Orasi Ilmiah Prof. Ir. Emir Mauludi Husni : Delay Tolerant Network untuk Mengatasi Masalah Internet di Area Terpencil

By Adi Permana

Editor -

Delay Tolerant Network


BANDUNG, itb.ac.id - Indonesia terdiri atas lebih dari 17 ribu pulau. Untuk mengatasi permasalahan komunikasi yang disebabkan oleh jarak dan banyaknya pulau, digunakanlah satelit komunikasi. Indonesia merupakan negara ke-3 di dunia yang menggunakan satelit untuk komunikasi nasional. Penggunaan satelit tersebut dulunya diusulkan oleh Prof. Dr. Ing Iskandar Alisjahbana (alm), seorang Guru Besar Teknik Elektro ITB yang belakangan dikenal sebagai Bapak Sistem Komunikasi Satelit Palapa.

Akan tetapi ternyata masih banyak daerah-daerah terpencil di Indonesia yang belum terjangkau internet terutama daerah yang belum terjangkau listrik. Prof. Ir. Emir Mauludi  Husni, M.Sc, Ph.D., kemudian mengenalkan (DTN) untuk mengatasi masalah tersebut dalam orasi ilmiah Forum Guru Besar (FGB) ITB di Aula Barat ITB, Sabtu (14/3/2020). DTN ini diharapkan mampu menjembatani digital divide. 

Guru Besar dari Kelompok Keilmuan Teknik Komputer, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB itu mengungkapkan, satelit komunikasi yang umum kita gunakan saat ini merupakan satelit jenis Geostationary Earth Orbit (GEO). Satelit ini beredar dengan jarak sekitar 36.000 km di atas permukaan bumi. Dengan jarak tersebut, kecepatan geraknya sama dengan rotasi bumi. Contoh satelit jenis ini adalah Palapa dan Telkom. Jenis satelit lain berdasarkan garis edarnya adalah satelit Low Earth Orbit (LEO). Ketinggian garis edarnya sekitar 500-2000 km di atas permukaan bumi. DTN sendiri masuk dalam kategori satelit LEO ini.

Menurut Prof. Emir, Satelit DTN cocok untuk mengatasi permasalahan area terpencil di Indonesia yang tidak terjangkau internet. Prof. Emir mengklaim Satelit DTN adalah alternatif yang lebih murah dan lebih tepat guna dibanding yang lain. “Periode revolusinya adalah 100 menit yang artinya lebih cepat daripada satelit GEO. Daya transmisinya berbanding terbalik dengan kuadrat jarak terhadap permukaan bumi. Karena energi untuk transmisi data rendah maka ukuran satelit DTN bisa sangat kecil misalnya 10 cm x 10 cm x 10 cm. Untuk berkomunikasi, digitalisasi DTN ini menggunakan kearifan lokal. Sistemnya mirip dengan SMS yang dikirim ke satelit DTN,” jelasnya. 

Bentuk layanan komunikasi yang dapat dilakukan melalui DTN adalah layanan e-mail, berita dan sebagainya. Selain dapat digunakan untuk berkomunikasi, DTN dapat dimanfaatkan untuk pencegahan bencana, perencanaan wilayah, dan prediksi arus lalu lintas dengan kecerdasan buatan layaknya Closed Circuit Television (CCTV). Kepadatan serta kecepatan rata-rata kendaraan tersebut dapat dipantau secara nyata.


*Foto Dok. Ditbangdik ITB

Prof. Emir menjelaskan, DTN berbeda dengan internet konvensional. Jika Internet konvensional membutuhkan end to end connection, sedangkan DTN beroperasi pada sesuatu yang tidak terkoneksi dengan internet secara langsung. Dokumen yang akan dikirim melalui DTN akan dipecah-pecah menjadi bundle yang banyak. “Format data pada DTN disebut bundle. Bundle akan dikirim sebagian-sebagian dari host satu ke host lain oleh router hingga mencapai tujuan. Artinya semua bundle tidak dikirim sekaligus dalam satu kali pengiriman data. Kumpulan bundle selanjutnya disebut file,” ujarnya. 

Selain itu, DTN menggunakan komunikasi terestrial untuk desa terpencil dengan cara memanfaatkan sistem transportasi publik yang telah tersedia sebagai media perantara atau router. Media perantara ini akan menghubungkan desa ke layanan jaringan internet melalui server. Nantinya penduduk desa dapat menikmati layanan internat seperti surat elektronik dan berita. Prof. Emir mengatakan pengujian sistem telah dilakukan di PT. Kereta Api Indonesia (KAI) Daop II Bandung.

“File atau dokumen itu dipecah-pecah menjadi bundle yang banyak. Jadi ketika kereta api lewat, bundle diambil. Jadi, dari A dikirim ke B dari B dikirim ke A. Kemudian pengirimannya tidak sekaligus. Dikirim sebagian-sebagian,” pungkas Prof. Emir.

Reporter: Restu Lestari Wulan Utami (Biologi, 2017)