Mewujudkan Infrastruktur Logistik Terintegrasi untuk Indonesia yang Lebih Maju

By Adi Permana

Editor -

(Logistic Performance Index)

BANDUNG, itb.ac.id - Seminar nasional ITB Civil Engineering Expo (ICEE) 2020 pada Minggu, 2 Februari 2020 lalu dihadiri oleh banyak pembicara diantaranya yaitu Ir. Sugihardjo, M.Si., Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. Seminar dilaksanakan di Aula Barat ITB dengan topik “Strategi Indonesia dalam Mewujudkan Infrastruktur Logistik Terintegrasi.”

Sugihardjo menyampaikan, perhatian terhadap sektor logistik di Indonesia masih kurang. Padahal pengetahuan terkait logistik penting untuk efisiensi pembangunan infrastruktur. Peran logistik tersebut diantaranya sebagai pelayanan kebutuhan dasar, seperti pembangunan infrastruktur dan untuk meningkatkan daya saing salah satunya menghasilkan devisa.

Disampaikannya, berdasarkan skor LPI saat ini Indonesia memiliki skor 3,15 dan berada di peringkat 46 dunia. Pada tahun 2024 nanti, target skor LPI Indonesia adalah 3,5 yang akan memosisikan Indonesia menjadi peringkat 30. Tentunya hal ini akan terwujud dengan optimalisasi pemanfaatan infrastruktur.

“Kondisi logistik Indonesia saat ini masih perlu banyak perhatian. Biaya tidak kompetitif yaitu 24 persen dari GDP (Gross Domestic Product), konektivitas moda yang belum terbangun, dan industri-industri yang belum banyak melakukan ekspor perlu dibenahi. Selain itu dari segi teknologi, mayoritas proses masih dilakukan secara manual dan belum adanya sinkronisasi distribusi kargo,” ujarnya.

Dalam meningkatkan konektivitas dan logistik antarkota tentu diperlukan jaringan transportasi yang terpadu baik dari jalur kereta, udara, laut, dan jalan darat. Keterpaduan ini terkait dengan jadwal, billing, dokumen, dan sebagainya. Salah satu konektivitas logistik adalah program tol laut, yaitu adanya kapal yang berlayar rutin dan terjadwal dari Barat sampai Timur Indonesia. “Pemerintah memberikan subsidi ongkos angkut tol laut ini, agar harga barang menjadi turun. Ini menjadi salah satu peran pemerintah dalam menjaga supply-demand, jika permintaan barang tinggi namun jumlah armadanya sedikit, armada harus ditambah agar harga barang menjadi wajar,” tambahnya.

Sementara itu ia melanjutkan, kolaborasi ekosistem merupakan grand design logistik yang melibatkan kolaborasi dari berbagai pihak, seperti pemerintah, transportasi, jalur pengiriman, pengimpor/pengekspor, dan berbagai asosiasi. Pada era digital industri 4.0 muncul tantangan baru untuk merubah paradigma dari bisnis konvensional menjadi bisnis yang berfokus pada pertumbuhan aset dan kenaikan nilai saham. Sedangkan pada bisnis konvensional masih fokus dalam mengejar profit untuk mengembangkan perusahaan.

Di akhir seminar, Sugihardjo berpesan kepada para generasi milenial untuk menghadapi tantangan pada era milenial dengan lebih semangat dan optimis dari generasi sebelumnya. “Yang pasti pemikiran kita harus out of the box, kompetensi diri harus lengkap, attitude menjadi sangat penting karena itu karakter untuk meraih kesuksesan,” jelasnya.

Reporter: Putri Ambarwati (Sains dan Teknologi Farmasi, 2017)