Berita / Utama

Kembangkan Masker Berbahan Dasar Limbah, Tim ITB Juara Innovative Material Engineering Competition 2019

Adi Permana - Selasa, 8 Oktober 2019, 14:31:50 - Diperbaharui : Jumat, 11 - Oktober - 2019, 14:18:23

*Foto: Dok. Pribadi


BANDUNG, itb.ac.id – Tiga mahasiswa Teknik Material ITB berhasil menjadi juara 1 pada Innovative Material Engineering Competition 2019. Lomba karya tulis ilmiah skala nasional tersebut diselenggarakan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya pada 24 – 25 September 2019 lalu.

IMEC 2019 mengusung tema “Peran Inovasi Material dalam Revolusi Industri 4.0 di Indonesia”. Pada kompetisi ini, tim dari ITB yang beranggotakan Ilham Octiano (MT 15), Hening Puji Pangastuti (MT 15), dan Farhandra Ramdhani (MT 15) berhasil masuk final dan bersaing dengan peserta lain dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, Universitas Indonesia, dan Universitas Riau.

Sejalan dengan tema yang ditentukan, pada kompetisi tersebut, Ilham dkk. membuat penelitian tentang biomask, yaitu masker yang bahan-bahan dasarnya dibuat dari limbah. “Kami mencoba menggabungkan fungsi tabir surya dan masker. Sehingga kami membuat biomask yang bahan dasarnya seperti nanoselulosa dari limbah pisang, kitosan dari limbah cangkang udang, dan biomassa english ivy. Bahan-bahan ini telah mencakup fungsi sebagai masker, anti-mikroba, serta anti-UV”, jelas Ilham. Nanoselulosa, kitosan, dan biomasaa english ivy sendiri merupakan bahan dasar untuk pembuatan masker.

Ia menambahkan, keunggulan dari biomask ini yakni menggabungkan dua produk sekaligus, masker dan tabir surya. Tabir surya berfungsi untuk perlindungan kulit terhadap sinar ultraviolet, sementara masker berfungsi menjaga kelembapan kulit dan anti mikroba. “Secara industri, biomask menggunakan material dari limbah sehingga proses produksi lebih efisien. Ditinjau dari aspek lingkungan, produk ini berbahan biodegradable material sehingga tidak menghasilkan dampak berbahaya jangka panjang. Serta dari aspek ekonomi, produk ini diharapkan mampu bersaing secara kompetitif,” katanya.

Anggota tim lain, Hening, menerangkan secara rinci mengenai desain dan pengaplikasian produk biomask, “Desain produk biomask ini seperti sheet mask yang digunakan sebelum beraktivitas di luar. Masker ini akan melembapkan dan memberi nutrisi pada kulit sekaligus mengandung active agent yang masuk ke kulit berperan sebagai anti-UV. Sehingga setelah penggunaan masker, kita tidak perlu mengaplikasikan tabir surya lagi,” sambungnya.

Meski ketiga anggota tim merupakan mahasiswa tingkat akhir, namun hal ini tidak menyurutkan semangat ketiganya dalam berkarya dan berkompetisi. Bagi mereka, kesempatan dan pengalaman sebelum lulus ini sangat berharga mengingat sebelumnya beberapa anggota tim belum memiliki pengalaman dalam kompetisi apapun.

“Salah satu yang paling memotivasi saya sebenarnya adalah mencoba segala hal sebelum lulus dari status mahasiswa. Saat ini yang belum saya coba adalah berkompetisi, maka bagi saya tidak ada salahnya mencoba,” tutur Andra.

Pada akhir sesi wawancara dengan reporter Humas ITB, tim menyampaikan pesan dan motivasi bagi mahasiswa ITB lain bahwa kesempatan untuk berkarya dan berkompetisi merupakan satu hal yang wajib dicoba setiap mahasiswa sebelum mendapat gelar sarjana. Bagi mereka, pencapaian ini merupakan pengalaman berharga, dan setiap mahasiswa berhak merasakan hal luar biasa ini.

Reporter : Annisa Nur Diana (Teknik Lingkungan 2015)