Model Bisnis di Era New Normal melalui Digitalisasi Usaha Mikro dan Kecil Berbasis Komunitas

By Adi Permana

Editor Adi Permana


BANDUNG, itb.ac.id – Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB kembali mengadakan webinar pada Kamis, 2 Juli 2020. Webinar ini merupakan webinar ketiga dari Seri Webinar SAPPK yang diisi oleh Kelompok Keahlian Sistem dan Pemodelan Ekonomi SAPPK ITB dan membawa topik “Model Keberlangsungan Usaha pada Era New Normal melalui Digitalisasi Usaha Mikro dan Kecil Berbasis Komunitas”.

Webinar ini menghadirkan empat pembicara yang memiliki latar belakang berbeda, yaitu Dr. Ir. Kartib Bayu, M.Si., Bambang Elfianto sebagai Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan RI, Gandung Pratidhina S.E., M.M., sebagai Manajer Perencanaan dan Pengembangan CDC Telkom Indonesia, dan Darwinah, S. PdI., dan Prof. Dr. Eng. Pradono, S.E., M.Ec.Dev., sebagai moderator.

Sesi pertama webinar ini diisi oleh Dr. Ir. Kartib Bayu, M.Si., yang membawakan topik “Model Keberlangsungan Usaha pada Era New Normal melalui Digitalisasi Usaha Mikro dan Kecil Berbasis Komunitas”. Pada sesi tersebut, Kartib mengemukakan bahwa pandemi COVID-19 telah memberikan dampak kepada tiga sektor, yaitu kesehatan, ekonomi, dan sosial. Pada sektor ekonomi khususnya, terjadi beberapa hal seperti munculnya pengangguran, kemiskinan, serta banyaknya perusahaan yang memberhentikan operasionalnya. Salah satu industri yang terdampak secara ekonomi akibat COVID-19 adalah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

“Pada krisis tahun 1998 dan 2008, Usaha Mikro dan Kecil (UMK) bisa diandalkan untuk menjadi penyangga atau penyelamat dari krisis ekonomi Indonesia. Namun, pada 2020, justru UMK yang terpukul dan rentan,” ujar Kartib.


Dalam menghadapi COVID-19, banyak UMKM yang mengalami kebingungan dalam menjalankan operasionalnya. Oleh karena itu, peninjauan solusi dapat digunakan menggunakan model yang membagikan beberapa kegiatan usaha menjadi tiga bagian utama, yaitu pasar input, produk, dan pasar output. Setelah itu, perlu dipertimbangkan juga beberapa aspek, seperti input produksi, inovasi produk, komunikasi (promosi), pengiriman, transaksi pembayaran, serta konsumen.

Untuk mengubah model bisnis UMK selama era new normal, maka UMK perlu membangun sistem atau program yang mudah digunakan dan mudah diakses, memberikan pengetahuan dan keterampilan pemanfaatan teknologi informasi untuk usahanya, serta memberikan fasilitas untuk mempermudah akses digital.

Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah keterkaitan usaha UMKM, yang mencakup hubungan produk, digitalisasi, dan logistik. Keterlibatan pihak luar seperti pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga pengembangan masyarakat, penyedia infrastruktur sistem dan akses internet, serta Kementerian Tenaga Kerja Republik Indonesia juga menjadi contoh dari beberapa faktor pendukung eksternal untuk keberlangsungan UMKM.

Pada sesi kedua, Bambang Elfianto memberikan paparan terkait “New Normal dan New Mindset”. Ia menjelaskan bahwa pandemi COVID-19 telah mengakibatkan shockwave untuk Indonesia pada skala besar hingga skala individual, yakni terkait aspek kesehatan dan ekonomi. Selain itu, COVID-19 juga menyebabkan turunnya jumlah transaksi pada retailer dan meningkatnya penggunaan aplikasi digital.

“Yang perlu perlu disiapkan saat ini adalah new mindset, berani berpikir tentang survive dari krisis ini. Jadi, yang saat ini dibutuhkan adalah survival instinct,” ujar Bambang
Pada sesi ketiga, Gandung Pratidhina memberikan paparan mengenai “Program Kemitraan dan Bina Lingkungan Telkom Indonesia”. Sebagai sebuah perusahaan telekomunikasi, Telkom berperan dalam menyediakan infrastruktur digital di Indonesia. Selain itu, Telkom juga turut berperan dalam mengembangkan komunitas sekitar melalui praktik CSV (Creating Shared Value), yang berfokus dalam menciptakan nilai (value).

Pada sesi terakhir, Darwinah memberikan penjelasan mengenai “Model Usaha di Era New Normal Berbasis Komunitas”. Beliau mengemukakan bahwa pandemi COVID-19 memberikan dampak yang sangat signifikan untuk UMKM. Beberapa dampak yang dialami UMKM meliputi pergerakan ekonomi yang mengalami kemunduran, banyak UMKM yang gulung tingkar, banyaknya pengangguran, sulitnya ekspor beberapa komoditas, serta banyaknya UMKM yang masuk dalam daftar orang miskin baru.

“Di era new normal ini, banyak sekali hal yang ingin dilakukan siapa pun untuk mendapatkan uang agar bisa menutupi kebutuhan hidup sehari – hari,” ujar Darwinah.
Darwinah juga menekankan bahwa walaupun pemerintah telah memberikan banyak ide yang bagus untuk membantu UMKM, bantuan tersebut bukanlah solusi yang dapat menyelesaikan permasalahan yang dialami UMKM pada masa pandemi. Untuk mengatasi hal tersebut, Darwinah menjelaskan beberapa tindakan yang dapat dilakukan oleh UMKM agar bisnisnya terus berlangsung, salah satunya adalah memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran agar produk tetap bisa terjual.

Pada akhir sesi, Darwinah menjelaskan bahwa perlu adanya kerja sama dan kolaborasi dengan beberapa pihak, yaitu pemerintah pusat, perguruan tinggi, pemerindah daerah, BUMN seperti PT Telkom, pihak swasta, serta masyarakat, dan komunitas. Ia menilai, pihak-pihak terkait bisa terus bersama–sama membantu UMKM selama masa pandemi COVID-19 agar para pelaku UMKM bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kembali menjalankan operasional UMKM mereka.

Reporter: Verdyllan Nurendra Agusta (Teknik Industri, 2016)