Berita / Utama

Mahasiswa ITB Raih Juara Satu Lomba Esai Tingkat Nasional pada Muneers Fest 2019

Adi Permana - Selasa, 10 September 2019, 11:32:20 - Diperbaharui : Selasa, 10 - September - 2019, 11:40:02

*Foto: Dok. Pribadi


BANDUNG, itb.ac.id – Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) mengadakan lomba esai tingkat nasional dengan judul CHEETAH (Chemical Engineering to Atmosphere) sebagai rangkaian acara pada Muneers Fest 2019. Mahasiswi Institut Teknologi Bandung, Jeanny dan Jolanda, dari Program Studi Teknik Kimia berhasil menjadi juara satu pada kompetisi tersebut di bawah bimbingan Dr. Ir. Melia Laniwati Gunawan, M.S. 

CHEETAH merupakan lomba esai tingkat nasional dengan tema “Industrial Transformation Strategy to Deal With Industry 4.0”, di mana lomba ini diperuntukkan untuk mahasiswa Teknik Kimia agar dapat menemukan solusi bagi masyarakat dalam menghadapi revolusi industri 4.0 dengan memanfaatkan sumber energi terbarukan. ITB berhasil menjadi juara setelah melalui tahap presentasi final pada Sabtu (24/08/2019) di Jakarta. Karya yang dibawakan oleh Jolanda Pretty Punyanan dan Jeanny Wijaya dalam memenangkan lomba ini adalah “Pemanfaatan Biomassa Mikroalga Sebagai Sumber Bahan Baku Biodiesel dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0.” 

Mereka mendapatkan informasi mengenai lomba esai tersebut dari media sosial milik BKKMTKI. Karena materi yang dilombakan mengenai revolusi industri dan energi terbarukan yang berkaitan erat dengan Teknik Kimia, maka mereka berdua memutuskan untuk mengikuti perlombaan tersebut. Selain itu, motivasi mereka adalah keinginan untuk mengaplikasikan ilmu yang sudah didapatkan dari perkuliahan.

“Sekarang kita sedang menghadapi revolusi industri 4.0 di mana semuanya serba digital dan proses – proses di pabrik juga didasarkan pada komputer. Dalam menghadapi revolusi industri 4.0, Indonesia telah menjalankan program bernama making indonesia 4.0, ini merupakan program dari Kementerian Perindustrian. Fokusnya di lima sektor manufaktur, salah satunya adalah industri kimia,” ujar Jolanda.

Dalam esainya, ia menjelaskan bahwa industri kimia melakukan pengolahan sumber daya alam menjadi energi, salah satunya adalah pengolahan BBM. Menurutnya, kita masih sangat bergantung dengan BBM, padahal jumlah BBM yang diproduksi di Indonesia tidak mencukupi. Ternyata, mikroalga juga bisa menjadi bahan baku biodiesel karena kandungan lipidnya tinggi. Hal ini didukung juga oleh jumlah mikroalga yang melimpah di Indonesia (perairan yang sangat luas dan iklim tropis dengan sinar matahari sepanjang tahun di Indonesia sangat mendukung kehidupan mikroalga buat berkembang biak). 

“Tetapi belum ada industri di Indonesia yang mengembangkan mikroalga menjadi biodiesel dan baru dilakukan percobaan pada skala lab karena teknologinya masih terbatas. Hal tersebut menjadi tantangan bagi mahasiswa agar dapat terus berinovasi demi kemajuan bangsa Indonesia dan mendukung kemandirian energi nasional,” Jolanda menambahkan. 

Dalam perjalanannya, tantangan yang mereka hadapi adalah komunikasi satu sama lain karena waktu tatap muka yang kurang dan lebih mengandalkan komunikasi secara online. “Kami harap kebutuhan bahan bakar masyarakat bisa terpenuhi serta masyarakat jadi tidak menyumbang emisi gas CO2 yang tinggi ke lingkungan lewat kendaraan,” ujarnya.
 
Jolanda dan Jeanny mengalami proses yang cukup panjang untuk bisa menjadi juara di dalam CHEETAH ini. Pada awalnya, dilakukan seleksi tahap pertama dengan mengumpulkan esai yang telah mereka buat. Setelah itu dilakukan pengumuman untuk 3 pasang finalis, termasuk Jolanda dan Jeanny. Setiap finalis harus mempresentasikan isi esainya dalam bentuk powerpoint di kampus UMJ pada Sabtu (24/08/2019). Dan setelah melalui seluruh tahapan tersebut, mereka akhirnya terpilih menjadi juara. 

“Harapannya, semoga teman – teman sesama pelajar bisa terus termotivasi untuk berinovasi dalam kemajuan pengembangan sumber energi di Indonesia. Selain itu, gali ilmu sebanyak - banyaknya dan terus semangat dalam berinovasi di dalam segala hal karena kitalah calon-calon penerus bangsa,” tambahnya.

Reporter: Christopher Wijaya (Sains dan Teknologi Farmasi, 2016)