Berita / Utama

Technology Transfer Office di Perguruan Tinggi untuk Perencanaan Pembangunan Nasional

Adi Permana - Rabu, 9 Oktober 2019, 19:38:40 - Diperbaharui : Kamis, 10 - Oktober - 2019, 07:11:28

*Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Prof. Bambang Brodjonegoro di acara ITB CEO NET 2019. (Foto: Adi Permana/Humas ITB)


BANDUNG, itb.ac.id -- Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Prof. Bambang Brodjonegoro menyampaikan bahwa Visi Pembangunan Indonesia 2045 adalah menjadi negara berpendapatan tinggi dan ekonomi terbesar dunia. Ini ditandai dengan proyeksi meningkatnya PDB per kapita tahun 2036 yang akan mencapai USD 13.162 hingga USD 23.199 pada tahun 2045.

Demikian disampaikan Prof. Bambang dalam acara ITB CEO Net 2019 di Aula Barat Kampus ITB, Jalan Ganesa No. 10 Bandung, Selasa (1/10/2019) lalu. Topik yang disampaikan Prof. Bambang yakni implementasi pembangunan nasional dengan Technology Transfer Office (TTO) yang diharapkan menjadi sarana bagi akademisi dari berbagai universitas untuk dapat mengembangkan riset bersama dunia industri menuju ranah komersial atau terapan.

Berbicara tentang Visi Pembangunan Indonesia 2045, menurutnya, target tersebut bisa tercapai dengan cara memanfaatkan revolusi industri 4.0 sesuai dengan karakteristik masing-masing industri untuk peningkatan efisiensi, meningkatkan produktivitas tenaga kerja, memajukkan teknologi yang dimanfaatkan untuk mempercepat pembangunan ekonomi, dan mengubah struktur ekonomi serta kemajuan teknologi yang berpengaruh pada struktur tenaga kerja.

Lebih lanjut, ia mengatakan, Indonesia masih memiliki titik lemah pada jumlah belanja penelitian dan pengembangan karya (litbang) serta masih rendahnya kekayaan intelektual dalam paten jurnal ilmiah dan inovasi. “Kalau saya perhatikan tampaknya ITB masih perlu kerja keras dan lebih aktif untuk memperbanyak temuan dan inovasi yang merujuk kepada paten yang menghasilkan produk yang memiliki nilai komersial dan bermanfaat untuk masyarakat,” ujarnya. 

Dirinya juga menekankan bahwa pilar pembangunan Indonesia 2045 sendiri sangat bergantung pada pembangunan manusia yang unggul, berbudaya, dan menguasai iptek. Lalu diikuti dengan pembangunan ekonomi berkelanjutan, pemerataan pembangunan yang merata dan inklusif, serta pemantapan ketahanan nasional dan tata kelola pemerintahan guna membentuk negara yang demokratis, kuat, dan bersih.

Berfokus pada program pembangunan iptek, Prof. Bambang menjelaskan kerangka empat aspek yang menjadi fokus dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2020-2024 yang dirumuskan oleh Bappenas, yakni penguatan kontribusi iptek dan inovasi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan sesuai bidang prioritas, pengembangan research-power house, peningkatan jumlah kualitas belanja litbang, dan penciptaan ekosistem inovasi dengan perintisan fungsi TTO dalam manajemen inovasi di perguruan tinggi. 

Dalam mendukung hal tersebut, menurutnya perguruan tinggi berperan sentral dalam membangun kapabilitas adopsi teknologi penciptaan inovasi dan pusat penelitian dan pengembangan iptek disamping menyiapkan SDM yang berkualitas dan berdaya saing. 

Prof. Bambang melanjutkan, dalam menghadapi teknologi disruptif revolusi industri 4.0, keterampilan abad ke-21 yang harus dimiliki sivitas akademika yakni literasi yang berfondasi dalam komputasi dan manajemen keuangan, kompetensi profesional seperti berpikir kritis dan kreatif, serta karakter berkualitas seperti kepekaan sosial.

“Untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam ekonomi berbasis inovasi tersebut, salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah melalui kerjasama perguruan tinggi dengan industri dan pemerintah terutama dalam riset inovasi yang dapat menghasilkan produk inovatif dan bernilai komersial,” jelasnya.

“Sejalan dengan tema acara ini di mana terdapat eksibisi startup-startup mahasiswa ITB, entrepreneurial mindset menjadi katalis utama dalam pengembangan inovasi serta adanya inkubator teknologi dan bisnis menjadi wahana para entrepreneur mengembangkan hasil invensi menjadi produk bernilai daya jual,” sambungnya.

Menurutnya, selama ini masih terdapat permasalahan dalam alih teknologi dan komersialisasi di mana kelembagaan inovasi pada struktur TTO tumpang tindih dengan inkubator dan kapasitas pengelolaan yang terbatas. Oleh karena itu, perlu dibagi peran antara TTO untuk mendorong alih teknologi dari luar negeri (reverse engineering) dan flagship project.

Terakhir, dirinya sangat mengapresiasi akan adanya acara ITB-CEO Net 2019 ini. Ia pun berharap kedepannya perguruan tinggi dapat menjadi pemain utama penguatan inovasi nasional berdasarkan keunggulan masing-masing dan pada akhirnya akan berkontribusi secara signifikan dalam pembangunan nasional.

Reporter: Salsabila Mayang Febriana (Manajemen 2020)