Berita / Utama

Lembaga Kemahasiswaan ITB Rilis Hasil Tracer Study ITB Tahun 2019

Adi Permana - Kamis, 19 Desember 2019, 16:41:22 - Diperbaharui : Jumat, 20 - Desember - 2019, 17:22:00

*Dr. Bambang Setia Budi, Ketua Career Development Center ITB. (Foto: Adi Permana/Humas ITB)


BANDUNG, itb.ac.id – Lembaga Kemahasiswaan (LK) Institut Teknologi Bandung (ITB) merilis hasil Tracer Study ITB Tahun 2019. Tracer Study tersebut dilakukan kepada alumni ITB angkatan 2012 dengan total responden yaitu 2928 orang dari jumlah alumni satu angkatan tahun 2012 yaitu 3204 orang. Hasil Tracer Study tersebut disampaikan oleh Dr. Bambang Setia Budi selaku Ketua Career Development Center ITB di Hotel Jayakarta, Jalan Ir. H. Djuanda Bandung, Kamis (19/12/2019).

Disampaikan Bambang, tracer study atau yang sering disebut sebagai survei alumni atau “follow up” adalah studi mengenai lulusan/alumni dari lembaga penyelenggara pendidikan tinggi. Studi ini dipandang mampu  menyediakan berbagai informasi yang bermanfaat bagi kepentingan evaluasi hasil pendidikan tinggi. Hasil analisisnya digunakan untuk feed back terhadap penjaminan kualitas pendidikan tinggi. 

“Tujuan Tracer Study ITB adalah untuk memperoleh informasi penting guna pengembangan perguruan tinggi, untuk mengevaluasi relevansi dari perguruan tinggi, untuk memberikan informasi kepada siswa, orang tua, dosen, dan staf administrasi, dan untuk memberikan kontribusi dalam proses akreditasim," jelas Bambang.

Berdasarkan hasil tracer study yang telah dilakukan, diketahui bahwa status pekerjaan alumni ITB angkatan 2012 yang bekerja adalah 1976 (68%), bekerja dan wiraswasta 234 (8%), tidak bekerja 187 (6%), melanjutkan studi 350 (12%), dan wirausaha 169 (6%). “Dari jumlah alumni yang telah bekerja, mereka tersebar dari Sabang sampai Merauke dan juga di luar negeri,” sambung Bambang.

Alumni-alumni yang telah bekerja, 50% di antaranya adalah bekerja di perusahaan nasional. Sementara 30% lainnya bekerja di perusahaan multinasional, dan 20% sisanya bekerja di perusahaan lokal. Adapun bentuk-bentuk perusahaan tempat mereka bekerja, 63%-nya adalah bekerja di perusahaan swasta, 17% di BUMN, 11% di instansi pemerintah, 7% di wiraswasta/perusahaan sendiri, dan 2% organisasi non-profit/lembaga swadaya masyarakat. “Kesesuaian kuliah dengan pekerjaan, hasilnya menunjukkan 62% sesuai dan 38% tidak sesuai,” ucapnya.

Disampaikan Bambang, kesimpulan dari Tracer Study Tahun 2019, bahwa waktu tunggu alumni ITB mendapatkan pekerjaan semakin singkat yaitu 2 bulan setelah lulus. Selanjutnya, kesesuaian bidang kuliah dengan bidang kerja di atas 60 persen. Juga rata-rata yang berwirausaha yaitu 6 persen. Program hasil Bidikmisi dipandang sebagai pendidikan yang berhasil menjadikan alumni mandiri, bekerja dan/atau berwirausaha, dan sebagian di antaranya berkarier dan melanjutkan studi di luar negeri.

“ITB perlu memberi titik tekan terhadap upaya membangun (grand design) pengembangan soft skill atau pengembangan karakter, di mana dari data, gap 5 besar yang konsisten dalam User Survei sepanjang 10 tahun adalah semua terkait soft skill,” tutupnya.