Tim ITB Juara Internasional dalam Industrial Skills Event IPSF

By Adi Permana

Editor -


BANDUNG, itb.ac.id – Mahasiswa ITB berhasil menjadi juara internasional dalam kompetisi Industrial Skills Event 2020 yang diselenggarakan secara daring oleh organisasi mahasiswa farmasi internasional IPSF (International Pharmaceutical Students Federation). Pengumuman juara tersebut berlangsung pada 1 Juni 2020.

Industrial Skills Event IPSF memberikan kesempatan bagi mahasiswa farmasi dalam ajang internasional untuk meningkatkan kemampuan dalam proses pengembangan produk di industri farmasi. Tahun ini, IPSF bekerja sama dengan perusahaan asal Korea Selatan yaitu The Korean Industrial Pharmacist Association dan Pharma Research Products Co., Ltd. Melalui lomba ini para peserta diharapkan dapat menganalisis kasus yang diberikan serta menyediakan solusi untuk kasus tersebut. Terdapat tiga bidang yang dilombakan yaitu Production, Marketing, dan Regulatory Affair.

Tim ITB berhasil menjadi juara pada bidang Production dengan nomor tim 137. Tim terdiri dari Natasha Christabella, Evelyn Tirza, Stefani Anabella, Felia Triesya, dan Lydia Husen Kartadinata. Mereka adalah mahasiswa Sains dan Teknologi Farmasi 2016. Natasha dan tim berhasil menjadi juara pertama setelah berhasil merancang dan mengevaluasi formula Obat Tetes Mata (OTM, eyedrop) dengan bahan utama sodium polydeoxyribonucleotide (PDRN), yaitu protein berupa DNA sperma dari ikan salmon, yaitu jenis Oncorhynchus mykiss (Salmon Trout) dan Oncorhynchus keta (Chum Salmon).


"Kami tertarik untuk mengikuti lomba karena kami dapat menerapkan secara nyata pembelajaran yang telah diterima selama kuliah di Sains dan Teknologi Farmasi ITB. Kami juga ingin mendapat lebih banyak pengalaman dengan berpartisipasi dalam lomba internasional untuk memperluas pengetahuan mengenai produk dan permasalahan yang ada di industri farmasi skala internasional,” ujar Natasha kepada reporter Humas ITB.

Anggota tim lain, Lydia menceritakan pengalamannya mengikuti lomba ini. Menurutnya, lomba tersebut mengutamakan proses analisis, evaluasi zat aktif yang telah diberikan, cara sterilisasi serta produksi yang tepat agar mencapai kualitas, efikasi, serta keamanan yang diinginkan. “Dari ketiga bidang, kami memilih bidang produksi karena kami merasa paling familiar dengan bidang tersebut dan dapat memaksimalkan pengetahuan yang kami dapatkan selama kuliah,” tambahnya.

Ide membuat formula obat tetes mata ini telah dirancang sedemikian rupa oleh tim sehingga bukan hanya sekadar untuk memenangkan lomba, namun bersifat aplikatif sehingga dapat diterapkan oleh industri farmasi secara luas. “Industri farmasi yang memang melakukan produksi OTM dengan zat aktif protein seharusnya bisa langsung menerapkan ide kami sebagai salah satu referensi. Selain itu, ide kami juga dapat diterapkan untuk merancang tata letak ruang produksi, cara sterilisasi, prosedur, dan kriteria evaluasi sediaan pada produksi sediaan steril secara umum," ujarnya.

Untuk menerapkan ide tersebut, tentunya ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan. “Tahapan tersebut adalah produksi skala pilot, kemudian pemeriksaan kompatibilitas eksipien, proses produksi, dan evaluasi. Selanjutnya, baru dapat dilakukan produksi skala besar yang mengacu pada CPOB. Kerja sama yang baik dengan industri farmasi juga diperlukan agar ide tersebut dapat tersalurkan dengan baik,” ujar Felia.

Mereka mengalami proses yang panjang untuk menjadi juara, mulai dari melakukan pendaftaran, mengikuti Introductory Workshop, lalu masuk ke tahapan utama yang diawali dengan Case Release hingga melakukan pengumpulan proposal serta video yang telah dibuat. Hingga akhirnya, ditetapkan sebagai juara internasional setelah melakukan presentasi ide secara daring pada 1 Juni 2020 lalu.

Evelyn mengatakan, banyak tantangan yang mereka hadapi untuk menjadi juara. Setelah ini, harapan mereka adalah pengalaman yang diperoleh dapat diimplementasikan untuk mengembangkan industri farmasi ke depannya. “Kami berharap dapat menginspirasi mahasiswa lain untuk berpartisipasi dalam berbagai lomba, karena dengan mengikuti lomba kita dapat memperluas ilmu pengetahuan dan menjadi up to date dengan permasalahan industri saat ini,” tandas Natasha.

*Pengumuman lomba tersebut dapat dilihat pada tautan berikut https://youtu.be/BFy0priA2lc

Reporter: Christopher Wijaya (Sains dan Teknologi Farmasi, 2016)