Knowledge Management Sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Smart City

By Adi Permana

Editor -

BANDUNG, itb.ac.id – Knowledge Management merupakan salah satu aspek yang berguna untuk meningkatkan kualitas smart city terutama dalam pelayanan kepada masyarakat. Hal tersebut menjadi topik yang diangkat dalam Serial Webinar Smart City di Indonesia oleh Pusat Artificial Intelligence Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Center of Knowledge for Business Competitiveness SBM ITB, pada Kamis (14/5/2020) lalu.

*Freepik.com

Salah satu pemateri pada serial webinar tersebut adalah Dedy Sushandoyo, Ph.D. Ia menjelaskan, smart city memiliki definisi yang beragam sesuai dengan pendapat para pakar. Namun secara garis besar, smart city merupakan tempat yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk percepatan dan efektivitas pelayanan terhadap masyarakat. 

Dia menambahkan, terdapat enam indikator dalam pelaksanaan smart city, yakni smart economy (tingkat kompetisi), smart people (sosial kemasyarakatan), smart governance (partisipasi dalam hal kebijakan), smart mobility (transportasi dan telekomunikasi), smart environment (sumber daya alam), dan smart living (kualitas hidup). “Keenam aspek tersebut saling berkaitan untuk mewujudkan smart city,” ujar Dedy Sushandoyo.

Adapun penerapan Knowledge Management dalam smart city berguna untuk meningkatkan value atau nilai yang dibawa oleh pemerintah dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan publik. Peningkatan nilai dan kualitas pelayanan publik didapatkan dengan menggunakan ilmu pengetahuan sebagai dasarnya. “Sebagai contoh, adanya penambahan informasi untuk mencerdaskan masyarakat ataupun inovasi metode pelayanan masyarakat oleh pemerintah,” ucap Dedy.

Untuk mendapatkan definisi lebih mendalam, knowledge dapat diartikan sebagai pengetahuan yang dikumpulkan dari beberapa informasi yang terstruktur serta menumbuhkan kesadaran manusia dalam memutuskan sesuatu hal (Tjakraatmadja dan Lantu, 2006). Merujuk pada hal tersebut, tujuan diadakannya Knowledge Management ialah menanamkan kesadaran kepada masyarakat atas prinsip yang dipegang oleh pemerintah dalam mengelola suatu wilayah. Selain itu pengetahuan juga terbagi atas dua tipe, yakni pengetahuan tacit yang bersifat subjektif dan pengetahuan eksplisit yang bersifat objektif. 

“Pada kenyataannya, perbandingan penggunaan pengetahuan tacit dan eksplisit manusia dalam mengambil keputusan ialah 4:1. Hal tersebut berarti, perspektif setiap manusia dalam menyikapi suatu keadaan akan beragam,” ujar Dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB tersebut.

Dedy melanjutkan, lingkup kerja yang digunakan dalam penerapan Knowledge Management terdiri dari tiga aspek, di antaranya manusia (berhubungan dengan hardskill dan softskill), teknologi (pemanfaatan infrastruktur dan teknologi informasi), dan proses atau tahapan (berkaitan dengan kebijakan dan pemerintahan). Realisasi dari proses salah satu contohnya digunakan SECI Model yang menyilangkan antara manusia dan teknologi untuk mendapatkan metode pelaksanaannya. Metode-metode tersebut terdiri dari sosialisasi (dari orang ke orang), eksternalisasi (dari orang ke teknologi), kombinasi (transfer antar teknologi), dan internalisasi (dari teknologi ke orang). “Dewasa ini, perkembangan teknologi menjadikan pelaksanaan Knowledge Management untuk meningkatkan taraf smart city semakin mudah karena kemudahan aksesnya,” pungkasnya.

Reporter: Surya Putra Andrianto (Teknik Metalurgi)