Berita / Utama

Peneliti ITB Bersama Para Geologist Inggris Lakukan Penelitian Anak Krakatau

Adi Permana - Jumat, 16 Agustus 2019, 13:09:47 - Diperbaharui : Rabu, 21 - Agustus - 2019, 22:13:05

*Foto: Irfan Ibrahim

BANDUNG, itb.ac.id – Institut Teknologi Bandung bersama para Geologist dari Inggris melakukan penelitian di Gunung Anak Krakatau pada 7-12, Agustus 2019. Kegiatan ini merupakan bentuk implementasi dari MoA (Memorandum of Agreement) antara Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB dengan University of Oxford.


Peneliti dari ITB yang mengikuti kegiatan tersebut yaitu Dr. Eng. Mirzam Abdurrachman, ST., MT., sebagai Dosen di FITB. Selain peneliti dari University of Oxford, ikut terlibat pula peneliti dari instansi lainnya di Inggris yaitu University of Birmingham dan British Geological Survey.

Peneliti dari Inggris tersebut di antaranya yaitu Sebastian Watt (University of Birmingham), Michael Cassidy (University of Oxford), Amber L. Madden-Nadeau (Mahasiswa S3-University of Oxford), dan Samantha Engwell (British Geological Survey). Sementara dari ITB selain Dr. Eng. Mirzam Abdurrachman juga turut serta Muhammad Edo Marshal Nurshal (mahasiswa S2 Geologi ITB) dan Irfan Ibrahim (mahasiswa S1 Geodesi dan Geomatika ITB).

Menurut Mirzam Abdurrachman, kegiatan penelitian ini secara garis besar bertujuan untuk menganalisis proses terjadinya letusan Anak Krakatau tahun 2018 lalu serta komparasinya dengan letusan Krakatau tahun 1883. Kegiatan yang dilakukan langsung di Selat Sunda, tempat di mana Anak Krakatau berada, berupa observasi serta pengambilan sampel deposit hasil letusan gunung api serta tsunami.

Selanjutnya, ia menjelaskan, dari sampel deposit yang diambil lebih kurang nantinya akan dianalisis tebal dari setiap layer deposit yang terbentuk. Menurutnya hal tersebut nantinya akan merepresentasikan energi dari letusan gunung api yang terjadi. Kemudian, secara keilmuan geokimia nantinya dapat dianalisis komposisi dari sampel endapan hingga pada hasil akhirnya dapat mengestimasi parameter fisis dari letusan gunung api yang terjadi. Diantara parameter fisis tersebut berupa kecepatan, tekanan, dan temperatur.

*Foto: Irfan Ibrahim

Dalam menunjang proses observasi pada kegiatan ini dan bagi kemudahan untuk analisis, maka juga dilakukan pengambilan foto udara menggunakan pesawat tanpa awak menggunakan drone. Lebih lanjut, foto udara yang diambil diharapkan memudahkan analisis untuk dua parameter yaitu ketinggian area yang terkena dampak erupsi gunung api berupa awan panas, kemudian juga visualisasi secara lateral agar nantinya dapat dilihat persebaran area terdampak erupsi gunung api beserta arahnya.

“Kegiatan yang bersifat kolaboratif ini sangat membantu kami (peneliti dari Inggris) karena memberikan pengetahuan baru tentang Anak Krakatau serta pengalaman. Sangat menarik,” ungkap Michael Cassidy saat wawancara Reporter Humas ITB mengenai tanggapannya terkait kegiatan ini.

Michael juga melanjutkan sangat tepat mempelajari vulkanologi di Indonesia karena aktivitas vulkanisme di Indonesia terbilang dinamis. Sementara dari negara asalnya sendiri, Inggris, tidak terdapat gunung api.

Selain kegiatan pada Gunung Api Anak Krakatau yang terletak di Selat Sunda, di sekitar lokasi Titik Nol Anyer-Panarukan juga dilakukan observasi lapangan untuk melihat serpihan Menara Suar Cikoneng yang hancur akibat tsunami akibat letusan Krakatau tahun 1883. Menurut Dosen Program Studi Teknik Geologi tersebut, dari hasil observasi dapat dilihat betapa besarnya letusan Krakatau pada tahun tersebut.

Selanjutnya di sekitar Pantai Carita, yang merupakan pantai terkena dampak letusan Krakatau 1883 juga dilakukan observasi terhadap deposit yang ada. Sama dengan deposit yang diobservasi sebelumnya, kali ini juga merupakan hasil dari erupsi Krakatau pada letusan tahun tersebut.

“Harapannya dari kegiatan ini kita bisa saling berkolaborasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan berbagi satu sama lain. Di mana nanti di akhir kegiatan ini mereka (para peneliti dari inggris) akan melakukan presentasi terhadap temuannya di lapangan dan dilanjutkan dengan diskusi terbuka,” pungkas Mirzam Abdurrachman.

Reporter: Irfan Ibrahim (Teknik Geodesi dan Geomatika, 2016)