ITB Serahkan Kabin Sterilisasi Masker N-95 ke RS Dustira

By Adi Permana

Editor -

*Dr. Yuli Setyo Indarto didampingi Dr. Deny Willy Junaidy menyerahkan Kabin Sterilisasi Masker N-95 kepada Kepala RS Dustira Kolonel CKM dr. Agus Ridho Utama, SP.THT-KL., MARS. (Foto: Adi Permana/Humas ITB)
BANDUNG, itb.ac.id – Institut Teknologi Bandung menyerahkan alat Kabin Sterilisasi untuk Masker N-95 ke Rumah Sakit Dustira, Cimahi, Kamis (4/6/2020). Kabin sterilisasi ini mampu menyeterilkan masker N-95 yang telah digunakan oleh tenaga medis dengan menggunakan Uap Hidrogen Peroksida.


Penyerahan alat tersebut dilakukan oleh Dr. Yuli Setyo Indartono dari Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB dan Dr. Deny Willy Junaidy, S.Sn.,MT.,Ph.D., dari Lembaga Penelitian dan Pengabdikan kepada Masyarakat (LPPM) ITB, kepada Kepala Rumah Sakit Dustira Kolonel CKM dr. Agus Ridho Utama, SP.THT-KL., MARS.

Kabin Sterilisasi Masker N-95 tersebut dikembangkan oleh Dr. Yuli Setyo Indarto dari Tim Laboratorium Energi Terbarukan, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB. Sebelumnya, ITB juga telah menyerahkan kabin sterilisasi versi pertamanya yang menggunakan teknologi ionisasi ke Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, 20 April 2020 lalu. Alatnya sudah diuji coba dan digunakan hingga saat ini oleh tim dokter RSHS.

Kabin Sterilisasi kedap udara ini dibuat dengan tujuan untuk penggunaan kembali masker N-95 karena dengan jumlah pasien COVID-19 yang saat ini semakin bertambah, kebutuhan masker N-95 pun semakin meningkat bagi tenaga kesehatan baik di rumah sakit maupun puskesmas. Di sisi lain, ketersediaan masker N-95 terbatas. Kabin ini memiliki dimensi 1x1x2 m3, dilengkapi alat pengatur waktu otomatis, blower udara bersih.

*Alat pengatur waktu otomatis yang dimiliki kabin sterilisasi. (Foto: Adi Permana/Humas ITB)

Ditemui usai penyerahan kabin sterilisasi, Dr. Yuli mengatakan, alat versi kedua ini menggunakan teknologi lain yang lebih terjangkau dari sisi biaya dengan memakai Uap Hidrogen Peroksida (H2O2). Menurut Dr. Yuli, dari sisi publikasi ilmiah, sudah banyak pengujian dilakukan di Amerika dan Eropa tentang kemampuan uap hidrogen peroksida dalam dekontaminasi bakteri dan virus. Selain itu, berdasarkan hasil pengujian di SITH ITB, dengan menggunakan kain kasa yang diberi bakteri dalam jumlah banyak, hanya butuh waktu sekitar 10 menit untuk menyeterilkan 99,9 persen bakteri.

“Alat versi pertama, lebih mahal komponen ionisasinya. Untuk alat pertama, mampu mengontaminasi bakteri sebanyak 90 persen dengan waktu paparan 90 menit, untuk alat versi kedua ini mampu menyeterilkan bakteri hampir 100 persen dalam waktu sekitar 10 menit, jadi lebih efektif dalam dekontaminasi bakteri dan virus,” ujarnya kepada Humas ITB.

Ia optimis Kabin Sterilisasi Masker N-95 versi kedua ini akan bekerja dengan baik di RS Dustira. Karena, alat sebelumnya yang diserahkan ke RSHS Bandung, juga bekerja dengan baik sesuai hasil pengujian di lab di ITB. “Yang ini juga Insya Allah saya optimis hasilnya akan baik. Cuman untuk alat versi kedua ini kita perlu suplai H2O2 3 persen untuk pengguna,” ungkapnya.

*Usai serah terima, langsung dilakukan penjelasan sistem kerja alat oleh Dr. Yuli kepada staf operasional di RS Dustira. (Foto: Adi Permana/Humas ITB)

Namun demikian, tim dari Laboratorium Energi Terbarukan FTMD ITB akan terus menjalin komunikasi dengan tim dokter RS Dustria dalam penggunaan alat dan pengujian terhadap masker N-95. ”Untuk sterilisasi masker memang belum diuji di RS sehingga akan terus kami komunikasikan dengan RS Dustira untuk melihat kinerja kabin tesebut,” ujarnya. Ia menambahkan, di RS Dustira alat ini tidak hanya digunakan untuk masker, tapi juga alat kesehatan lain seperti selang ventilator, yang memerlukan sterilisasi.

Lebih lanjut Dr. Yuli mengatakan, rencananya, pimpinan ITB meminta untuk menyiapkan dua kabin lagi dari varian satu untuk Rumah Sakit Cibabat dan Rumah Sakit Paru Rotinsulu Bandung. Keduanya merupakan rumah sakit rujukan nasional untuk COVID-19. Pendanaan dari pembuatan kabin sterilisasi ini didukung oleh LPPM ITB.