Berita / Utama

ITB Selenggarakan Kajian Terpadu Kegunungapian Indonesia

Adi Permana - Jumat, 13 September 2019, 16:45:39 - Diperbaharui : Senin, 16 - September - 2019, 14:39:57


*Foto: Dok. Panitia


BANDUNG, itb.ac.id -- Institut Teknologi Bandung mengadakan lokakarya bertajuk “Kajian Terpadu Kegunungapian Indonesia” di Auditorium CC Timur ITB, Kamis (29/8). Banyaknya aktivitas vulkanis dan gempa selama bulan Agustus lalu menginisiasi  lokakarya ini yang diadakan oleh Fakultas Teknik Pertambangan dan Peminyakan (FTTM) dan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB).

Kegiatan ini menghadirkan beberapa narasumber lintas profesi dan keahlian, salah satunya guru besar Geofisika FTTM ITB, Prof. Sri Widiyantoro M.Sc.,Ph.D. Pada sesi “Integrated Studies of Volcano Activity in Indonesia”, Sri Widiyantoro yang memiliki nama panggilan Ilik ini, membahas perkembangan penelitiannya mengenai aktivitas dan struktur magma Gunung Agung dan Gunung Batur, Bali. Penelitian yang bekerja sama dengan PEER USAID (Partnerships for Enhanced Engagement in Research) ini bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan penduduk setempat dengan deteksi dini aktivitas vulkanik. Widiyantoro berharap penelitian ini dapat segera dipublikasikan sehingga proyek dapat terus berjalan.

*Foto: Dok. Panitia

Pada sesi “Overview of Volcano Monitoring and Recent Volcanic Activity in Indonesia”, turut hadir Hendra Gunawan, Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api.  Hendra menjelaskan bahwa ada banyak gunung berapi tipe A di Indonesia, yaitu tercatat pernah mengalami erupsi magmatik sekurang-kurangnya satu kali sesudah tahun 1600. 

“Saat ini terdapat 127 gunung api aktif di seluruh Indonesia dan ada banyak masyarakat yang hidup di gunung tipe A. Contohnya di Gunung Karangsetang, gunung api paling berbahaya di Indonesia, pemukiman penduduk berjarak 2,5 km  sedangkan jangkauan lahar panas 1,7 km. Jika tidak ada pemberitahuan dini, akan sulit untuk mengevakuasi masyarakat,” tuturnya. 

“Sejak gempa bumi yang lalu awal Agustus lalu, Badan Geologi memiliki SOP baru yaitu semua informasi wajib disebarkan melalui smartphone agar cepat tersampaikan,” tutur Hendra. Pentingnya penyebaran informasi bencana mendorong Badan Geologi bersama ESDM meluncurkan Magma Indonesia, website pemantau aktivitas vulkanis nasional. Website ini dapat diakses oleh masyarakat dan terintegrasi langsung dengan satelit. 

Namun, dari total 68 lokasi gunung berapi, baru 32 lokasi gunung yang terpantau satelit. Hendra berharap kedepannya peneliti dan pemerintah daerah dapat lebih bekerja sama dalam penyebaran informasi sehingga pencegahan bencana dapat lebih optimal.

Reporter: Georgiana Maria (Desain Interior, 2017)