Berita / Utama

Buat Desain Instruksi APDS dan Kampanye #BikinSendiri, Asisten Akademik ITB Raih Juara 1 Lomba IDEAThon 2020

Adi Permana - Kamis, 14 Mei 2020, 16:51:07 - Diperbaharui : Selasa, 26 - Mei - 2020, 10:23:11


BANDUNG, itb.ac.id -- Asisten Akademik Institut Teknologi Bandung, Prananda L. Malasan, Ph.D., berhasil menjadi juara 1 lomba IDEAthon 2020 lewat ide-idenya terkait COVID-19 yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) yang diumumkan pada 8 Mei 2020 lalu. Lomba ini mengusung tema “Gotong Royong Melindungi Bangsa dari COVID-19”.

IDEAthon adalah lomba yang diselenggarakan oleh Kemenristek/BRIN dengan tujuan untuk mengumpulkan ide dari penggiat IPTEK, mahasiswa, pakar industri, dan masyarakat umum untuk berinovasi melalui ide, solusi, produk, sistem, platform, ataupun aplikasi mobile/web yang dapat diimplementasikan namun tidak terbatas pada ponsel, web, IoT (Internet of Things), Big Data, AI (Artificial Intelligence), serta perangkat elektronik/teknologi lainnya dalam mengatasi pandemi COVID-19. Ide-ide/pemikiran tersebut tidak terbatas pada area pencegahan virus, pengendalian virus, manajemen pelayanan dan perawatan pasien, mitigasi masyarakat, keberlanjutan bisnis ataupun metode pembelajaran jarak jauh. 

Dalam perlombaan ini, Prananda membuat ide "Desain Instruksi Pembuatan Alat Pelindung Diri Sederhana (APDS) dan Kampanye #BikinSendiri Melalui Platform Website, Aplikasi, dan Media Sosial. Dalam proses pembuatan ide ini, dia di bantu oleh dosen ITB lainnya yang terdiri dari Meirina Triharini, Ph.D, Dr. Arianti A. Puspita, Raditya Ardianto, M.Ds. Semua dosen tersebut berasal dari Design Ethnography Lab. Kelompok Keahlian Manusia dan Desain Produk Industri, Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB,

“Awalnya kenapa mau ikut lomba ini karena dulu program ini sudah di-funding sama pihak LPPM ITB (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat ITB) pada bulan Maret lalu. Jadi programnya adalah kita ingin mengajak masyarakat untuk membuat masker kain sendiri karena dulu isunya masker medis sudah susah ditemukan,” ucap Prananda ketika diwawancarai oleh Reporter ITB. 



Prananda menjelaskan bahwa ide sekaligus bentuk kampanye #bikinsendiri ini bertujuan untuk mengajak masyarakat membuat proteksi diri sendiri baik itu masker, alat cuci tangan, dan yang lainnya dengan menggunakan bahan dari rumah sehingga tidak perlu membeli dari luar. “Proses pembuatan ide ini sampai bisa jadi itu ada ada tiga tahap, tahap pertama yaitu kami mengumpulkan ide kreatif yang berasal dari masyarakat misalnya membuat tempat cuci tangan dari ember, membuat masker kain, dan sebagainya. Lalu tahap kedua yaitu instruksi pembuatan atau langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk membuat alat pelindung diri tersebut. Hingga akhirnya output-nya adalah kita memiliki bank data untuk membuat alat proteksi diri tersebut sehingga masyarakat bisa meniru langkah-langkahnya,” ucap Prananda.



Bank data tersebut lalu dituangkan pada media sosial Instagram (@itbdesignethno) dan juga website: https://designethno.id/ yang akan launching pada akhir Mei ini dan bisa diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia secara gratis.

Prananda menjelaskan bahwa website yang akan launching nanti dibentuk sebagai tempat bank data yang menyediakan instruksi pembuatan alat pelindung diri tidak hanya bencana COVID-19 tetapi juga seperti banjir, gempa bumi, dan yang lainnya. “Jadi ya ketika ada bencana, masyarakat bingung harus bikin apa bisa melihat instruksi di website kami yang bisa diakses dimanapun dan kapanpun,” ucapnya.

Ide dari Prananda beserta timnya terdiri dari 20 desain produk hasil eksperimen dan kurasi produk inisiatif masyarakat serta sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa daerah di penjuru nusantara. “Bahasa daerah yang dipakai untuk kampanye sampai saat ini sudah ada tujuh bahasa yaitu Palembang, Bugis, Ambon, Banda, Jawa, Sunda, Aceh. Kita sengaja menyediakan berbagai bahasa ini agar seluruh lapisan masyarakat dapat melakukan langkah-langkah tersebut dan memiliki rasa sense of belonging terhadap kampanye ini,” ucap Prananda.

Ia mengaku sangat senang atas pencapaian menjadi juara 1. “Pastinya senang sekali ketika mendapatkan juara ini karena bisa mewakili ITB dan juga ternyata bisa berkontribusi dari segi desain di kondisi seperti ini. Harapan ke depannya kami ingin bisa berguna kepada seluruh lapisan masyarakat karena kita ‘kan bikin ide ini tidak mengenal ras, kelas, dan sebagainya jadi fokus kita adalah dari masyarakat, untuk masyarakat dan tentunya untuk Indonesia,” ucap Prananda di akhir wawancara.

Reporter: Elisabeth Sirumapea (Manajemen, 2020)