IAPTalks: Memantau Aktivitas Kota dengan Kecerdasan Buatan

By Adi Permana

Editor -

BANDUNG, itb.ac.id -- Pusat Kecerdasan ITB sebagai wadah bagi para peneliti di ITB dalam mengembangkan kecerdasan buatan pada barbagai bidang, telah aktif membagikan riset dan keilmuannya kepada masyarakat luas. Salah satunya ialah berbagi keilmuan dan kemajuan riset yang telah dilakukan secara berkala kepada asosiasi keprofesian dalam rangka memberikan andil untuk menjadikan kecerdasan buatan sebagai digital planning tools.


Pada Senin (23/6/2020), IAPTalks #9, yang merupakan acara dari Pengurus Nasional Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) bidang planning tools, menghadirkan peneliti dari Pusat Kecerdasan Buatan ITB, Nugraha Priya Utama, ST., MA., Ph.D., Ia membagikan ilmunya terkait dengan pemantauan aktivitas perkotaan yang sangat relevan dengan kondisi pandemi seperti sekarang ini.

Pemantauan aktivitas perkotaan yang disajikan oleh Nugraha Priya Utama dapat memberikan jawaban atas tantangan kota inklusif untuk semua karena dapat memberikan banyak manfaat, lebih hemat, dan mengurangi limbah sebagaimana ide kota sirkular.



Pada kesempatan yang sama, hadir pula tokoh Iptek nasional, Dr. Ing. Ilham Akbar Habibie, M.B.A., yang memberikan gambaran pengembangan Iptek ke depan terutama untuk ranah perkotaan misalnya, dengan dimulainya gerakan fab lab city movement sejak 2014 lalu. Ia pun mendorong pengembangan AI sebagai bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan, sementara itu keilmuan lainnya pun seperti ilmu perencanaan tidak usah khawatir dengan pengembangan AI karena akan selalu terdapat keseimbangan antara online dan offline, on site dan offsite.

Pada kesempatan tersebut, Ridwan Sutriadi, ST., MT., Ph.D, selaku Kaprodi S1 Perencanaan Wilayah dan Kota ITB, yang juga merupakan Wakil Ketua Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Indonesia bidang planning tools, turut memberikan materi tentang perencanaan kota di abad ke-21 yang saling melengkapi dengan dua pemateri lainnya. Ia membahas materi terutama terkait dengan isu peran teknologi, pembangunan kota berbasis ilmu pengetahuan, dan tindakan kolektif menanggulangi persoalan perkotaan, serta mengarahkan perkembangan perkotaan ke depan.  



Pada dasarnya banyak pekerjaan perencana yang dapat dibantu oleh teknologi kecerdasan buatan guna menciptakan kota layak huni, seperti deteksi kepadatan atau kerumunan serta perkiraan jarak antarobjek di mana kedua hal tersebut menjadi perhatian para perencana ketika merumuskan dan mengevaluasi struktur ruang kota pada tataran kawasan.

Persoalan mobilitas perkotaan pun, seperti job-housing mismatch, dapat mulai diidentifikasi dan diurai dengan adanya aerial object detection, activity detection, serta pengelompokkan kendaraan berikut pergerakannya pada suatu kota. Bahkan ke depan, para perencana pun dapat memanfaatkan riset terkini di bidang kecerdasan buatan berupa teks (text) dan suara teknologi (speech technology), bahkan complete chatbot workflow untuk mendorong kolaborasi antaraktor dalam menciptakan wilayah dan kota yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Sumber: Rilis IAP ITB