Berita / Penelitian

Prof. Trio Adiono Kembangkan Industri Design House Chip Pertama di Indonesia

Adi Permana - Kamis, 22 Agustus 2019, 12:05:02 - Diperbaharui : Jumat, 23 - Agustus - 2019, 16:48:42
*Prof. Trio Adiono, ST., MT., Ph.D (Foto: Adi Permana/Humas ITB)

BANDUNG, itb.ac.id – Industri elektronika merupakan salah satu sektor industri dengan nilai ekspor terbesar. Di negara maju, kontribusi sektor industri elektronika pada GDP sangat signifikan. Namun demikian, Indonesia belum mandiri dalam komponen elektronika. Padahal, expert elektronika di Indonesia telah banyak belajar untuk mendesain, namun dalam skala industri, di Indonesia masih minim. Hal inilah yang mendorong Prof. Trio Adiono, ST., MT., Ph.D untuk mengembangkan industri design house pertama di Indonesia.

Tertarik Elektronika Sejak Kecil
Saat diwawancarai oleh reporter humas ITB pada Senin (19/8/2019) di Pusat Elektronika ITB, Gedung PAU lantai 4 ITB Kampus Ganesha, Prof. Trio Adiono sangat antusias menguraikan perjalanan dan pengalamannya mengembangkan mikroelektronika di Indonesia. Dimulai sejak 1994 di ITB, penelitian tugas akhir serta tesis yang ia kerjakan mengusung topik desain chip dan prosesor. Ia selanjutnya mendalami mikroelektronika lebih lanjut di Tokyo Institute of Technology pada jenjang S3. Setelah menyelesaikan program doktor dan post-doctoral, ia bekerja di perusahaan design house chip di Jepang.

“Waktu kecil, bagi saya elektro itu sesuatu yang canggih dan menarik, karena bisa mengubah sesuatu yang tidak bergerak menjadi bergerak, sesuatu yang tidak terkontrol menjadi dapat dikontrol,” ungkap Prof. Trio Adiono.

Berbekal pengalaman yang telah ditekuni, ia pun memutuskan kembali ke Indonesia untuk merealisasikan keinginan membangun industri elektronika di Indonesia.

Industri Design House Chip Pertama 
Keinginan kuat untuk mengembangkan produk teknologi tinggi akhirnya dapat terealisasi. Indonesia yang selama ini hanya berperan sebagai “tukang jahit” dalam dunia mikroelektronika, akhirnya dapat menjadi desaner sendiri. Industri yang dikembangkan oleh Prof. Trio Adiono akhirnya membuat Indonesia mampu mendesain chip di dalam negeri. 

Perusahaan yang bernama PT. Xirka Silicon Technology merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perancangan chipset semiconductor. Perusahaan ini merupakan industri design house chip pertama di Indonesia. Industri design house adalah industri yang fokus mendesain komponen elektronika, sehingga dapat dikatakan sebagai pemilik produk.

*Produk Kartu Pintar dengan Chipset Buatan Indonesia (Foto: Dok. Pribadi)

Beberapa produk yang telah dihasilkan yakni 4G/WiMax, smart card, dan chip IoT. Produk smart card yang dikembangkan telah digunakan di beberapa universitas seperti Institut Teknologi Bandung, Universitas Hassanuddin, Universitas Indonesia, Universitas Telkom dan Universitas Riau.

Tantangan Industri Elektronika
Menurut Prof. Trio Adiono, kesulitan utama dalam membangun industri design house chip adalah pemasaran. Fakta yang dihadapi, produk-produk Indonesia yang dijual dalam negeri justru mengalami kesulitan dalam penjualan. 

“Tantangan dalam industri hi-tech di Indonesia, apabila tidak ada campur tangan regulator maka akan cukup sulit. Hal ini dikarenakan kita head-to-head dengan perusahaan-perusahaan besar skala internasional. Mereka memiliki efisiensi kerja besar sehingga bisa menjual dengan harga lebih murah, hal ini yang menjadi tantangan bagi kita,” jelas Prof. Trio Adiono.

Dari hal teknis, human resource dari Indonesia masih perlu ditingkatkan dari segi kualitas dan kuantitas. Jumlah talent di bidang ini masih minim dan belum mencapai critical mass.

Ditanya mengenai harapan, Prof. Trio Adiono menjelaskan, “Semoga ada produk yang telah diterima masyarakat Indonesia, menjadi booming, banyak bermanfaat dan digunakan masyarakat karena kebutuhan. Sehingga dapat menarik industri-industri lainnya agar dapat berkembang di Indonesia”.

Ia juga berpesan kepada para mahasiswa, “Buatlah sesuatu sampai akhir, hingga selesai sempurna. Karena insyaaAllah apa yang kita kerjakan akan bermanfaat. Bukan hanya fokus, harus istiqomah,”pungkasnya.

Reporter : Annisa Nur Diana (Teknik Lingkungan 2015)