pun memaparkan hasil meta analysis-nya tentang “Human Resource Outlook and Trends 2020-2025” terhadap sembilan konsultan level dunia. Dari hasil risetnya ternyata hal yang menjadi fokus generasi milenial dan generasi Z adalah interest dan opportunity. Uang tidak menjadi fokus yang utama bagi kedua generasi tersebut. Ini berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa diperlukan strategi yang baru untuk menyiapkan orang-orang hebat dengan cara yang cepat terutama di era digital untuk membangun Indonesia.
Dari hasil risetnya, Pri menyimpulkan bahwa untuk menyiapkan talenta Indonesia di era digital diperlukan Strategic Leverage yang dapat dilakukan dengan mengembangkan talenta menggunakan tiga pendekatan. Tiga pendekatan tersebut, yaitu 3E dan 3C. 3E terdiri atas enthusiasm, eduknowledge, dan exposure. 3E kemudian diterjemahkan menjadi 3C yakni character, competence, dan collaboration. Kampus memiliki peranan untuk menyiapkan talenta-talenta Indonesia untuk menjadi pemimpin yang berkualitas. “Pendidikan itu sifatnya harus membangun antusiasme yang tinggi,”ujar Pri.

Setelah meneliti tentang karakter orang-orang sukses, Pri menemukan bahwa orang-orang sukses itu berkarakter (berakhlak) hebat. “Invest in people sebagai national strategic yang pertama dan utama,” tambah Pri sebelum menutup paparannya.

Kesan dan Harapan Penerima Beasiswa G86

Asep Saepul Fahmi, salah satu penerima Beasiswa G86, juga menyampaikan kesannya untuk Beasiswa G86. Menurut mahasiswa yang berasal dari Tasikmalaya ini, ia sangat terbantu dengan adanya beasiswa ini terutama ketika kegiatan perkualiahan dilaksanakan secara daring akibat pandemic COVID-19. Asep yang biasanya bekerja, di samping kuliah, kehilangan pekerjaannya ketika pandemi melanda. Ia sangat bersyukur karena terbantu dengan adanya Beasiswa G86 sehingga kebutuhan sehari-hari keluarganya bisa tercukupi.
Ria Rista Rahmawati merupakan salah satu penerima Beasiswa G86 yang telah lulus pada Juli 2018. Ria mengenang kisahnya di mana keluarganya memiliki kesulitan dalam hal finansial karena ayahnya baru saja meninggal. Ia kemudian mendaftar sebagai penerima Beasiswa G86. Kepada audiens yang hadir dalam acara zoom gathering, ia berterima kasih pada Beasiswa G86 serta para donatur yang telah memberikan kesempatan untuk menerima Beasiswa G86. Ria pun mengutarakan berita gembira bahwa ia telah diterima di salah satu universitas di Korea Selatan sehingga ia akan segera berangkat ke Korea Selatan untuk melanjutkan studi di jenjang S2.

Sebagai penerima Beasiswa G86, Ria merasa mendapatkan banyak motivasi dan dukungan sejak menjadi penerima Beasiswa G86. Menurut Ria, di ITB sebenarnya banyak mahasiswa yang membutuhkan beasiswa terutama para mahasiswa yang berasal dari daerah. Hal ini disebabkan biaya hidup di Bandung lebih tinggi daripada di daerah asal. “Saya harap ke depan, penerima Beasiswa G86 bisa lebih banyak lagi, menjaring mahasiswa ITB yang layak untuk mendapatkan beasiswa dan juga orang-orang yang perlu dibantu,” ujar Ria.

Reporter : Restu Lestari Wulan Utami (Biologi, 2017)