Berita / Utama

Kepala BNN Sampaikan Bahaya Narkoba Jenis NPS

Adi Permana - Jumat, 11 Oktober 2019, 11:36:53 - Diperbaharui : Jumat, 11 - Oktober - 2019, 13:28:53


BANDUNG, itb.ac.id – Penyebaran narkoba kini dinilai semakin mengkhawatirkan. Pasalnya, dulu narkoba yang hanya dikenal berasal dari tanaman, kini sudah mulai bergeser dengan kemunculan narkoba-narkoba jenis baru hasil sintesis atau dikenal sebagai new psychoactive substances (NPS).

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen. Pol. Drs. Heru Winarko, S.H menyampaikan, bahwa ancaman narkoba jenis NPS ini sangat berbahaya. Berdasarkan data, terdapat 803 jenis narkoba jenis NPS di seluruh. Dari jumlah tersebut, 74 jenis diantaranya beredar di Indonesia. Beberapa jenis NPS tersebut kini telah masuk ke dalam Permenkes No. 20 Tahun 2018.

Hal itu ia kemukakan saat mengisi kuliah umum Studium Generale KU-4078, di Aula Barat Kampus ITB Jalan Ganesa No. 10 Bandung, Rabu (2/10/2019). Topik yang disampaikan Heru dalam kuliah umum tersebut adalah “Menyelamatkan Generasi Muda dan Merawat Negeri dari Ancaman Kejahatan Narkoba.”

Heru juga menjelaskan peta peyebaran narkoba beserta metode penyebarannya. Menurutnya, informasi ini diharapkan bisa mengatasi ketidaktahuan mahasiswa terhadap paparan penyebaran narkoba dan agar mahasiswa sebagai generasi muda bisa ikut andil dalam menghentikan proses penyebaran narkoba tersebut.

“Ancaman narkotika itu nyata, maka kita harus selalu waspada dan mengetahui bagaimana langkah-langkah dalam mengantisipasinya,” terangnya.



Dia menerangkan, saat ini penyebaran narkoba semakin sulit didedeteksi akibat perkembangan teknologi informasi yang bisa membuka celah bagi pelaku kejahatan untuk memproduksi atau mengedarkan narkoba dengan lebih mudah. Media yang selama ini dipakai adalah surface web market, atau melalui media sosial, kemudian deep web market dilakukan melalui jaringan internet tersembunyi yang sangat sulit dilacak, dan yang baru-baru ini dipakai melalui crypto-cyber yang sangat sulit dilacak karena pembayarannya melalui bitcoin.

Tidak kalah penting, ia memaparkan angka prevalansi penyalahgunaan narkoba di Indonesia berada pada kisaran angka 1.7 – 2.2% atau sekitar 3 – 5 juta jiwa. “Angka ini merupakan ambang batas kritis yang harus dikendalikan dan ditekan supaya tidak terjadi peningkatan kasus penyalahgunaan narkoba,” tambahnya.

Dalam pemberantasan narkoba, BNN menggunakan strategi defence active yaitu dengan cara pencegahan dan pemberatasan peredaran gelap bagi para sindikat narkoba, kemudian pencegahan penyalahgunaan bagi masyarakat publik, serta pemberantasan penyalahgunaan dan pemulihan/rehabilitasi bagi para pecandu. 

Winarko juga mengingatkan kembali mengenai Tri Dharma Perguruan Tinggi dan kaitannya dalam Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN). Poin pertama dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu, pendidikan dan pengajaran karena perguruan tinggi meupakan garda terdepan dalam menyelamatkan bangsa dari berbagai ancaman termasuk narkoba. 

Kemudian perguruan tinggi juga memiliki peran penelitian dan pengembangan yaitu mencari cara atau metode yang tepat dalam P4GN meninjau berbagai aspek seperti hukum, kesehatan, sosiologi dan psikologi. Dan peran terakhir dari perguruan tinggi adalah pengabdian masyarakat hal ini bisa di wujudkan dengan cara berkontribusi nyata, termasuk pemberdayaan masyarakat anti narkoba.

Tak lupa, dalam kuliah umum tersebut ia juga mengajak seluruh cendekiawan dari berbagai latar belakang untuk bersama memerangi kasus penyalahgunaan narkoba dari berbagai aspek.

Sebelumnya, kuliah umum tersebut dibuka terlebih dahulu oleh sambutan Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Kadarsah Suryadi, DEA., yang menyampaikan terkait tren yang sedang dan akan terjadi pasca revolusi industri 4.0. Pertama, ialah terjadinya demokratisasi akses informasi dan pengetahuan. “Untuk itu kita harus bisa memfilter banyaknya informasi yang muncul,” ujarnya.



Kedua, diprediksi pada 2035 Indonesia akan memiliki bonus demografi. Melalui momentum tersebut diharapkan generasi muda saat ini akan menjadi harapan bangsa dalam mengisi bonus demografi tersebut. “Jangan terjadi disaster demografi. Jadilah insan yang menjadi harapan bangsa dalam memajukan bangsa Indonesia,” ungkapnya.

Reporter: Salsabila Tantri Ayu (Kimia, 2016)