Memahami Kerja Sistem Imun dan Pengembangan Vaksin COVID-19

By Adi Permana

Editor Adi Permana


BANDUNG, itb.ac.id – Belakangan ini, pembuatan vaksin untuk COVID-19 sedang banyak dilakukan oleh para peneliti atau ilmuan di seluruh dunia. Dr.rer.nat. Marselina I. Tan, Dosen Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB membahas tentang pengembangan vaksin tersebut pada Webinar SITH Virtual Public Lecture #5 yang diselenggarakan Kamis, 25 Juni 2020.

Dr. Marselina menjelaskan, sistem imun adalah suatu sistem yang didukung oleh sekelompok sel dan protein yang berperan untuk melindungi tubuh kita terhadap serangan (infeksi) dari berbagai pathogen (mikroba penyebab penyakit). Tubuh manusia memiliki tiga level sistem pertahanan tubuh yang terdiri atas level 1: barier, level 2: imunitas bawaan, dan terakhir level 3: imunitas adaptif. “Ketiganya wajib dijaga dengan baik agar virus tidak dapat masuk ke tubuh kita,” ungkap dosen KK Fisiologi itu.

Imunitas Tubuh Melawan Sars-CoV2
Dijelaskan Dr. Marselina, barier merupakan sistem pertahanan pertama yang harus dijaga ketat agar tidak merusak sistem pertahanan selanjutnya dan akhirnya dapat menginfeksi tubuh. Pertahanan level satu ini dapat berupa kulit, enzim di dalam tubuh, dan juga saluran pernapasan yang menjadi salah satu tempat awal masuknya pathogen virus.

Pada sistem pernapasan sampai ke paru-paru terdapat struktur sel yang menjaga saluran pernapasan tersebut. “Seperti di daerah kerongkongan yang bersilia, ketika silia tersebut rusak maka virus akan lebih mudah masuk,” tutur Dr. Marselina.

Bila sistem pertahanan level satu sudah ditembus, level dua memiliki peran penting dalam mempertahankan kekebalan tubuh yang terdiri dari sel-sel dan protein, terdapat juga lendir yang memiliki viskositas tertentu yang harus dijaga. Bila kekentalannya terganggu menyebabkan silia tidak bekerja dengan normal dan virus masuk dengan mudah. Kelebihan imunitas bawaan adalah bisa dilatih dan merupakan metode yang sedang dikembangkan untuk melawan COVID-19.

Imunitas adaptif atau level tiga bekerja secara spesifik dan terdapat memori, sehingga dikenal dengan nama vaksin. “Sistem pertahanan level tiga ketika terinfeksi akan menghasilkan sel yang baru yaitu CD4+ T sel (sel T penolong) berfungsi menghasilkan antibodi dan CD8+ T sel (sitotoksik sel T) yang dapat membunuh sel yang terinfeksi. Jika sistem imun bekerja dengan baik maka kita dapat sembuh dari COVID-19 ini,” ungkap dosen lulusan Medizinischen Universitat Zu Lubeck, Jerman itu.

Ia mengungkapkan, COVID-19 ternyata bisa menginduksi badai sitokin. Apabila virus berhasil membuat badai sitokin, maka akan mengakibatkan terganggunya sistem imun itu sendiri dengan cara virus dapat memerintah sel-sel seperti sel makrofag dan lainnya untuk memproduksi sitokin tersebut, sehingga menganggu integrasi sel-sel imun. Pada paru-paru akan menghasilkan cairan yang sangat banyak, sebagai akibat dari tersebut yang kemudian menghambat sistem pernapasan.

“Sel B selain menghasilkan sel antibodi juga menghasilkan sel memori berbentuk plasma begitu juga dengan sitotoksik sel T yang dapat dimanfaatkan untuk perkembangan vaksin ataupun antibodi dengan mengaktifkan tahap APC-T helper Cell-B, Cell yang dapat menghasilkan sitotoksik sel T (CD8+ T) yang dapat membunuh sel yang terinfeksi,” ujar Dr. Marselina.

Pemanfaatan Mekanisme Imun untuk Melawan Sars-CoV2

Dengan mengetahui reaksi imun akibat infeksi virus Sars-CoV2, terdapat dua hal yang dapat dilakukan, yaitu melakukan latihan respons imun dan vaksin.
Vaksin dapat dilakukan dengan mengaktivasi reaksi sistem imun adaptif yang memakan waktu lama. Namun dengan latihan reaksi imun, waktu yang dibutuhkan menjadi singkat atau bisa juga dilakukan terapi seperti memblok badai sitokin yang terjadi dalam jumlah yang berlebihan.


Trained immunity dilakukan dengan meningkatkan reaksi imun bawaan (innate) dengan melakukan vaksinasi BCG. “Berdasarkan penelitian pada orang-orang yang dilakukan vaksinasi BCG, ternyata orang tersebut menjadi lebih tahan terhadap virus-virus yang terdapat pada respirasi walaupun trained immunity masih dalam tahap pemeriksaan, apakah untuk Sars-CoV2 ini berhasil atau tidak,” ujar Dr. Marselina.

Saati iniada beberapa vaksin yang sedang dikembangkan yaitu seperti virus vaccines, viral-vector vaccines, nucleid acid vaccines, dan protein-based. Pengembangan yang saat ini banyak dilakukan adalah protein-based yang terdiri dari protein subunit dan virus-like particles. Dr. Marselina juga menanggapi isu terkait strategi herd immunity yang selama ini beredar untuk mengatasi COVID-19 ini.

“Herd immunity bisa dilakukan bila sudah banyak masyarakat Indonesia yang telah melakukan vaksinasi. Namun sampai saat ini di Indonesia vaksinasi belum ada dan belum ada data mengenai seberapa kuat sistem imun yang dimiliki oleh orang Indonesia. Jadi untuk saat ini saya masih ragu,” tandasnya.

*Webinar Sistem Imun Tubuh dan Pengembangan Vaksin Coronavirus dapat disaksikan ulang melalui kanal YouTube SITH ITB Official dengan judul : SITH Virtual Public Lecture #5 | Link : https://www.youtube.com/watch?v=wJVLPWKbGck

Reporter: Ahyar (Teknik Metalurgi 2018)