ITB Kembangkan Alat Multi User Ventilator

By Adi Permana

Editor -

*Rancangan casing ventilator LC MUMU. (Foto dok. Augie Widyotriatmo S.T., M.T., Ph.D)

BANDUNG, itb.ac.id – Ketersediaan alat kesehatan menjadi hal yang penting di tengah masa pandemi COVID-19 ini, baik alat kesehatan untuk pasien maupun tenaga medis. Ventilator menjadi salah satu alat kesehatan yang sedang dibutuhkan sebagai alat bantu pernapasan bagi pasien COVID-19 yang mengalami gangguan pernapasan. Di tengah kondisi tersebut, ITB saat ini sedang mengembangkan multi user ventilator.

Pembuatan alat tersebut dipimpin oleh Augie Widyotriatmo S.T., M.T., Ph.D, selaku dosen Program Studi Teknik Fisika, Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITB.  Bersama tim, beliau membuat alat bernama Low Cost Multi Use Multi User (LC MUMU). Nama tersebut berasal dari biaya produksi ventilator yang lebih rendah dibandingkan dengan ventilator lainnya, dapat digunakan oleh beberapa pengguna (multiple users) dan multi use karena terdapat 4 (empat) fungsi.

Latar belakang pengembangan LC MUMU adalah kelangkaan unit ventilator yang terjadi di Indonesia dan dunia saat ini. Hal ini tentunya menjadi hambatan yang besar dalam proses penanganan pandemi COVID-19, karena jumlah pasien yang meninggal sebagian besar diakibatkan oleh kegagalan pernapasan. Ventilator mekanik invasif dapat mencegah kegagalan pernapasan tersebut dan mendukung paru-paru hingga pulih.

LC MUMU merupakan pengembangan lebih lanjut yang terinspirasi dari ventilator berbiaya rendah hasil rancangan MIT (MIT e-vent, https://e-vent.mit.edu/). Pengembangan yang dilakukan adalah optimasi volume yang dapat dihasilkan oleh ventilator ini (mencapai 1.000 ml) dan memiliki multi fungsi untuk critical care yaitu mandatory volume control, spontaneous breath control, assisted control, dan continuous positive airways pressure (CPAP).


Sesuai tahapan pasien Corona, contohnya, ventilator ini bisa digunakan dari mulai tahap awal di mana pasien merasa sesak napas hingga pasien memiliki gejala gagal napas (pada umumnya dirujuk untuk dirawat di ICU). Kondisi pasien yang berbeda-beda ini dapat dideteksi pada ventilator LC MUMU dengan menggunakan sensor tekanan dan aliran.  Selain itu, sensor oksigen juga ditambahkan untuk memberikan indikasi dari suplai gas. Juga sistem keamanan untuk critical care ventilator pengguna telah sesuai dengan ISO 80601-2-12 part 2. “Pada intinya, ventilator ini dapat digunakan pada pasien COVID-19 tahapan awal (bisa bernafas sendiri) hingga kritikal (ada gejala gagal napas),” tuturnya.

Tentunya, pengembangan LC MUMU harus melalui beberapa tahapan terlebih dahulu. Tiga tahapan utama dalam pengerjaan alat tersebut adalah bagian aktuator mekanikal, sensor dan fungsi kontrol, serta sistem daya. Kemudian ada juga pekerjaan lainnya seperti pengerjaan casing alat, sertifikasi, dan perbaikan agar dapat memenuhi persyaratan Badan Pengawasan Fasilitas Kesehatan (BPFK) hingga sampai pada tahap akhir yaitu uji medis. 

“Saat ini tim kita sudah mencapai 70% dari keseluruhan proses. Tantangan terberat adalah dari poin kinerja alat karena ventilator adalah alat yang digunakan untuk membantu pernapasan manusia. Beberapa parameter penting yang dikendalikan adalah: volume tidal, respiration rate (RR), inspiratory expiratory ratio (I:E), positive-end expiratory pressure (PEEP), peak inspiratory pressure (PIP), dan inspiratory pause pressure (IPP)/plateau pressure. Jika  terjadi kesalahan pada kinerja alat, akibatnya bisa fatal kepada pasien.  Maka dari itu, pencapaian kebutuhan kinerja alat dan juga tingkat keselamatannya suatu hal yang mutlak dicapai.  Sejauh ini BPFK sudah melakukan pendampingan sejak awal agar LC MUMU mencapai standar kesehatan. Selain itu, ketersediaan komponen juga dapat menjadi masalah pada tahap produksi nanti karena banyak komponen yang masih harus diimpor,” tuturnya.


*Breathing circuit dan Mekanik ventilator yang dibuat oleh Augie Widyotriatmo S.T., M.T., Ph.D

Pengembangan LC MUMU ini merupakan ide dan kerja bersama berbagai pihak, yaitu beberapa dosen ITB dan empat kolaborator (alumni SMAN3 Bandung-Beteega’84, alumni ITB ’93, RSPAD Gatot Subroto dan RSHS Bandung). “Semua pihak memiliki keinginan yang sama yaitu dapat berkontribusi nyata pada masa pandemi COVID-19 melalui keilmuan dan kemampuan yang dimiliki. Kita sudah sering mendengar dari media cetak maupun online bahwa beberapa pasien COVID-19 meninggal karena terbatasnya ventilator yang dimiliki oleh rumah sakit karena harga sebuah ventilator sangat mahal. InsyaAllah dengan ilmu dan kemampuan yang dimiliki, kita berikhtiar secara maksimal untuk membuat low cost ventilator,” tambahnya.

Dana utama pengembangan alat tersebut bersumber dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITB, kemudian bantuan dari Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) ITB melalui funding dari Mitsubishi Hitachi Power System Indonesia dan para kolaborator yaitu Alumni SMAN 3 Beteega ’84 dan Alumni ITB '93.

Tim ITB yang turut terlibat dalam pengembangan alat diantaranya dari Program Studi Teknik Fisika FTI-ITB yaitu Augie Widyotriatmo S.T., M.T., Ph.D., Dr. Vebi Nadhira S.T., M.T., dan Dr. Ing. Ir. Parsaulian Siregar, Dipl. Ing. Kemudian dari Program Studi Teknik Industri FTI-ITB yaitu Rachmawati Wangsaputra, Ph.D., Ir. Hardianto Iridiastadi, MSIE., Ph.D., dan Wildan Trusaji, S.T., M.T. dan dari Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB yaitu Dr. Dina Dellyana, MBA.  Tim dokter RSPAD Gatot Subroto (Budiman S, dr.,Sp.BP-RE(K), MARS, dr.  Basuki Rakhmat, SpAn, KIC dkk.), dan RSHS (dr. Osmond, SpAN, dr. Erias, dkk.) secara intensif memberi masukan pada pengembangan ventilator ini.  Tim sistem mekanik (Samudra P. Buana dkk.), tim dibantu pula oleh sekitar 13 mahasiswa Teknik Fisika dan Teknik Industri; PT Sibernetika dan CV. Cipta Sinergi Manufaktur yang dengan semangat berkontribusi turut membantu dalam penyelesaian alat.

Augie berharap dukungan dari seluruh pihak, baik pada rantai pasok komponen maupun pengembang komponen. Pada tahap produksi, tentunya sangat dibutuhkan dukungan pemerintah (Kemenperin, Kemenkeu, Kemenkes) untuk membantu terutama pengadaan komponen impor dan akses ke industri.  Sangat diharapkan industri Indonesia mampu memproduksi komponen-komponen tersebut.

“Untuk mahasiswa Indonesia terutama mahasiswa ITB, kuatkan kompetensi kalian sesuai keilmuan, berlombalah dalam bersumbangsih nyata menyelesaikan masalah bangsa, sekecil apa pun sumbangsih kita itu sangatlah berarti untuk Indonesia.  Masih banyak yang harus dilakukan baik pada masa pandemi COVID-19 dan juga untuk mengatasi permasalahan pasca pandemi. Mari kita bergotong-royong untuk dapat menghadapi masa yang sulit ini,” pungkasnya.

Reporter: Chritopher Wijaya (Sains dan Teknologi Farmasi, 2016).