Berita / Utama

Manfaat Kunyit dan Temulawak Terhadap Penanganan COVID-19

Adi Permana - Jumat, 20 Maret 2020, 10:10:53 - Diperbaharui : Selasa, 14 - April - 2020, 21:00:56


BANDUNG, itb.ac.id – Indonesia merupakan negara dengan sumber daya alam yang begitu melimpah. Contoh pemanfaatan dari kekayaan alam tersebut adalah penggunaan tanaman herbal untuk tujuan kesehatan secara turun temurun. Saat ini, tanaman herbal banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai salah satu cara untuk membantu pencegahan virus corona atau COVID-19. Tanaman herbal yang umum dikonsumsi oleh masyarakat adalah kunyit dan temulawak.


*Sumber: freepik

 Prof. Daryono Hadi Tjahjono, Dekan Sekolah Farmasi, Institut Teknologi Bandung menjelaskan bahwa kunyit (Curcuma longa L) mengandung senyawa metabolit bahan alam berupa kurkumin yang dilaporkan memiliki potensi terapeutik yang beragam seperti antibiotik, antiviral, antioksidan, antikanker, dan untuk penanganan penyakit alzheimer. “Kurkumin (atau turunannya, yaitu kurkuminoid) juga terdapat pada temulawak, jahe, dan tanaman sejenis. Selain senyawa kurkuminoid, terdapat puluhan senyawa kimia lain yang terkandung di dalam tanaman tersebut. Masyarakat secara umum memanfaatkan tanaman tersebut dalam kehidupan sehari – hari dan aman dalam penggunaannya. Selain sebagai bumbu masak, tanaman tersebut juga menjadi bahan baku jamu, dan obat herbal terstandarkan,” tulis Prof. Daryono dalam artikelnya yang diterima Humas ITB.

 Ia menambahkan, berbagai penelitian farmakologi telah dilakukan terhadap kurkumin, namun salah satu yang menjadi perhatian saat ini adalah pengaruh kurkumin terhadap penyembuhan COVID-19. Hal ini diketahui sejak terjadi epidemi penyakit SARS pada tahun 2003. Dijelaskannya, reseptor yang berperan (SARS-CoV-2) adalah angiotensin converting enzyme 2 (ACE2). ACE2 dapat berada dalam bentuk fixed (menempel di sel) dan soluble (tidak menempel pada sel). Penelitian terhadap senyawa kurkumin (sebagai senyawa tunggal atau murni) dilaporkan meningkatkan ACE2 pada hewan uji tikus, namun belum ada studi hubungan langsung terhadap infeksi virus corona (COVID-19). Agar keperluan terapi menggunakan kurkumin dapat tercapai, diharapkan banyak ACE2 yang bebas (soluble) sehingga akan mencegah virus corona menempel pada sel, yang secara langsung akan mencegah terjadinya infeksi,” ujarnya.

Prof. Daryono menjelaskan, secara empiris, gabungan kandungan senyawa kimia dari tanaman tersebut bermanfaat sebagai imunomodulator untuk menjaga daya tahan tubuh. Efek farmakologi gabungan senyawa kimia (multi compound) dalam tanaman tersebut tentu bisa berbeda dengan efek farmakologi senyawa kurkumin secara tunggal (single compound).


 Dalam kaitannya dengan COVID-19, penggunaan tanaman tersebut baik secara tunggal maupun gabungannya bisa membantu dalam meningkatkan daya tahan tubuh sebagai imunomodulator. Oleh karena itu, pemanfaatan kunyit, temulawak atau jahe sebagai jamu, obat herbal terstandarkan, atau suplemen minuman adalah aman. “Manfaat kurkumin terhadap penyembuhan COVID-19 tentu masih memerlukan pembuktian melalui penelitian lanjutan. Diperlukan kerja keras dari berbagai pihak seperti peneliti, industri farmasi, dan pemerintah Indonesia dalam pengembangan tanaman – tanaman tersebut hingga menjadi obat fitofarmaka sebagai antivirus terhadap COVID-19,” jelas Prof. Daryono.

 Daftar Pustaka:

https://www.cambridge.org/core/services/aop-cambridge-core/content/view/225164D1A70D11C765C147A5CD022200/S0007114509993667a.pdf/curcumin_as_a_therapeutic_agent_the_evidence_from_in_vitro_animal_and_human_studies.pdf

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4022204/

https://link.springer.com/article/10.1007/s00134-020-05985-9

https://www.thelancet.com/journals/lanres/article/PIIS2213-2600(20)30116-8/fulltext

https://portlandpress.com/clinsci/article/134/5/543/222345

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4651552/

 

Reporter: Christopher Wijaya (Sains dan Teknologi Farmasi, 2016)