Peran Teknologi Pengolahan Air Limbah dalam Mencegah Penyebaran Virus

By Adi Permana

Editor -


BANDUNG, itb.ac.id--Kelompok Keahlian Rekayasa Air dan Limbah Cair Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung mengelar webinar series pertama dengan tema “Peran Teknologi Pengolahan Air Limbah dalam Mencegah Penyebaran Virus” pada Kamis, 16 Juli 2020.

Tujuan diadakannya webinar ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan serta kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kualitas air bersih dan ketersediaan air yang aman bagi masyarakat. Webinar ini menghadirkan Prof. Ir. Mindriany Syafila, M.S., Ph.D. dan Dr.-Ing. Marisa Handajani S.T., M.T., sebagai pembicara serta Dr. Muhammad Sonny Abfertiawan, S.T., M.T., selaku moderator.

Pada sesi pertama, Prof. Ir. Mindriany Syafila, M.S., Ph.D., membawakan presentasi mengenai virus, air limbah, dan kesehatan masyarakat. Ia mengatakan, virus merupakan mikroorganisme patogen yang menginfeksi sel makhluk hidup. Virus hanya dapat bereplikasi di dalam sel makhluk hidup sebab virus tidak mempunyai komponen seluler untuk bereproduksi sendiri. Virus dapat menginfeksi manusia dengan berbagai cara, seperti menyerang sistem pernapasan maupun saluran pencernaan.

Komponen yang terdapat dalam air limbah domestik dapat mencerminkan kondisi manusia dari pencernaannya. Pada feses dapat ditemukan mikroorganisme yang umumnya bersifat patogen enterik. Kehadiran patogen tersebut di dalam lingkungan dapat menandakan telah terjadi kontaminasi fekal dan risiko transmisi penyakit meningkat. Salah satu upaya untuk memutus transmisi ini adalah dengan menggunakan teknologi sanitasi berupa pengolahan air limbah yang mampu menyisihkan patogen.

“Tantangan kita ke depan adalah kita harus mempunyai perhatian khusus terkait keberadaan virus dan karakteristiknya dalam air. Jadi, ini mungkin sudah harus kita lakukan untuk mengindentifikasi ataupun menjadi indikator untuk suatu penyakit tertentu,” ujar Prof. Mindriany.

Sesi kedua dibawakan oleh Dr. Ing. Marisa Handajani S.T., M.T. dengan mengusung tema “Peran Teknologi Pengolahan Air Limbah dalam Mencegah Penyebaran Virus”. Sesi ini bertujuan untuk menjawab tantangan yang diutarakan oleh Prof. Mindriany pada sesi sebelumnya mengenai kebutuhan teknologi pengolahan air limbah yang handal untuk menyisihkan atau menginaktivasi virus dan memenuhi baku mutu yang berlaku. Dr. Marisa mengawali presentasinya dengan berpesan, “Kita perlu mulai memperhatikan mikroorganisme yang ada di dalam air limbah, terutama kalau di dalam air limbah itu terkandung atau berasal dari aktivitas domestik.”


Teknologi pengolahan air limbah yang bertujuan untuk mencegah penyebaran virus. Saat air tersebut dibuang ke lingkungan dapat dibagi menjadi dua, yaitu penyisihan virus dan inaktivasi virus. Penyisihan virus adalah suatu proses untuk meningkatkan keamanan dari virus dengan menghilangkan atau memisahkan virus dari medium pembawanya. Penyisihan virus memerlukan suatu teknologi yang dapat memerangkap virus yang termasuk kategori material koloid agar turut tersisihkan bersamaan dengan padatan. Sedangkan, inaktivasi virus adalah suatu proses untuk meningkatkan keamanan dari virus dengan tujuan mematikan virus tersebut. Inaktivasi virus memerlukan teknologi (dan/atau bahan kimia) yang dapat menghancurkan kapsid dan genom dari virus.

Dr. Marisa mengungkap, unit-unit IPAL (kecuali disinfeksi) tidak dirancang untuk menghilangkan virus, tetapi untuk menghilangkan padatan tersuspensi, zat organik, dan penyisihan nutrien. Tidak ada unit yang dapat menyisihkan semua virus yang ada di air limbah atau air baku. Sehingga untuk dapat meningkatkan penyisihan virus, perlu diterapkan kombinasi beberapa jenis unit pengolahan, seperti mikrofiltrasi, ultrafiltrasi, nanofiltrasi, dan reverse osmosis.

“Kombinasi antara sedimentasi dan saringan pasir juga dapat meningkatkan penyisihan virus. Jadi, menyisihkan sekitar 0,65 sampai dengan 2,85 unit log untuk penyisihan virus. Jadi, sebelum proses disinfeksi, di dalam instalasi pengolahan air limbah, sebagian virus sudah dapat kita sisihkan dengan cara proses penyisihannya bersamaan dengan penyisihan padatan yang ada di dalam air limbah,” tambahnya.

Selain dengan penyisihan virus, teknologi pengolahan air limbah juga dapat menerapkan inaktivasi virus untuk mencegah penyebaran virus. Inaktivasi virus dapat dilakukan dengan proses kimia maupun fisika. Pada proses kimia, bahan kimia ditambahkan ke dalam air limbah dengan tujuan untuk merusak struktur kapsid, protein, genom, atau asam nukleat virus. Sedangkan inaktivasi virus dengan proses fisika dilakukan dengan penambahan energi ke dalam air limbah. Dua proses fisika yang umum diterapkan adalah paparan panas dan radiasi sinar ultraviolet.

Sama seperti pada akhir sesi sebelumnya, Dr. Marisa juga mengungkapkan tantangan yang akan dihadapi di masa depan terkait dengan teknologi penyisihan dan inaktivasi virus. Tantangan-tantangan tersebut adalah mencari metode yang mudah dalam kuantifikasi dan karakterisasi virus dalam air limbah, mencari bioindikator yang dapat menjadi penanda keberadaaan virus dalam air limbah, serta inaktivasi virus dalam fasa padat.

*Webinar #1 KK RALC FTSL ITB tersebut dapat disaksikan ulang melalui youtube pada tautan berikut: https://www.youtube.com/watch?v=xZEbjSusT_A&t=2632s

Reporter: Michael Widjaja (Teknik Pertambangan, 2016)